Memetakan Persaingan Sengit Alfamart dan Indomaret, Duo Raksasa Ritel di Indonesia

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:52 WIB
Memetakan Persaingan Sengit Alfamart dan Indomaret, Duo Raksasa Ritel di Indonesia
[ILUSTRASI. Persaingan minimarket (KONTAN/Baihaki)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan sengit raksasa ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indomarco Prismatama, terekam dalam laporan terbaru Nikkei Asia yang terbit Selasa (24/3) lalu.

Penulis Natsumi Kawasaki menuturkan bahwa antara keduanya, performa penjualan Alfamart yang dikelola AMRT, ternyata membalap kinerja Indomaret yang dikelola oleh Indomarco Prismatama. Kinerja Alfamart dari sisi penjualan dan laba bersih juga disebut lebih baik dibandingkan Indomaret sejak beberapa tahun belakangan.

Namun di saat yang sama, perlambatan konsumsi rumah tangga yang terjadi di Asia Tenggara juga turut menggerus keuntungan Alfamart. Setelah tiga tahun berturut-turut cetak pertumbuhan laba bersih bahkan saat pandemi Covid-19, Alfamart kini mencetak koreksi laba bersih sebesar 9% year on year (YoY) pada 2024. Berlanjut pada sembilan bulan pertama 2025, laba bersih Alfamart kembali turun 3,5% YoY menjadi Rp 2,3 triliun.

Presiden Direktur AMRT Anggara Hans Prawira melalui Nikkei Asia menyampaikan bahwa memang faktor pelemahan daya beli memberikan imbas koreksi kinerja perusahaannya. Menurutnya, konsumen menjadi enggan mengeluarkan uang di luar kebutuhan pokok.

"Untuk penjualan minuman siap saji saja di Alfamart bisa turun 20% YoY. Dengan pendapatan kelas menengah yang menyusut, kami bisa melihat porsi berbelanja masyarakat ikut berkurang," ujarnya dikutip di Nikkei Asia, Rabu (25/3).

AMRT mulai beroperasi di Indonesia sebagai perusahaan minimarket pada 2002 dan hingga kini telah memiliki sekitar 20.925 gerai di seluruh Indonesia per kuartal III-2025. Sementara Indomaret, yang berafiliasi dengan Group Salim, telah memiliki sekitar 23.441 gerai.




Berdasarkan grafik di atas, Alfamart memang berhasil lebih unggul bila dibandingkan dengan Indomaret baik dari sisi penjualan dan laba bersih. Di sisi penjualan, Indomaret awalnya mencetak penghasilan lebih besar terutama pada periode 2019 hingga 2021. Namun Alfamart tumbuh lebih cepat dan menyalip kinerjanya di tahun 2022 hingga 2023. Puncaknya, pada 2024, penjualan Amfamart mencapai level tertingginya, yakni mendekati angka Rp 120 triliun, sedikit berada di atas Indomaret.

Namun pada sembilan bulan pertama 2025, kinerja kedua raksasa ritel ini menurun dan Alfamart terlihat terkoreksi lebih dalam.

Dari sudut perolehan laba bersih, Alfamart menunjukkan kinerja lebih kuat sepanjang periode. Pada 2022 hingga 2023, laba bersih AMRT melonjak dan mencapai puncaknya pada 2023 di sekitar Rp 3,5 triliun. Pada 2024, laba Alfamart masih tinggi tetapi mulai menurun di 2025. Senada, Indomaret juga mengalami penurunan laba di tahun 2025.

Sementara pada penutupan pasar hari ini, Rabu (25/3), AMRT menguat 5,54% ke level Rp 1.525, namun dalam sebulan belakangan telah terkoreksi 14,57% dan sepanjang tahun berjalan alias year to date (YtD) juga telah terjatuh 22,78%.

Melihat kinerja AMRT yang lesu, memang menjadi pendorong perseroan untuk lakukan ekspansi ke Bangladesh di akhir Januari 2026 lalu. Lokasi tersebut juga merupakan pasar luar negeri kedua setelah Filipina.

Di Filipina sendiri, melalui kerja sama dengan peritel lokal Filipina, SM Group, AMRT telah memiliki sebanyak 2.400 gerai per September 2025. Sementara di Bangladesh, AMRT menggandeng perusahaan peternakan dan fnb lokal, Kazi Farms. AMRT menargetkan pembukaan lebih dari 100 toko di Dhaka dalam waktu dekat melalui dukungan Mitsubishi Corporation.

