Menghindari Risiko China Membalas, Bos JPMorgan Minta Maaf atas Pernyataannya

Kamis, 25 November 2021 | 13:39 WIB
Menghindari Risiko China Membalas, Bos JPMorgan Minta Maaf atas Pernyataannya
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Suasana di dalam kantor pusat JPMorgan di New York, 25 Oktober 2013. REUTERS/Eduardo Munoz/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - HONG KONG/NEW YORK. Chief Executive JPMorgan Chase Jamie Dimon, Rabu (24/11), menyatakan bahwa dia menyesali pernyataannya bahwa raksasa keuangan Wall Street itu akan bertahan lebih lama daripada Partai Komunis China (PKC). Permohonan maaf itu diajukan Dimon untuk menghindari dampak jangka panjang dari leluconnya.

Komentar Dimon berisiko membahayakan ambisi JPMorgan untuk tumbuh di China. JPMorgan pada Agustus lalu mengantongi persetujuan otoritas untuk menjadi perusahaan asing pertama yang memiliki sepenuhnya perusahaan pialang. 

Pakar China di Amerika Serikat mengatakan permohonan maaf Dimon yang segera muncul, seharusnya mencegah kemungkinan terjadinya kerusakan yang serius. 

"Saya menyesal dan seharusnya tidak membuat komentar itu. Saya hanya mencoba untuk menekankan kekuatan dan umur panjang perusahaan kami," tutur Dimon, seperti dikutip dalam pernyataan tertulis yang dikeluarkan raksasa keuangan global itu.

Baca Juga: Wall Street naik didorong penguatan Nvidia yang imbangi koreksi Nordstrom dan Gap

Menurut sumber yang dekat dengan Dimon, orang nomor satu di JPMorgan itu segera menyadari kekeliruannya setelah berkomentar. Setelah melihat reaksi atas pernyataannya, Dimon memutuskan untuk mengungkapkan penyesalannya, kata sumber tersebut.

"Tidak pernah benar untuk bercanda atau merendahkan sekelompok orang. Apakah itu sebuah negara, kepemimpinannya, atau bagian dari masyarakat dan budaya. Berbicara dengan cara itu dapat menghilangkan kesan konstruktif dan bijaksana. dialog dalam masyarakat, yang dibutuhkan sekarang lebih dari sebelumnya," demikian lanjutan pernyataan Dimon.

Hu Xijin, editor tabloid Global Times, yang dekat dengan Beijing, menanggapi pernyataan maaf Dimon melalui cuitan di Twitter. "Anda sebenarnya tidak perlu menyesal," ujar dia.

"PKC telah mencapai keberhasilan di berbagai bidang, jauh lebih banyak daripada JP Morgan. Sebagai anggota PKC, saya tidak keberatan perusahaan Anda menunggangi popularitas PKC."

Baca Juga: JPMorgan: Harga Bitcoin bisa capai US$ 146.000 jangka panjang dan US$ 73.000 di 2022

Sebelum JPMorgan merilis pernyataan maaf Dimon, Hu sempat berkomentar: "Pikirkan jangka panjang! Dan saya yakin PKC akan bertahan lebih lama daripada AS."

Pernyataan Dimon yang kontroversial itu muncul dalam event CEO Boston College, pada Selasa (23/11). "Saya membuat lelucon beberapa hari yang lalu bahwa PKC merayakan ulang tahun ke-100, begitu juga JPMorgan. Saya berani bertaruh bahwa kita bertahan lebih lama," demikian pernyataan Dimon.

"Saya tidak bisa mengatakan itu di China. Mereka mungkin tetap mendengarkan," tambahnya.

Persetujuan Beijing atas kepemilikan penuh JPMorgan di perusahaan pialang merupakan tonggak sejarah dalam pasar modal China. Lisensi itu diberikan setelah Washington melakukan pendekatan, juga tekanan secara bertahun-tahun ke China.

Beijing menilai keterlibatan bank asing di negerinya penting bagi perkembangan industri keuangan domestik, kata para akademisi. Namun, tambah mereka, perusahaan-perusahaan Barat yang berbisnis di China masih perlu melangkah dengan hati-hati.

"Permintaan maaf Dimon menunjukkan tingkat penghormatan yang harus ditunjukkan oleh bisnis asing kepada pemerintah China agar tetap berada di jalur yang baik dan mempertahankan akses ke pasar negara," kata Eswar Prasad, seorang profesor di Universitas Cornell.

"Saya tidak berpikir ini akan memiliki konsekuensi jangka panjang," kata Leland Miller, kepala eksekutif di perusahaan data China Beige Book dan pakar sistem keuangan China.

Ditanya oleh Bloomberg tentang komentar Dimon pada konferensi pers pada Rabu, juru bicara kementerian luar negeri China Zhao Lijian memberi jawaban singkat. "Mengapa melakukan aksi publisitas dengan membuat komentar yang berlebihan?," demikian terjemahan dari komentar Zhao yang dibuat dalam bahasa Mandarin.

Baca Juga: Langgar kontrak waran, JPMorgan gugat Tesla

Para eksekutif global biasanya memilih kata-kata mereka dengan hati-hati ketika membahas China. Di negara itu, perusahaan asing kadang-kadang menjadi sasaran serangan balasan jika dianggap melakukan pelanggaran.

Bank Swiss UBS mengalami masalah pada tahun 2019, setelah seorang ekonom seniornya membuat komentar tentang inflasi makanan dan demam babi, yang ditafsirkan sebagai pernyataan berbau rasis. UBS menjatuhkan skorsing ke sang ekonom selama tiga bulan. Toh, UBS sudah telanjur kena getahnya dengan kehilangan kesempatan untuk ikut dalam kesepakatan obligasi bagi sebuah perusahaan yang didukung negara.

