Melek Digitalisasi, Upaya Koperasi Mengembangkan Potensi Diri

Rabu, 23 Oktober 2019 | 12:05 WIB
Melek Digitalisasi, Upaya Koperasi Mengembangkan Potensi Diri
[ILUSTRASI. Anggota Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) memanfaatkan teknologi digital.]
Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di usia ke 55 tahun, Adang Shalahuddin bakal makin sibuk. Jika pada usia tersebut kebanyakan orang bimbang memasuki masa pensiun, Adang justru makin aktif dalam perannya sebagai sekretaris Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pengalengan.

Bukan tanpa sebab, koperasi yang beranggotakan 4.500 para peternak sapi di tiga kecamatan di Kabupaten Bandung ini, merupakan induk perusahaan (company holding) bagi empat anak usahanya yang lain. Jangan Anda bayangkan, KPBS merupakan koperasi konvensional dengan bisnis ala kadarnya.

Adang mengatakan, keempat anak usaha KPBS terdiri dari PT Bank Perkreditan Rakyat Bandung Kidul, PT Susu KPBS Pengalengan (SKP), PT Ultra Peternakan Bandung Selatan (UPBS), dan PT Rumah Sakit KPBS.

KPBS yang berdiri sejak tahun 1969 itu, kini telah memiliki total aset senilai Rp 132 miliar. "Per bulan, pendapatan koperasi KPBS berkisar Rp 25 miliar hingga Rp 35 miliar," tutur Adang kepada KONTAN, Senin (21/10).

Adang sendiri, sudah sejak 10 tahun lalu menjadi anggota KPBS. Awalnya, dia menjadi karyawan di koperasi ini. Kini di usia lebih dari separuh abad, Adang sudah memiliki 40 ekor sapi perah yang menjadi pendapatan utama keluarga, selain kegiatan bertani.

KPBS telah memberikan berkah bagi para peternak dan pekerjanya. Seperti Adang, dia sukses menyekolahkan ketiga anaknya hingga tingkat perguruan tinggi. "Ketiganya sudah lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB)," ujar Adang sumringah.

Kisah Adang yang sukses bersama koperasi, tentu akan membuka lebar persepsi masyarakat tentang koperasi. Data Kementerian Koperasi dan UKM hingga September 2019 menyebutkan Koperasi Telekomunikasi Selular Kisel sebagai koperasi dengan pendapatan tertinggi saat ini, yakni sebesar Rp 5,73 triliun setahun (lihat tabel).

Daftar 10 Besar Koperasi Dengan Omset Tertinggi 2018
Nama Koperasi Omset (Rp triliun)
Koperasi Telekomunikasi Selular Kisel 5,73
Koperasi Simpan Pinjam Jasa (Kospin Jasa) 3,90
Koperasi Kesehatan Pegawai dan Pensiunan Bank Mandiri 2,52
Koperasi Warga Semen Gresik KWSG 2,41
Koperasi Baitul Maal wat Tamwil Maslahah 2,04
Koperasi Kredit CU Lantang TIPO 2,02
Koperasi Kredit CU Pancur Kasih 1,56
Koperasi Simpan Pinjam Nusantara 1,06
Koperasi Kredit CU Keling Kumang 0,95
Koperasi Karyawan Keluarga Besar Petrokimia Gresik 0,74

Keterangan: Data Kementerian Koperasi dan UKM

KPBS memang tidak masuk daftar 10 besar koperasi dengan omset terbanyak di Indonesia. Namun adaptasi dengan teknologi, memantapkan pondasi KPBS untuk terus mewujudkan harapan para anggotanya.

Penerapan digitalisasi

Kata Adang, KPBS membangun sebuah sistem yang mereka sebut enterprise resources planning (ERP). Sistem digitalisasi yang dikembangkan KPBS sejak 2 tahun lalu itu bertujuan memberikan pelayanan bagi anggotanya secara terintegrasi.

Saat ini KPBS telah mendigitalisasi penyimpanan data (cloud server). Koperasi ini juga mendigitalisasi penerimaan susu dari anggota (peternak) melalui sistem milk collection point mobile (MCPM) dan milk collection point (MCP).

MCP sendiri berfungsi untuk menjaga jumlah bakteri yang terkandung dalam susu atau total plate count (TCP) dalam kadar serendah mungkin. Semakin rendah nilai TPC yang terkandung di dalam susu segar, maka kualitas dan harga susu bakal semakin tinggi. Peternak akhirnya akan mendapat imbalan sesuai kualitas susu yang dihasilkan sapi-sapi mereka.

