Meneropong Peluang BUVA Masuk MSCI Small Cap 2026

Rabu, 28 Januari 2026 | 08:30 WIB
Meneropong Peluang BUVA Masuk MSCI Small Cap 2026
[ILUSTRASI. Morgan Stanley Capital International, MSCI (SOPA Images/via REUTERS)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) sempat menyita perhatian pelaku pasar seiring dengan lonjakan harga saham yang signifikan sejak akhir 2025. Berdasarkan riset terbaru Samuel Sekuritas Indonesia yang dirilis pada 26 Januari 2026, BUVA dinilai memiliki peluang yang cukup kuat untuk masuk sebagai konstituen MSCI Small Cap pada periode peninjauan semester I-2026.

Dalam riset tersebut, Samuel Sekuritas menilai bahwa kombinasi antara reli harga saham, peningkatan likuiditas perdagangan, serta aksi korporasi berupa rights issue senilai Rp 600 miliar telah secara material memperbaiki profil investabilitas BUVA di mata investor institusi global.

Samuel Sekuritas mencatat, sejak November 2025 hingga akhir Januari 2026, harga saham BUVA telah melonjak sekitar 176%, dengan sebagian besar kenaikan tersebut dipicu oleh pelaksanaan rights issue.

"Aksi korporasi ini tidak hanya memperkuat neraca perseroan, tetapi juga meningkatkan adjusted free-float market capitalization BUVA menjadi sekitar US$ 543 juta, jauh melampaui ambang batas minimum MSCI Small Cap yang berada di kisaran US$ 330 juta," tulis Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ahnaf Yassar, dikutip Kontan, Selasa (27/1).

Dana hasil rights issue tersebut digunakan untuk mendanai sejumlah ekspansi strategis, termasuk sinergi pengembangan senilai Rp 416 miliar yang terhubung dengan properti andalan Alila Villas Uluwatu, pembelian lahan di Pecatu, Bali, serta ekspansi hotel di Labuan Bajo.

Samuel Sekuritas menilai langkah ini akan memperkuat basis pendapatan berulang (recurring income) BUVA dalam lima tahun ke depan.



Selain ukuran kapitalisasi pasar, aspek likuiditas menjadi faktor krusial dalam metodologi MSCI. Dalam risetnya, Samuel Sekuritas mencatat bahwa rata-rata nilai transaksi harian (12-month ADTV) saham BUVA telah meningkat signifikan menjadi sekitar US$ 6,1 juta per hari, jauh di atas persyaratan minimum MSCI sebesar US$ 1 juta per hari.

MSCI juga dijadwalkan akan mengumumkan hasil peninjauan indeks berikutnya pada 10 Februari 2026, dengan perubahan komposisi indeks efektif berlaku mulai 2 Maret 2026.

Jika BUVA berhasil masuk dalam indeks MSCI Small Cap, hal ini diyakini akan meningkatkan visibilitas BUVA di kalangan investor global dan berpotensi menarik aliran dana pasif dari reksa dana berbasis indeks.

Baca Juga: BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi, menilai bahwa secara teknikal peluang BUVA untuk masuk MSCI Small Cap terbilang cukup kuat. Ia menyoroti bahwa BUVA saat ini telah masuk dalam jajaran 30 saham paling aktif di Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga mendukung pemenuhan kriteria likuiditas.

“Faktor paling krusial dalam keputusan MSCI adalah kombinasi antara float-adjusted market capitalization dan konsistensi Annual Traded Value Ratio (ATVR) minimal 15%, untuk memastikan saham tersebut benar-benar likuid dan investable bagi investor institusi global,” ujar Abida kepada KONTAN, Selasa (27/1),

Menurutnya, dengan free-float market cap yang sudah berada di atas ambang minimum dan likuiditas yang relatif tinggi, BUVA secara teknis telah memenuhi sebagian besar kriteria utama MSCI Small Cap.

Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa peluang BUVA masuk MSCI masih dibayangi oleh berbagai risiko. Abida menyoroti rencana MSCI untuk memperketat metodologi penghitungan free-float menggunakan data KSEI, yang hasilnya akan diumumkan sebelum 30 Januari 2026. Perubahan metodologi ini berpotensi mengoreksi bobot investabel emiten-emiten Indonesia, termasuk BUVA.

Selain itu, volatilitas harga saham BUVA yang mencapai sekitar 18% dalam tiga bulan terakhir serta valuasi yang berada di level premium, dengan price to earnings (P/E) ratio di atas 380 kali, dapat menjadi pertimbangan kehati-hatian bagi pengelola indeks.

Dari sisi global, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global serta potensi kebijakan tarif impor di Amerika Serikat juga dinilai dapat memengaruhi arus dana asing ke pasar negara berkembang, khususnya ke saham-saham berkapitalisasi kecil.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

Prospek Kredit Perbankan Akan Lebih Bergairah
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:30 WIB

Prospek Kredit Perbankan Akan Lebih Bergairah

​Didorong penurunan suku bunga dan program pemerintah, OJK dan BI memproyeksikan kredit perbankan tumbuh hingga dua digit tahun ini,

Nasib Rupiah Awal Pekan: Tertekan Isu Domestik & Global
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:15 WIB

Nasib Rupiah Awal Pekan: Tertekan Isu Domestik & Global

Rupiah melemah hingga 16.887 per dolar AS. Cari tahu alasan di balik tekanan Moodys dan data ketenagakerjaan AS yang memicu gejolak

Korupsi Pajak
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:10 WIB

Korupsi Pajak

Membersihkan institusi perpajakan bukan sekadar agenda antikorupsi, melainkan prasyarat menjaga kepercayaan pasar.

Peringatan Beruntun dari Lembaga Asing Jadi Tekanan IHSG Pekan Ini
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:05 WIB

Peringatan Beruntun dari Lembaga Asing Jadi Tekanan IHSG Pekan Ini

Penurunan peringkat IHSG memperkuat persepsi bahwa daya tarik pasar domestik di mata investor global sedang menurun

Saham Poultry: Momentum Ramadan Dongkrak Laba, Tapi Ada Ancaman!
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:00 WIB

Saham Poultry: Momentum Ramadan Dongkrak Laba, Tapi Ada Ancaman!

Permintaan tinggi saat Ramadan diprediksi untungkan emiten unggas. Namun, kenaikan harga bungkil kedelai dan kebijakan impor baru jadi tantangan

Intervensi Danantara Akan Mendorong Produksi KRAS
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:00 WIB

Intervensi Danantara Akan Mendorong Produksi KRAS

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menjadi salah satu emiten yang mendapat berkah dari proyek Danantara Indonesia

Dorong Produksi, TPIA Rajin Menerbitkan Surat Utang
| Senin, 09 Februari 2026 | 05:58 WIB

Dorong Produksi, TPIA Rajin Menerbitkan Surat Utang

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V dengan jumlah pokok sebesar Rp 2,25 triliun.​

NPL Perbankan Melandai, Namun Risiko Masih Tetap Mengintai
| Senin, 09 Februari 2026 | 05:56 WIB

NPL Perbankan Melandai, Namun Risiko Masih Tetap Mengintai

Perbankan sukses menekan kredit bermasalah di akhir 2025. Kualitas aset membaik, apakah ini awal keuntungan investor? Temukan faktanya.

Menimbang Prospek Penghuni IDX80
| Senin, 09 Februari 2026 | 05:56 WIB

Menimbang Prospek Penghuni IDX80

Prospek tiga saham yang baru masuk IDX30 yaitu BREN, CUAN dan HRTA, masih dibayangi net sell dana asing

INDEKS BERITA

Terpopuler