Menggugat Riceflation
KONTAN.CO.ID - Jagat perberasan Indonesia agaknya belum bergeser. Beras pada Februari 2024 mengalami inflasi 5,32% secara tahunan. Dengan andil sebesar 0,21%, beras menjadi penyumbang terbesar inflasi umum. Inflasi beras itu menjadi yang tertinggi sejak September 2023 atau dalam lima bulan terakhir.
Fenomena inflasi beras di Tanah Air tampaknya juga terkonfirmasi oleh dinamika harga produk turunannya, terutama nasi dan lauk pauk di warung tegal (warteg). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan harga nasi dan lauk pauk sebesar 0,30% dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,01%.
Kinerja harga beras di atas juga dominan dalam mendongkrak inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) yang mencapai 8,47% secara tahunan. Inflasi harga pangan bergejolak itu menempatkannya sebagai level tertinggi sejak Oktober 2022, ketika inflasi pangan menembus 9,02% pada September 2022.
Kisah perberasan agaknya belum selesai sampai di situ. Dari perspektif waktu, harga beras pada periode tersebut mengalami peningkatan, baik secara bulanan maupun tahunan. Dalam cakupan spasial, kenaikan harga beras terjadi di 37 provinsi, sedangkan harga beras di satu provinsi lainnya menunjukkan penurunan.
