Mengobati Jeri IPO BUMN
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di masa paceklik hajatan initial public offering (IPO) seperti saat ini, kabar soal rencana kedatangan penghuni baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) tentu wajar jika mendapat sambutan hangat. Apalagi, kalau korporasi yang digadang bakal masuk bursa berskala besar dan sudah punya nama.
Inilah yang terjadi saat Danantara kembali meniupkan agenda IPO sejumlah perusahaan pelat merah yang disebut-sebut akan berlangsung dalam 6 hingga 12 bulan mendatang. Sederet perusahaan pelat merah kelas kakap menjadi target, antara lain Pegadaian, Pupuk Indonesia, Angkasa Pura, dan Pelindo.
Namun, euforia tersebut diwarnai nada pesimistis mengingat track record buruk IPO Badan Usaha Milik Negara (BUMN) beberapa tahun terakhir. Maklum, dari 13 BUMN non-bank yang IPO sejak 2010, hanya PGEO yang sahamnya bisa bertahan di atas harga perdana.
Ini bukan semata efek fundamental emitennya sejak awal bermasalah. Atau akibat salah urus dan kebijakan pemerintah yang keliru hingga membuat emiten terlilit utang, seperti yang terjadi di emiten BUMN Karya. Korporasi milik negara yang neraca keuangannya sehat dan bisnisnya oke sekalipun ikut terkena tulah.
Jika mau dibedah satu-persatu, tentu kita bisa menemukan berbagai alasan yang bisa dituding sebagai penyebab loyonya performa mereka. Tapi ada satu gejala umum yang bisa ditemui di semua penawaran saham perdana tersebut; tekanan untuk memaksimalkan perolehan dana membuat ruang apresiasi harga pasca-IPO menciut, jika tak mau dibilang tak tersisa.
Padahal, yang mau untung dari penawaran umum perdana saham tak cuma emiten dan pemegang saham pra-IPO. Investor pembeli saham IPO juga berharap bisa mencicipi cuan, dan mestinya diberikan peluang untuk mendapatkannya.
Sudah begitu, investor ritel juga harus menghadapi potensi persaingan tak sehat dalam memperebutkan saham perdana. Sudah jadi gosip klasik di antara pelaku pasar, meski tak pernah dibuktikan, jika IPO BUMN kerap dibumbui cerita soal pihak-pihak tertentu, terutama politisi yang meminta jatah saham IPO.
Bahkan, praktik ini sebetulnya tak cuma terjadi di BUMN. Permintaan serupa juga sempat terdengar di hajatan IPO korporasi swasta, termasuk ketika hajatannya digelar konglomerasi yang tengah naik daun beberapa waktu lalu.
Dus, Danantara punya PR untuk mengembalikan minat dan kepercayaan investor.