Sedangkan sistem MCPM akan memudahkan para peternak untuk mengetahui jumlah susu yang diproduksi secara akurat beserta pendapatan yang bakal diperolehnya.

Digitalisasi juga diterapkan KPBS dalam hal pendistribusian pakan, pelayanan kesehatan hewan dan digitalisasi informasi pendapatan serta simpanan para anggota.

Kata Adang, ERP ini masih terus dikembangkan. "Rencananya dua tahun ini selesai. Namun karena banyak sub modul yang masih dikembangkan, maka masih butuh waktu lagi," tutur Adang.

Saat ini, jumlah produksi susu KPBS mencapai 77 ton per hari yang diperah dari sekitar 7.000 ekor sapi. Adapun bila ditotal, jumlah sapi milik anggota koperasi mencapai 12.000 ekor.

KPBS memproduksi dua jenis produk, yakni susu segar dan susu olahan. Untuk susu segar, KPBS mengirimkan hasil produksinya ke sejumlah perusahaan. Diantaranya, PT Frisian Flag Indonesia produsen susu bendera; PT Indolakto produsen Indomilk; dan PT Ultrajaya Milk Industry produsen susu ultra.

Sedangkan untuk produk turunan dari susu, KPBS memproduksi sejumlah produk seperti keju, yoghurt, susu pasteurisasi. Produk-produk tersebut ada yang dijual langsung ke konsumen dengan cara konvensional, maupun lewat internet.

Adang menyatakan, kebutuhan produk susu di dalam negeri masih sangat besar. Kondisi ini tergambar dari total kebutuhan susu dalam negeri yang sebanyak 82%-nya dipenuhi dari impor. Hanya 18% yang mampu dipenuhi oleh peternak sapi perah di Indonesia.

Digitalisasi KPBS, salah satunya bertujuan untuk meningkatkan minat para peternak milenial. "Saat peternakan semakin modern, harapannya akan banyak anak muda yang terjun ke bisnis ini," tutur Adang.

Saat ini, jumlah pelaku usaha peternak usia muda di koperasi KPBS menurut Adang, tidak lebih dari 20%-25%. 

Dari sisi prestasi, sudah banyak penghargaan yang digaet oleh KPBS. Koperasi ini pada tahun 2017 silam, berhasil meraih tanda kehormatan Satyalancana Wirakarya dari Presiden Joko Widodo. Penghargaan tersebut diberikan pada acara Hari Koperasi Nasional ke-70 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Meski sudah menyabet banyak prestasi, Adang menyatakan industri peternakan sapi perah dalam negeri tetap membutuhkan perhatian dari pengambil kebijakan. "Di negara maju, produsen susu diproteksi. Kami juga berharap ada hal seperti itu di Indonesia," imbuh Adang

Waspada penumpang gelap

Fenomena keberadaan digitalisasi dalam berkoperasi, sejalan dengan rencana strategis (Renstra) Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop). Rully Indrawan, Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah menyatakan, ada tiga hal yang menjadi fokus kementeriannya.

Pertama, Go Formal. Lewat Go Formal, Kemenkop ingin pelaku perkoperasian yang belum memiliki izin, untuk taat peraturan. 

Selanjutnya yang kedua adalah Go Digital. "Lewat Go Digital, Kemenkop ingin pelaku koperasi semakin efektif dan efisien dalam melayani anggota maupun saat berbisnis," ujar Rully, saat dihubungi KONTAN, Rabu (16/10).

Adapun yang ketiga adalah Go Global. Go Global bermakna Kemenkop berkeinginan koperasi mengglobal. Rully mencontohkan anak usaha Kospin Jasa, PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS) yang menjual saham ke publik lewat penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data Kemenkop, jumlah total koperasi di Indonesia saat ini sebanyak 220.476 unit. Dari total jumlah tersebut, koperasi yang aktif berjumlah 125.236 unit (lihat tabel).

Data Koperasi Indonesia per Oktober 2019
Data Jumlah
Total jumlah koperasi (unit) 220.476
Koperasi aktif (unit) 125.236
Koperasi tidak aktif (unit) 95.240
Total Anggota Koperasi (jiwa) 710.236.215
Anggota Koperasi Laki-Laki (jiwa) 11.943.074
Anggota Koperasi perempuan (jiwa) 698.293.141
Koperasi dengan modal sendiri (Rp triliun) 77,85
Koperasi dengan modal pihak luar (Rp triliun) 77,69
Volume usaha (Rp triliun) 144,03
Sisa hasil usaha (Rp triliun) 5,88

Keterangan: Data Kementerian Koperasi dan UKM

Rully menegaskan, maraknya digitalisasi usaha perkoperasian tentu menjadi hal yang membanggakan. Namun dia juga mengingatkan agar pelaku usaha tidak terlena.

