Melihat Indonesia Pasca Disalip Singapura Sebagai Bursa Terbesar ASEAN

Jumat, 22 Mei 2026 | 07:38 WIB
Melihat Indonesia Pasca Disalip Singapura Sebagai Bursa Terbesar ASEAN
[ILUSTRASI. Usai Dilantik, Ketua DK OJK Friderica Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Sistem Keuangan (KONTAN/Selvi Mayasari)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi pasar saham Indonesia sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara, resmi tergeser. Setidaknya begitulah yang digambarkan oleh Bloomberg dalam artikel terbarunya yang berjudul "Singapore Tos Indonesia as Biggest Southeast Asia Stock Market" yang tayang pada 20 Mei 2026.

Dalam laporan tersebut, dijabarkan bahwa kapitalisasi pasar saham Singapura yang mencapai sekitar US$ 645 miliar melampaui pasar Indonesia yang berada di angka US$ 618 miliar pasca koreksi dalamnya di Januari 2026.

Padahal, secara ukuran ekonomi, Indonesia jauh lebih besar daripada Singapura. Hal tersebut dilihat dari gross domestic product (GDP) masing-masing negara, di mana Indonesia menempati angka GDP sebesar US$1,5 triliun sedangkan Singapura ada di angka US$ 660 miliar.

Baca Juga: Bursa Saham Semakin Suram Akibat Kebijakan Tak Nyaman

Perubahan posisi ini menjadi perbincangan karena tidak hanya angka kapitalisasi pasar yang berbeda, tetapi juga posisi ini mencerminkan pula bagaimana investor internasional menilai stabilitas ekonomi, kepastian kebijakan, reformasi pasar modal, hingga kualitas tata kelola di masing-masing negara, sebagaimana yang dijabarkan oleh penulis Bloomberg, Bernadette Toh.

Di sisi lain, penilaian ini juga datang di tengah tekanan berat yang sedang dialami pasar saham domestik. Lihat saja pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (21/5), IHSG ditutup anjlok 3,54% ke level 6.094,94 dan menembus area psikologis 6.100. Penurunan ini terjadi saat mayoritas bursa Asia justru bergerak positif.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai perubahan posisi Indonesia dan Singapura tidak bisa dibaca secara sederhana hanya dari sisi pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, investor global saat ini jauh lebih sensitif terhadap faktor stabilitas dan kepastian dibanding beberapa tahun lalu.

“Investor global tidak hanya melihat ekonomi Indonesia, tetapi juga melihat stabilitas kebijakan, konsistensi regulasi, kualitas tata kelola, likuiditas pasar, serta kepastian arah reformasi pasar modal,” ujar Reydi kepada KONTAN, Kamis (21/5).

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Carsurin (CRSN) Tancap Gas Menyasar Industri Hijau
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:22 WIB

Carsurin (CRSN) Tancap Gas Menyasar Industri Hijau

CRSN menargetkan pertumbuhan pendapatan 22,4% dan EBITDA 36% di 2026. Perusahaan kini fokus ke ekonomi hijau, biru, dan transisi energi. 

Saham Komoditas Jadi Penyelamat IHSG, Arah Bursa Masih Rentan Ambruk
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:17 WIB

Saham Komoditas Jadi Penyelamat IHSG, Arah Bursa Masih Rentan Ambruk

Rumor penundaan kebijakan ekspor DSI dibantah pemerintah. Saham komoditas yang sempat melonjak kini berisiko.

Bom Waktu
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 07:10 WIB

Bom Waktu

Krisis tidak lahir dalam semalam, melainkan berasal dari akumulasi berbagai kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah.

Sinyal Alam yang Belum Kita Baca
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 07:05 WIB

Sinyal Alam yang Belum Kita Baca

Aksi lokal yang sudah berdampak global, seperti Pokmaswas harus bisa diakui dan dibiayai oleh arsitektur global.​

Tekanan Dolar AS Menguat: Rupiah, Rupee, Peso Makin Terjepit
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 07:00 WIB

Tekanan Dolar AS Menguat: Rupiah, Rupee, Peso Makin Terjepit

Mata uang Asia tertekan, rupiah jadi yang terburuk sebulan terakhir. Cari tahu faktor penyebab pelemahan ini dan prediksi hingga 2026.

Rupiah Terancam Anjlok Lebih Dalam: Sentimen Global Jadi Penentu
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 07:00 WIB

Rupiah Terancam Anjlok Lebih Dalam: Sentimen Global Jadi Penentu

Rupiah melemah 0,28% ke Rp 17.717/dolar AS. Ketahui faktor geopolitik dan kebijakan domestik yang terus menekan nilai tukar.

PHRI Dukung Penertiban Akomodasi Ilegal
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 06:56 WIB

PHRI Dukung Penertiban Akomodasi Ilegal

PHRI juga mendukung langkah pemerintah untuk mendesak pengelola platform OTA agar tidak lagi memasarkan akomodasi ilegal yang tak punya perizinan.

 Tertatih Mencari Investor 118 Wilayah Kerja Migas
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 06:52 WIB

Tertatih Mencari Investor 118 Wilayah Kerja Migas

Baru 8 wilayah kerja (WK) minyak dan gas (migas) yang terkontrak dari 118 WK yang dilelang oleh Kementerian ESDM

 Dari Perbankan ke Tambang Emas
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 06:44 WIB

Dari Perbankan ke Tambang Emas

Herwin Wahyu Hidayat meniti karier dari perbankan hingga menjadi Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk

Amankan Penerimaan, Penagihan Pajak Digencarkan
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 06:09 WIB

Amankan Penerimaan, Penagihan Pajak Digencarkan

Ditjen Pajak melakukan pemblokiran rekening para wakib pajak yang masih memiliki tunggakan          

INDEKS BERITA