Menakar Nasib Investasi BUMN di Saham Emiten Pailit yang Bakal Delisting
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tidak hanya investor individu kelas kakap, nasib buruk juga menimpa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menggenggam saham di emiten pailit.
Rentetan keputusan delisting beberapa emiten pailit di tahun ini juga membuka informasi bahwa anak usaha milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), yaitu PT Pins Indonesia Tbk (PINS) mendekap sebanyak 24% saham di PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE).
TELE menjadi salah satu dari 18 emiten yang akan dikeluarkan (delisting) dari Bursa Efek Indonesia Tbk (BEI) di akhir tahun ini. Emiten yang bergerak di produk telekomunikasi ini juga telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat sejak 9 Oktober 2025 lalu.
Sementara menilik struktur kepemilikannya, PINS mengempit saham TELE sebanyak 1.754.641.247 (24%) saham. PINS membeli saham TELE pada tahun 2014 dengan mahar kala itu senilai Rp 1,39 triliun yang kala itu dikenal sebagai salah satu pemain besar di bisnis voucher pulsa.
Secara total, TELE memiliki sebanyak 10.733 investor yang sebagian besar diisi oleh investor ritel. Selain PINS, investor individu Haiyanto juga memiliki saham TELE sebanyak 8,31% atau sebanyak 607.625.900 saham.
Selain PINS, emiten pelat merah yang cukup tertutup yaitu, PT Telekomunikasi Indonesia Persero Tbk (INTI) juga memegang saham di emiten pailit yang akan delisting, yakni PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT).
