Menelisik Tren Komoditas di Tahun 2019

Selasa, 08 Januari 2019 | 06:10 WIB
Menelisik Tren Komoditas di Tahun 2019
[]
Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Dian Pertiwi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren harga komoditas sepanjang tahun lalu terlihat lesu. Harga komoditas utama, seperti emas, minyak bumi, minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) kompak mencatat kinerja negatif di sepanjang 2018.

Kondisi ekonomi global tahun lalu memang belum mampu mendukung laju harga komoditas. Sebagian besar komoditas diperdagangkan dengan dollar AS. Sementara pergerakan the greenback cenderung menguat, didukung oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed.

Pergerakan dollar AS yang terus naik membuat harga komoditas menjadi mahal. Hal ini berimbas pada turunnya angka permintaan. Ditambah lagi, permintaan komoditas di beberapa negara juga lesu lantaran perlambatan ekonomi.

Jika permintaan turun, maka pasokan akhirnya meningkat dan membuat harga tergerus.

Mengutip Bloomberg, harga emas bertengger di level US$ 1.281,3 per ons troi pada akhir 2018 atau turun 4,7% sepanjang tahun. Lalu harga minyak tergerus 21% ke level US$ 45,41 per barel pada 31 Desember 2018. Sementara harga CPO terkikis 16,9% di level RM 2.121 per metrik ton.

Bagaimana dengan prospek komoditas utama tahun ini? Simak ulasan dari para analis.

Emas

Harga emas tahun lalu memang kurang bersinar. Pamor logam mulia ini redup di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Sebab, emas sebagai aset non bunga memang kalah menarik ketika suku bunga akhirnya naik. "Meski ada beberapa faktor yang mendukung emas sebagai safe haven, tapi karena ekspektasi Fed rate besar, pamor emas terus menurun," tutur Alwi Asegaf, Analis Global Kapital Investama Berjangka.

Meski demikian, untuk tahun ini Alwi memperkirakan prospek emas akan lebih baik. Emas akan menjadi salah satu pilihan safe haven alias aset aman. Apalagi, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga mulai mengendur.

Sebagai safe haven, emas akan dicari ketika ada kekhawatiran ekonomi global. Terbaru, data manufaktur China bulan Desember 2018 mengalami kontraksi di level 49,4.

Lalu, perang dagang juga berpengaruh ke harga emas. Hingga saat ini, belum ada kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan China mengenai tarif impor. Kekhawatiran perang dagang bisa menopang emas karena memicu permintaan safe haven. "Memang perang dagang menguatkan dollar AS, tetapi mungkin investor akan menimbang untuk menghindari dollar AS setelah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang," lanjut Alwi.

Ditambah lagi dengan ketidakpastian Brexit atau proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Jika pilihan dollar AS sebagai safe haven dihindari, pilihan investor hanya tinggal emas atau mata uang yen.

Di tengah pelemahan harga sepanjang tahun lalu, Alwi menilai harga emas saat ini lebih menarik untuk bargain hunting. Alwi memperkirakan pergerakan emas tahun ini akan berada di kisaran US$ 1.250-US$ 1.483 per ons troi.

Sebaliknya, Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures memperkirakan nasib emas tahun ini tidak akan berbeda jauh dibanding 2018. Sebab, penguatan mata uang dollar AS masih menjadi ancaman.

Gaya kepemimpinan Presiden AS, Donald Trump, menurut Wahyu masih akan memberi dampak ke pasar, termasuk The Fed dan mitra dagangnya. Trump beberapa kali meminta The Fed untuk tidak membuat nilai tukar dollar AS naik. Trump juga berusaha menekan ekspor dari China dan Eropa demi memperbaiki defisit AS.

Kebijakan Trump membuat harga emas menjadi stabil, tidak terlalu tinggi namun juga tidak terlalu rendah, kata Wahyu. Tahun ini, Wahyu memprediksi laju emas akan berada di kisaran US$ 1.160-US$ 1.375 per ons troi.

Minyak

Isu utama bagi harga komoditas secara umum adalah perlambatan ekonomi global. Isu ini juga yang membuat harga minyak sulit untuk naik.

Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, mengatakan, perlambatan ekonomi global akan berdampak pada turunnya permintaan minyak mentah dunia. Untuk itu, harga akan tetap turun meski produsen minyak, baik yang tergabung dalam OPEC maupun Rusia memangkas produksinya. "Karena tetap ada potensi kelebihan supply," tuturnya.