Anggara tidak menampik usaha ekspansi ke Bangladesh memang menjadi upaya perseroan mencari sumber pertumbuhan baru. Pihaknya melihat bahwa urbanisasi pesat serta kepadatan penduduk Dhaka, sangat mirip dengan Jakarta beberapa dekade lalu, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan minimarket.

"Kami ingin memastikan bahwa format pembangunan gerai kami diterima dengan baik oleh konsumen di sana. Kami tidak akan membuka gerai jika tidak menggerakan model bisnis, promosi serta strategi yang tepat. Jadi, memilih miitra bisnis yang tepat juga penting," kata dia.

Berbeda dengan ekspansi di luar negeri, di dalam negeri, AMRT mendalami strategi omnichanel melalui Alfagift, yang mengkombinasikan kekuatan gerai offline dengan layanan online. Dengan jaringan masif yang berada di bawah payung AMRT, perseroan bisa memanfaatkan gerai offline-nya sebagai pusat pengiriman barang.

Per September 2025, sekitar 3.500 gerai Alfamart hub alias pusat menjanjikan untuk mengirim pesanan dalam waktu satu jam sejak pesanan dibuat melalui Alfagift. Ke depat, AMRT juga akan mengembangkan dark store alias pusat penyimpanan khusus untuk pesanan online yang tidak terbuka untuk umum. Tahun lalu, AMRT mengoperasikan sekitar 50 dark store dan akan menambah dua kali lipat tahun ini. Keberadaan jaringan ini, membuat AMRT tidak perlu berinvestasi banyak membangun gudang lagi.

AMRT menyebutkan pengguna Alfagift tumbuh sekitar 30% setiap tahunnya. Program ini diakui diadaptasi dari Ponta, program loyalitas pelanggan terbesar di Jepang, yang juga dijalankan di gerai-gerai seperti Lawson. Asal tahu saja, Alfamart menjalankan sebanyak 355 gerai Lawson di Indonesia per September 2025.

Prawira juga menyampaikan bahwa kontribusi Alfagift ini mencapai 8% terhadap total penjualan dari 6% pada Desember 2024.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi menyebutkan bahwa perbedaan antara Alfamart dan Indomaret, memang terletak pada strategi yang dijalankan. Indomaret fokus pada strategi harga terjangkau melalui promo budling dan diskon sehingga menarik konsumen yang sensitif dengan harga. Namun, kedua raksasa ritel ini mendapatkan keuntungan dari harga beli yang kompetitif.

"Keduanya sama-sama menghadapi tantangan baru dalam bentuk program Koperasi Merah Putih, dimana Pemerintah menargetkan pembangunan 80.000 Kopdes di seluruh Indonesia," ucapnya.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia
| Rabu, 13 Mei 2026 | 11:00 WIB

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia

Valuasi MAPI masih menarik, saat ini diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) sekitar 9,88 kali dan price to book value (PBV) 1,69 kali.

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:19 WIB

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten

Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per April 2026 belum menjadi katalis positif emiten konsumer.

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:11 WIB

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

PT Rama Indonesia telah menyelesaikan transaksi pengambilalihan saham mayoritas PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). 

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:07 WIB

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar

Besaran nilai dividen tersebut mencerminkan peningkatan rasio pembayaran dividen menjadi 45% dari laba bersih emiten farmasi itu di tahun 2025.

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:01 WIB

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi

Saat ini, TLKM sedang melakukan streamlining alias perampingan sebagai strategi penataan portofolio non-core. ​

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 09:00 WIB

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya

MIKA dinilai memiliki kemampuan cost pass-through yang cukup baik, khususnya pada segmen non-BPJS dan layanan premium.

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:31 WIB

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka

Bank Indonesia diuji berat! Pelemahan rupiah 4,5% dan minyak US$100+ picu spekulasi kenaikan suku bunga hingga 50 bps.

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:30 WIB

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya

Akuisisi tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan dan EBITDA RATU secara bertahap mulai tahun ini.

Emiten Kawasan Industri Mulai Bangkit, Cek Rekomendasi Saham Analis
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:01 WIB

Emiten Kawasan Industri Mulai Bangkit, Cek Rekomendasi Saham Analis

Sektor properti industri mulai pulih, didorong data center. Namun, ada emiten yang kinerjanya justru turun. Cek detailnya!

Melihat Rebound Saham-Saham Komoditas Energi Pekan Ini
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:00 WIB

Melihat Rebound Saham-Saham Komoditas Energi Pekan Ini

Strategi terbaik dan aman yang bisa dilakoni pekan ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap dibandingkan averaging down secara agresif.

INDEKS BERITA

Terpopuler