Bom Waktu
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seolah mengikuti angka 08 yang identik dengan Presiden Prabowo Subianto, setelah delapan hari berturut-turut ambruk, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup menguat pada Jumat (22/5).
Kemarin IHSG melesat 1,1% ke 6.162,04. Indeks sempat menyentuh titik terendah di 5.966,86.
Sementara rupiah terus mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah. Kemarin rupiah tutup di Rp 17.717 per dolar AS. Gejolak saat ini bukan hal mengejutkan. Ibaratnya, bom waktu telah meledak.
Pasar sejak lama membaca risiko besar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Satu dekade pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) pembangunan infrastruktur dan proyek strategis memang mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun diikuti lonjakan utang negara yang sangat besar. Tambahan utang pemerintah selama era Jokowi sekitar Rp 5.800 triliun.
Beban tersebut menjadi warisan pemerintahan Prabowo Subianto yang sejak masa kampanye mengusung tagline "keberlanjutan".
Maka, transisi kekuasaan tidak sepenuhnya diikuti perubahan arah pemerintahan. Banyak figur era Jokowi masih bertahan di lingkar kekuasaan. Dari sektor ekonomi hingga Kapolri dan Panglima TNI.
Jangan lupakan Teddy Indra Wijaya. Sebelum menjadi ajudan Prabowo, Sekretaris Kabinet itu adalah ajudan Jokowi tahun 2014-2019.
Figur Jokowi paling jelas terlihat dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di tengah situasi yang sulit seperti sekarang, putra Jokowi itu aktif menjalankan agenda publik..
Terutama menyasar kalangan pelajar dan generasi muda—segmen yang akan menjadi pemilih baru di Pemilu 2029. Terbaru, ia mengundang peserta lomba cerdas cermat yang viral ke Istana Wakil Presiden.
Kondisi yang terjadi saat ini memunculkan persepsi, pemerintahan masih melanjutkan pola lama. Termasuk pendekatan berbasis utang dan belanja besar negara.
Beberapa sumber Kontan yang saya hubungi sudah memberikan banyak sinyal sejak masa Jokowi. Yakni kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia.
Pasar keuangan bekerja berdasarkan kepercayaan. Ketika investor melihat kombinasi antara utang besar, belanja negara yang membengkak, serta arah kebijakan yang belum memberi kepastian kuat, respons pasar cenderung negatif.
Ini menjadi pelajaran berharga: jangan buta politik. Kesalahan memilih pemimpin berdampak pada kehidupan seluruh negeri.
Krisis tidak lahir dalam semalam, melainkan akumulasi berbagai kebijakan. Ini menjadi bom waktu yang meledak kapanpun. Mengguncang ekonomi, sosial, hingga kepercayaan publik terhadap pemerintah.