Untuk itu, prospek harga minyak tahun ini sebenarnya masih harus menanti kinerja ekonomi global di kuartal pertama 2019. Aktivitas manufaktur dari negara-negara maju maupun negara ekonomi besar seperti China perlu dicermati terlebih dahulu. Sebab, penggunaan minyak di sektor manufaktur cukup besar. Apalagi setelah manufaktur China mengalami kontraksi.

Dari sisi pasokan, pasar juga masih melihat adanya kelebihan. Pelaku pasar berharap OPEC bisa memangkas produksi hingga 1,6 juta barel per hari. Nyatanya, pemangkasan hanya sebesar 1,2 juta barel per hari. Di sisi lain, produksi minyak AS terus mengalami peningkatan.

"Sentimen positif untuk minyak saat ini belum ada. Data manufaktur belum bagus, sedangkan dollar AS juga masih cukup kuat," lanjut Putu.

Menurut Wahyu, OPEC memang belum tegas soal kebijakan pemangkasan produksinya. Namun, rencana pemangkasan sebenarnya bisa menjadi amunisi untuk mendorong kenaikan harga minyak. "Apalagi jika ditambah dengan isu geopolitik hingga embargo ekonomi terhadap Iran yang membuat pasokan minyak dari negara tersebut menjadi terbatas. Secara fundamental, harga minyak masih berpotensi rebound," kata Wahyu.

Sedangkan ekonomi global, menurut Wahyu belum terbilang buruk meski mengalami perlambatan.

Putu melihat, volatilitas harga minyak tahun ini masih tinggi. Sejak kuartal keempat 2018, minyak turun lebih dari 40%. Kalau ekonomi kurang bagus, harga minyak mungkin akan turun sedikit lebih dalam di kuartal pertama 2019, ujarnya.

Sebaliknya, jika ekonomi global menunjukkan kejutan dengan peningkatan, maka harga minyak bisa kembali menguat secara signifikan. Prediksi Putu, pergerakan minyak tahun ini di kisaran US$ 36-US$ 65 per barel. Sementara Wahyu memperkirakan laju minyak sepanjang 2019 akan berada pada rentang US$ 30-US$ 70 per barel.

CPO

Kondisi cuaca sedang tidak mendukung untuk produksi CPO saat ini. Hal tersebut sebenarnya bisa berdampak pada turunnya produksi.

Tetapi di sisi lain, permintaan CPO global juga masih lesu. Tak heran jika harga CPO akhirnya sulit menanjak.

Isu lingkungan di Eropa masih membebani harga CPO. Sementara China juga kurang menyerap permintaan lantaran masih banyaknya pasokan minyak nabati di negara itu, kata Wahyu.

Prospek permintaan CPO yang cukup suram ini bahkan membuat Malaysia sebagai salah satu produsen terbesar di dunia berniat meninjau ulang struktur bea keluar untuk ekspor CPO.

Wahyu menjelaskan, produsen CPO di Asia Tenggara telah menghadapi lesunya ekspor lantaran permintaan turun. Hal ini lantaran negara-negara importir tertekan oleh pelemahan mata uang serta tingginya pajak impor.

Lemahnya permintaan ini membuat cadangan CPO Malaysia mendekati angka tertinggi selama 18 tahun. Sementara cadangan CPO di Indonesia sebagai produsen terbesar juga terus meningkat.

Satu-satunya dasar harapan CPO untuk menguat adalah dari teknikal. Karena setiap komoditi memiliki lower level dan ada batasan murahnya, ujar Wahyu. Dengan demikian, peluang kenaikan harga masih ada meski hanya sementara.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, menyebutkan, perang dagang sudah terlihat memberi dampak pada harga minyak nabati termasuk CPO. Akibat perang dagang, impor barang di berbagai negara terhambat. Makanya, data manufaktur akhirnya melambat. Perang dagang juga berdampak pada ekonomi China yang merupakan konsumen utama CPO.

Sejak tahun lalu, permintaan CPO Eropa turun akibat kampanye negatif. Sampai saat ini kampanye hitam CPO masih terus menjadi masalah, ungkapnya.

Sementara impor CPO India juga terus mengalami penurunan. Padahal, India merupakan salah satu konsumen minyak nabati terbesar di Asia, selain China.

