KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Saham emiten di sektor teknologi masih jadi bandul pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang tahun 2022.
Buktinya, sejumlah saham emiten teknologi masih menghiasi papan laggard di Bursa Efek Indonesia (BEI).
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Saham emiten di sektor teknologi masih jadi bandul pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang tahun 2022.
Buktinya, sejumlah saham emiten teknologi masih menghiasi papan laggard di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Setelah IHSG mengalami tekanan tajam dalam beberapa kesempatan, tingkat kepercayaan investor ritel ikut menurun.
Emiten menara telekomunikasi ini memproyeksi, kenaikan pendapatan dan EBITDA tahun 2026 mengikuti pertumbuhan industri menara telekomunikasi.
Saham emiten berkapitalisasi besar atau big caps di Bursa Efek Indonesia jadi pemberat kinerja IDX Kompas100 sejak awal 2026.
Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian terpuruk. Mirae Asset Sekuritas berpotensi memangkas target IHSG di 2026.
Di sepanjang tahun berjalan 2026 atau year to date (YtD), seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja negatif
Ketidakpatuhan yang berujung pada peluang memperoleh perlindungan khusus, akan merusak insentif kepatuhan pajak jangka panjang.
Proyek hilirisasi INCO diprediksi dorong laba di 2026. Analis pun memasang rekomendasi beli saham INCO
Rupiah merosot 0,31% ke Rp 17.907 per dolar AS. Faktor domestik dan arah kebijakan moneter The Fed menjadi penentu pergerakan rupiah.
Pasar keuangan berpeluang membaik, namun ketidakpastian global tetap tinggi. Simak strategi diversifikasi aset dari untuk semester II 2026.
Lima hari terakhir, net sell hampir mencapai Rp 4 triliun. Nilai tukar rupiah juga masih berada dalam tekanan.