Melihat Prospek Kinerja AALI, Pasca Bayar Denda Rp 571 Miliar

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:00 WIB
Melihat Prospek Kinerja AALI, Pasca Bayar Denda Rp 571 Miliar
[ILUSTRASI. Pabrik kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (KONTAN/Nur Qolbi)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten sawit, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengeluarkan pernyataan bahwa Perseroan telah membayar denda sebesar Rp 571 miliar. Denda tersebut dilayangkan oleh Satuan Tugas penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).

AALI menjelaskan bahwa pengenaan denda itu dilatarbelakangi oleh perubahan peraturan tentang tata ruang di bidang kehutanan. Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan AALI Tingning Sukowignjo menyampaikan AALI menerima nota pemberitahuan hasil perhitungan denda administratif yang diterbitkan oleh Satgas PKH.

Denda yang dibayar senilai Rp 571 miliar tersebut tidak berdampak secara keuangan Perusahaan. "Sampai dengan saat ini, tidak ada imbas material terhadap performa finansial dan kegiatan operasional Perseroan," jelas Tingning dalam keterangan tertulis.

Pemberlakuan denda yang ditujukan kepada AALI sejak Desember 2025 lalu tersebut, dilihat dari akun resmi instagram satgaspkhofficial yang menjabarkan pihaknya telah memanggil sebanyak 83 perusahaan sektor sawit untuk memproses verifikasi administratif terkait dengan penerbitan kawasan hutan.

Baca Juga: Harga CPO Melejit, Laba Astra Agro Lestari (AALI) Tahun 2025 Melesat Dua Digit

Selain menjatuhkan denda, Satgas PKO juga melakukan penguasaan kembali lahan dari aktivitas ilegal. Dari jumlah luas 4,09 juta hektare (ha) lahan sawit ilegal, sebanyak 2,47 juta ha diserahkan kepada Kementerian Agraria, Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Satgas PKO juga melaporkan bahwa sebanyak 41 perusahaan sawit telah membayar denda sebanyak total RP 4,7 triliun, 8 tidak hadir dari panggilan satgas dan memiliki potensi denda sebesar Rp 4,21 triliun.

Lebih rinci, selain AALI, perusahaan yang juga dikenai denda antara lain adalah Best Agro Group senilai Rp 645, 33 miliar, BGA Group senilai Rp 116,15 miliar dan Surya Dumai Group RP 93,19 miliar. PT Mutiara Bunda atau Sampoerna Agri Group juga membayar denda sebesar Rp 965 juta, sementara Salim Group dikenai denda paling tinggi yakni Rp 2,33 triliun.

Sementara pada minggu lalu, AALI juga baru saja melaporkan hasil kinerja pada sepanjang 2025. Seperti apa yang disampaikan oleh manajemen sebelumnya, pembayaran denda tersebut memang tidaklah berimbas pada keuangan Perseroan.

Sepanjang 2025, AALI membukukan pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 27,83% yoy di angka Rp 1,47 triliun. Pada periode yang sama tahun 2024, AALI mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai Rp 1,15 triliun.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Pegadaian-KSEI Siap Luncurkan FTE Emas
| Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:50 WIB

Pegadaian-KSEI Siap Luncurkan FTE Emas

Langkah ini menjadi fondasi pengembangan Electronic Gold Receipt dan Exchange Traded Fund (ETF) Emas yang ditargetkan meluncur di semester II. 

Multi Bintang Indonesia (MLBI) Pacu Penjualan di Sisa Tahun
| Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:25 WIB

Multi Bintang Indonesia (MLBI) Pacu Penjualan di Sisa Tahun

Dalam mengakselerasi pertumbuhan, MLBI menjalankan sejumlah pilar utama salah satunya memperkuat kepemimpinan Bintang di segmen mainstream.

Berburu Tuah dari Piala Dunia
| Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:00 WIB

Berburu Tuah dari Piala Dunia

Di Indonesia, sepakbola merupakan olahraga yang merakyat, Piala Dunia tak ubahnya magnet atensi. Event ini menjadi kesempatan untuk para pebisnis

Kantongi US$ 75 Miliar, SpaceX Siap Tambah Dana IPO US$ 11,25 Miliar Lewat Greenshoe
| Sabtu, 13 Juni 2026 | 01:33 WIB

Kantongi US$ 75 Miliar, SpaceX Siap Tambah Dana IPO US$ 11,25 Miliar Lewat Greenshoe

SpaceX sukses meraup US$ 75 miliar dari IPO, namun ada klausul 'greenshoe option' yang berpotensi menambah dana hingga US$ 11,25 miliar. 

Mendung yang Menggelayuti Pasar Saham Bikin Sentimen Dividen Kehilangan Gigi
| Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB

Mendung yang Menggelayuti Pasar Saham Bikin Sentimen Dividen Kehilangan Gigi

Harga saham emiten pembagi dividen, termasuk yang nilainya tertinggi sepanjang sejarah, justru ambrol setelah RUPS.

Tambahan Wajib Pajak Tak Signifikan ke Penerimaan
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:44 WIB

Tambahan Wajib Pajak Tak Signifikan ke Penerimaan

Pertambahan wajib pajak baru sebanyak 2,76 juta sejak awal tahun hingga 9 Juni 2026 dengan kontribusi penerimaan pajak mencapai Rp 726,87 miliar

Penjualan Ritel Diramal Semakin Tertekan
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:36 WIB

Penjualan Ritel Diramal Semakin Tertekan

Indeks Penjualan Riil Mei 2026 diperkirakan sebesar 225,0, terkontraksi 3,2%, melanjutkan kontraksi di April sebesar 3,7% secara tahunan

Harga Emas Dunia Turun, Sejumlah Saham Ini Masih Layak Koleksi
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:27 WIB

Harga Emas Dunia Turun, Sejumlah Saham Ini Masih Layak Koleksi

Harga emas dunia melemah, namun ada saham emiten yang direkomendasikan beli. Simak prospeknya di sini.

PTBA Tebar Dividen Rp 1,32 Triliun, Simak Prospek Sahamnya
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:23 WIB

PTBA Tebar Dividen Rp 1,32 Triliun, Simak Prospek Sahamnya

Payout ratio PTBA anjlok dari 75% jadi 45%. Pemburu dividen harus tahu alasan dan dampaknya. Jangan sampai salah langkah!

Suku Bunga Tinggi Kembali Menekan Emiten Properti
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:05 WIB

Suku Bunga Tinggi Kembali Menekan Emiten Properti

Ancaman suku bunga tinggi nyata bagi properti. Pahami risiko KPR mahal dan pelemahan rupiah yang bisa menekan laba investor properti.

INDEKS BERITA

Terpopuler