Memetakan Persaingan Sengit Alfamart dan Indomaret, Duo Raksasa Ritel di Indonesia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan sengit raksasa ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indomarco Prismatama, terekam dalam laporan terbaru Nikkei Asia yang terbit Selasa (24/3) lalu.
Penulis Natsumi Kawasaki menuturkan bahwa antara keduanya, performa penjualan Alfamart yang dikelola AMRT, ternyata membalap kinerja Indomaret yang dikelola oleh Indomarco Prismatama. Kinerja Alfamart dari sisi penjualan dan laba bersih juga disebut lebih baik dibandingkan Indomaret sejak beberapa tahun belakangan.
Namun di saat yang sama, perlambatan konsumsi rumah tangga yang terjadi di Asia Tenggara juga turut menggerus keuntungan Alfamart. Setelah tiga tahun berturut-turut cetak pertumbuhan laba bersih bahkan saat pandemi Covid-19, Alfamart kini mencetak koreksi laba bersih sebesar 9% year on year (YoY) pada 2024. Berlanjut pada sembilan bulan pertama 2025, laba bersih Alfamart kembali turun 3,5% YoY menjadi Rp 2,3 triliun.
Presiden Direktur AMRT Anggara Hans Prawira melalui Nikkei Asia menyampaikan bahwa memang faktor pelemahan daya beli memberikan imbas koreksi kinerja perusahaannya. Menurutnya, konsumen menjadi enggan mengeluarkan uang di luar kebutuhan pokok.
"Untuk penjualan minuman siap saji saja di Alfamart bisa turun 20% YoY. Dengan pendapatan kelas menengah yang menyusut, kami bisa melihat porsi berbelanja masyarakat ikut berkurang," ujarnya dikutip di Nikkei Asia, Rabu (25/3).
AMRT mulai beroperasi di Indonesia sebagai perusahaan minimarket pada 2002 dan hingga kini telah memiliki sekitar 20.925 gerai di seluruh Indonesia per kuartal III-2025. Sementara Indomaret, yang berafiliasi dengan Group Salim, telah memiliki sekitar 23.441 gerai.
Berdasarkan grafik di atas, Alfamart memang berhasil lebih unggul bila dibandingkan dengan Indomaret baik dari sisi penjualan dan laba bersih. Di sisi penjualan, Indomaret awalnya mencetak penghasilan lebih besar terutama pada periode 2019 hingga 2021. Namun Alfamart tumbuh lebih cepat dan menyalip kinerjanya di tahun 2022 hingga 2023. Puncaknya, pada 2024, penjualan Amfamart mencapai level tertingginya, yakni mendekati angka Rp 120 triliun, sedikit berada di atas Indomaret.
Namun pada sembilan bulan pertama 2025, kinerja kedua raksasa ritel ini menurun dan Alfamart terlihat terkoreksi lebih dalam.
Dari sudut perolehan laba bersih, Alfamart menunjukkan kinerja lebih kuat sepanjang periode. Pada 2022 hingga 2023, laba bersih AMRT melonjak dan mencapai puncaknya pada 2023 di sekitar Rp 3,5 triliun. Pada 2024, laba Alfamart masih tinggi tetapi mulai menurun di 2025. Senada, Indomaret juga mengalami penurunan laba di tahun 2025.
Sementara pada penutupan pasar hari ini, Rabu (25/3), AMRT menguat 5,54% ke level Rp 1.525, namun dalam sebulan belakangan telah terkoreksi 14,57% dan sepanjang tahun berjalan alias year to date (YtD) juga telah terjatuh 22,78%.
Melihat kinerja AMRT yang lesu, memang menjadi pendorong perseroan untuk lakukan ekspansi ke Bangladesh di akhir Januari 2026 lalu. Lokasi tersebut juga merupakan pasar luar negeri kedua setelah Filipina.
Di Filipina sendiri, melalui kerja sama dengan peritel lokal Filipina, SM Group, AMRT telah memiliki sebanyak 2.400 gerai per September 2025. Sementara di Bangladesh, AMRT menggandeng perusahaan peternakan dan fnb lokal, Kazi Farms. AMRT menargetkan pembukaan lebih dari 100 toko di Dhaka dalam waktu dekat melalui dukungan Mitsubishi Corporation.
Anggara tidak menampik usaha ekspansi ke Bangladesh memang menjadi upaya perseroan mencari sumber pertumbuhan baru. Pihaknya melihat bahwa urbanisasi pesat serta kepadatan penduduk Dhaka, sangat mirip dengan Jakarta beberapa dekade lalu, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan minimarket.
"Kami ingin memastikan bahwa format pembangunan gerai kami diterima dengan baik oleh konsumen di sana. Kami tidak akan membuka gerai jika tidak menggerakan model bisnis, promosi serta strategi yang tepat. Jadi, memilih miitra bisnis yang tepat juga penting," kata dia.
Berbeda dengan ekspansi di luar negeri, di dalam negeri, AMRT mendalami strategi omnichanel melalui Alfagift, yang mengkombinasikan kekuatan gerai offline dengan layanan online. Dengan jaringan masif yang berada di bawah payung AMRT, perseroan bisa memanfaatkan gerai offline-nya sebagai pusat pengiriman barang.
Per September 2025, sekitar 3.500 gerai Alfamart hub alias pusat menjanjikan untuk mengirim pesanan dalam waktu satu jam sejak pesanan dibuat melalui Alfagift. Ke depat, AMRT juga akan mengembangkan dark store alias pusat penyimpanan khusus untuk pesanan online yang tidak terbuka untuk umum. Tahun lalu, AMRT mengoperasikan sekitar 50 dark store dan akan menambah dua kali lipat tahun ini. Keberadaan jaringan ini, membuat AMRT tidak perlu berinvestasi banyak membangun gudang lagi.
AMRT menyebutkan pengguna Alfagift tumbuh sekitar 30% setiap tahunnya. Program ini diakui diadaptasi dari Ponta, program loyalitas pelanggan terbesar di Jepang, yang juga dijalankan di gerai-gerai seperti Lawson. Asal tahu saja, Alfamart menjalankan sebanyak 355 gerai Lawson di Indonesia per September 2025.
Prawira juga menyampaikan bahwa kontribusi Alfagift ini mencapai 8% terhadap total penjualan dari 6% pada Desember 2024.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi menyebutkan bahwa perbedaan antara Alfamart dan Indomaret, memang terletak pada strategi yang dijalankan. Indomaret fokus pada strategi harga terjangkau melalui promo budling dan diskon sehingga menarik konsumen yang sensitif dengan harga. Namun, kedua raksasa ritel ini mendapatkan keuntungan dari harga beli yang kompetitif.
"Keduanya sama-sama menghadapi tantangan baru dalam bentuk program Koperasi Merah Putih, dimana Pemerintah menargetkan pembangunan 80.000 Kopdes di seluruh Indonesia," ucapnya.