"Kami telah bekerjasama dengan Bareskrim Polri dan juga Badan Intelijen Negara (BIN) untuk mengantisipasi penipuan di bidang perkoperasian," tutur Rully.

Lebih lanjut Rully menyebutkan, urusan perkoperasian dan UKM melibatkan setidaknya 18 kementerian dan lembaga. Pihaknya siap berkoordinasi dengan semua lembaga terkait, guna mengembangkan dunia usaha koperasi di Indonesia.

Bagikan

Berita Terbaru

Daftar Emiten Buyback Saham Usai Efek MSCI, Sekadar Obat Kuat Hadapi Tekanan Asing
| Minggu, 01 Februari 2026 | 10:35 WIB

Daftar Emiten Buyback Saham Usai Efek MSCI, Sekadar Obat Kuat Hadapi Tekanan Asing

Dalam banyak kasus, amunisi buyback emiten sering kali tak cukup besar untuk menyerap tekanan jual saat volume transaksi sedang tinggi-tingginya.

Pola di Saham NCKL Mirip Saham BUMI, Perlukah Investor Ritel Merasa Khawatir?
| Minggu, 01 Februari 2026 | 08:35 WIB

Pola di Saham NCKL Mirip Saham BUMI, Perlukah Investor Ritel Merasa Khawatir?

Periode distribusi yang dilakoni Glencore berlangsung bersamaan dengan rebound harga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Transparansi Pemilik di Bawah 5%, Kunci Kotak Pandora Dugaan Manipulasi Harga Saham
| Minggu, 01 Februari 2026 | 08:26 WIB

Transparansi Pemilik di Bawah 5%, Kunci Kotak Pandora Dugaan Manipulasi Harga Saham

Transparansi pemegang saham di bawah 5%, titik krusial permasalahan di pasar modal. Kunci kotak pandora yang menjadi perhatian MSCI. 

Strategi Investasi Fajrin Hermansyah, Direktur Sucorinvest Asset Management
| Minggu, 01 Februari 2026 | 07:13 WIB

Strategi Investasi Fajrin Hermansyah, Direktur Sucorinvest Asset Management

Investasi bukan soal siapa tercepat, karena harus ada momentumnya. Jika waktunya dirasa kurang tepat, investor harusnya tak masuk di instrumen itu

Spin-off Unit Syariah Bukan Sekadar Kepatuhan, Struktur Modal BNGA Bakal Lebih Solid
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:58 WIB

Spin-off Unit Syariah Bukan Sekadar Kepatuhan, Struktur Modal BNGA Bakal Lebih Solid

Pemulihan ROE BNGA ke kisaran 12,8% - 13,4% pada 2026–2027 bersifat struktural, bukan semata siklikal.

Diskon Transportasi Belum Cukup Buat Sokong Ekonomi
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:49 WIB

Diskon Transportasi Belum Cukup Buat Sokong Ekonomi

Pemerintah mengusulkan diskon tiket pesawat lebih tinggi dari periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun lalu yang berada di kisaran 13%-16%.

Incar Pertumbuhan, Medco Energi (MEDC) Genjot Produksi Migas dan Listrik
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:39 WIB

Incar Pertumbuhan, Medco Energi (MEDC) Genjot Produksi Migas dan Listrik

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) memasang target kinerja operasional ambisius pada 2026, baik di segmen migas maupun listrik.​

Surplus Neraca Dagang Bakal Menyusut
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:36 WIB

Surplus Neraca Dagang Bakal Menyusut

Kinerja impor bakal tumbuh lebih cepat seiring kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan dan meningkatkan kebutuhan barang modal serta bahan baku.

Masih Ada Peluang Cuan di Saham Lapis Kedua
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:32 WIB

Masih Ada Peluang Cuan di Saham Lapis Kedua

Menakar prospek saham-saham lapis kedua penghuni indeks SMC Composite di tengah gonjang-ganjing di pasar saham Indonesia.​

BPJS Ketenagakerjaan berencana kerek investasi saham
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:20 WIB

BPJS Ketenagakerjaan berencana kerek investasi saham

Menurut Direktur BPJS Ketenagakerjaan Edwin Ridwan, pihaknya memang sudah punya rencana untuk meningkatkan alokasi investasi di instrumen saham.

INDEKS BERITA

Terpopuler