Ibrahim berharap, permintaan CPO bisa kembali pulih, setidaknya pada kuartal pertama tahun ini. Salah satu pendorongnya adalah kenaikan permintaan China menjelang perayaan Imlek.

Tahun ini, Ibrahim memperkirakan harga CPO bergerak di RM 2.100-RM 2.400 per metrik ton. Sedangkan prediksi Wahyu CPO akan bergerak pada kisaran RM 1.900-RM 2.500 per metrik ton.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Strategi Mengembalikan Stabilitas Rupiah
| Jumat, 15 Mei 2026 | 04:39 WIB

Strategi Mengembalikan Stabilitas Rupiah

Hampir semua lembaga rating atau reviu perekonomian dan pasar modal global menilai kinerja perekonomian Indonesia tidak baik-baik saja.

Kinerja Bank Mini Beragam, Bank Ina dan OK Bank Cetak Laba Optimal
| Jumat, 15 Mei 2026 | 04:30 WIB

Kinerja Bank Mini Beragam, Bank Ina dan OK Bank Cetak Laba Optimal

Bank Ina dan OK Bank sukses membukukan lonjakan laba fantastis di Q1-2026. Pendapatan bunga bersih dan kredit jadi pendorong utama.

Insentif Pajak Menyengat Kredit Kendaraan Listrik
| Jumat, 15 Mei 2026 | 04:20 WIB

Insentif Pajak Menyengat Kredit Kendaraan Listrik

Hingga kuartal I-2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pembiayaan kendaraan listrik naik 35,27% secara tahunan menjadi Rp 22,5 triliun.

Selain Masuknya Prajogo, ELPI Gesit Ekspansi dan Siapkan Capex Hingga Rp 1,5 Triliun
| Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30 WIB

Selain Masuknya Prajogo, ELPI Gesit Ekspansi dan Siapkan Capex Hingga Rp 1,5 Triliun

Kenaikan tajam harga saham ELPI menunjukkan respon positif pasar terhadap bergabungnya kekuatan grup taipan Prajogo Pangestu ke ekosistem ELPI.

Laba Bersih Melonjak tapi Saham TINS Terjerembap, Asing Malah Diam-Diam Serok Bawah!
| Kamis, 14 Mei 2026 | 09:30 WIB

Laba Bersih Melonjak tapi Saham TINS Terjerembap, Asing Malah Diam-Diam Serok Bawah!

Ketidakpastian mengenai aturan royalti minerba menjadi salah satu faktor utama penekan harga saham TINS.

Rupiah Terjerembap ke Rekor Terendah, Emiten Kertas TKIM dan INKP Siap Panen Cuan
| Kamis, 14 Mei 2026 | 08:30 WIB

Rupiah Terjerembap ke Rekor Terendah, Emiten Kertas TKIM dan INKP Siap Panen Cuan

Rebalancing indeks MSCI memberikan tekanan outflow jangka pendek buat TKIM yang terdepak dari indeks small cap.

Agresif Ekspansi Anorganik, Saham INET Malah Terus Terjepit, Prospeknya tak Menarik?
| Kamis, 14 Mei 2026 | 07:30 WIB

Agresif Ekspansi Anorganik, Saham INET Malah Terus Terjepit, Prospeknya tak Menarik?

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) sedang bertransformasi menjadi integrated digital infrastructure provider.

Konflik Geopolitik Makin Menjerat Membuat Harga Emas Semakin Mengkilat
| Kamis, 14 Mei 2026 | 07:00 WIB

Konflik Geopolitik Makin Menjerat Membuat Harga Emas Semakin Mengkilat

Salah satu faktor yang mendorong harga emas adalah rencana NATO menggelar pertemuan bulan depan untuk membahas kemungkinan keanggotaan Ukraina.

Sebelas Saham Big Caps Bertahan di Indeks MSCI Global Standard, Simak Prospeknya
| Kamis, 14 Mei 2026 | 06:59 WIB

Sebelas Saham Big Caps Bertahan di Indeks MSCI Global Standard, Simak Prospeknya

Pengumuman MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan.

DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah
| Kamis, 14 Mei 2026 | 06:10 WIB

DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah

Sektor pertambangan dan energi, perusahaan tambang hulu dinilai akan diuntungkan di tengah harga komoditas yang lebih tinggi.

INDEKS BERITA