Awal tahun ini, raksasa mode Swedia H&M dan Nike Inc yang berbasis di AS menghadapi reaksi keras dari media pemerintah China dan platform e-niaga setelah menyatakan keprihatinan tentang tuduhan kerja paksa telah digunakan untuk memproduksi kapas di Xinjiang.

"Pemerintah China telah menunjukkan kesediaannya untuk mengekang atau dalam beberapa kasus menutup operasi bisnis asing di negara itu jika mereka menantang pemerintah secara terbuka. Atau bahkan terlibat dalam penghinaan yang dirasakan atau tidak langsung," kata Prasad dari Cornell.

Baca Juga: BI lakukan stress test tapering off The Fed ke Indonesia, begini hasilnya

Seminggu yang lalu Dimon mendapat pengecualian oleh pemerintah Hong Kong untuk mengunjungi pusat keuangan yang dikendalikan China tanpa harus melalui masa karantina.

Pengunjung pulau itu dari berbagai negara, seharusnya menjalani masa karantina di hotel selama dua hingga tiga minggu dengan biaya sendiri. Dimon berada di Hong Kong selama 32 jam setelah tiba dengan jet pribadi.

"Sifat terbaik dan terburuk Jamie Dimon adalah dia mengungkapkan apa yang ada di benaknya," kata analis Wells Fargo, Mike Mayo.

"Sifat ini biasanya akan membawa dampak positif, karena membuatnya tampil lebih otentik, hingga menuai respek dari investor. Tapi, sikap itu terkadang membuatnya mendapat masalah."

Bagikan

Berita Terbaru

SRTG Jual Lagi Kepemilikan di NRCA, Harga Saham dalam Tren Melemah
| Kamis, 22 Januari 2026 | 12:00 WIB

SRTG Jual Lagi Kepemilikan di NRCA, Harga Saham dalam Tren Melemah

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) kembali mengurangi kepemilikannya di emiten konstruksi PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).

Sebelum Kabar Pencabutan Izin Martabe, Asing Sedang Akumulasi UNTR
| Kamis, 22 Januari 2026 | 10:36 WIB

Sebelum Kabar Pencabutan Izin Martabe, Asing Sedang Akumulasi UNTR

Manajemen Agincourt menegaskan menghormati setiap keputusan pemerintah, dan tetap menjaga hak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

OJK: Sebanyak 72% Pedagang Aset Keuangan Digital Masih Rugi
| Kamis, 22 Januari 2026 | 10:30 WIB

OJK: Sebanyak 72% Pedagang Aset Keuangan Digital Masih Rugi

Mayoritas pedagang aset keuangan digital (PAKD) di Indonesia masih menghadapi tekanan kinerja di sepanjang 2025. 

Terungkap, Alasan Indokripto (COIN) Belum Pakai Dana Hasil IPO Rp 220,58 miliar
| Kamis, 22 Januari 2026 | 10:24 WIB

Terungkap, Alasan Indokripto (COIN) Belum Pakai Dana Hasil IPO Rp 220,58 miliar

Manajemen PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) memberikan klarifikasi terkait belum digunakannya dana dana hasil IPO.

Saham COIN Rontok di Awal 2026, Fundamental dan Prospek Jangka Panjang Masih Menarik
| Kamis, 22 Januari 2026 | 08:35 WIB

Saham COIN Rontok di Awal 2026, Fundamental dan Prospek Jangka Panjang Masih Menarik

Selain bagian dari strategi sell on news oleh investor, koreksi harga COIN tak lepas dari lesunya pasar aset kripto global. 

Pesan Pasar Saat Rupiah Anjlok : Purbaya dan Pemerintah Harus Lebih Prudent
| Kamis, 22 Januari 2026 | 08:21 WIB

Pesan Pasar Saat Rupiah Anjlok : Purbaya dan Pemerintah Harus Lebih Prudent

Sejak adanya kebijakan tersebut, sumber treasury tadi menyebut, investor di Singapura menganggap Indonesia tidak prudent.

Valuasi Saham 4 Bank Besar Berpotensi Pulih pada 2026, Simak Faktor Pendorongnya
| Kamis, 22 Januari 2026 | 07:46 WIB

Valuasi Saham 4 Bank Besar Berpotensi Pulih pada 2026, Simak Faktor Pendorongnya

Pertumbuhan laba bersih perbankan akan didorong oleh perluasan volume pinjaman, optimalisasi bauran pendanaan, dan pertumbuhan fee income.

Divestasi Saham NRCA, Saratoga Investama (SRTG) Kocok Ulang Portofolio Investasi
| Kamis, 22 Januari 2026 | 07:36 WIB

Divestasi Saham NRCA, Saratoga Investama (SRTG) Kocok Ulang Portofolio Investasi

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) melakukan kocok ulang portofolio investasinya di awal tahun 2026. 

Net Sell Sudah Tiga Hari Beruntun, IHSG Anjlok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 22 Januari 2026 | 07:31 WIB

Net Sell Sudah Tiga Hari Beruntun, IHSG Anjlok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Net sell sejak awal pekan ini, saat Prabowo mengajukan keponakannya, Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Laju Saham Properti Tertahan Suku Bunga BI
| Kamis, 22 Januari 2026 | 07:29 WIB

Laju Saham Properti Tertahan Suku Bunga BI

Usai Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan 4,75% dalam RDG Rabu (21/1), mayoritas saham emiten properti mengalami penurunan.

INDEKS BERITA

Terpopuler