Mengurai Geopolemik
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di selat hormuz dan laut merah ketegangan terus meningkat. Di Utara kita, Laut China Selatan menjadi dapur perang. Kapal perang berseliweran di depan Natuna, radar dinyalakan 24 jam.
Saat dunia berebut chip dan mineral kritis di dalam negeri, kita sibuk memproduksi drama sendiri. Drama yang saya sebut geopolemik.
Kalau pemerintahan sebelumnya geopolemik kita seputar ibu kota baru, kini ramai polemik soal siapa lebih pribumi, siapa lebih nasionalis, pejuang kepentingan rakyat sejati dengan baju makan dan sekolah gratis, koperasi, dan banyak lagi.
Sepele tapi menguras energi. Kini geopolemik muncul istilah serakahnomic. Di permukaan, ini terlihat seperti kritik mulia terhadap keserakahan konglomerat. Kritik terhadap penguasaan ekonomi oleh segelintir naga. Tapi kalau dibedah lebih dalam, narasinya berubah menjadi sangat geopolemik: Isunya bukan lagi melawan keserakahan, tapi mengganti pemainnya, dari isu Sembilan Naga, diganti Sembilan Haji. Ini bukan lagi pertarungan ideologi, ini pertarungan jatah perut. Oligarki lama ingin diganti oligarki baru dengan jubah nasionalisme.
Tidak berhenti di sini, geopolemik merembet ke tempat yang paling rasional sekalipun: Pasar Saham. Pasar yang seharusnya membaca laporan keuangan, kini dipaksa membaca arah angin politik.
Rumor dibalik pengambilalihan saham BYAN dibisikkan. Diskon berlebihan jadi sorotan. Isu nasionalisme pun dihembuskan.
Setelah itu, bisik-bisik berikutnya lebih gila lagi: incar saham bank asia. Bank yang menjadi nadi transaksi 42 juta nasabah dengan dana masyarakat lebih dari Rp 1.200 triliun, lebih dari 5% produk domestik bruto, yang dibangun puluhan tahun dengan kepercayaan publik, kini diisukan akan diambil alih atas nama nasionalisasi dan keadilan.
Kita menciptakan musuh imajiner bernama serakah, untuk melegalkan keserakahan baru. Di sisi lain, panggung lain tak kalah absurd. Penguasa mengklaim swasembada. Spanduk dibentang, statistik dibacakan. Tapi di pasar, ibu-ibu menangis karena harga beras naik, harga pangan melejit. Kita swasembada sukses di atas kertas, tapi tidak terasa di meja makan. Kita surplus di pidato, tapi defisit di kantong rakyat.
Inilah puncak dari Geopolemik. Ketika geopolitik dunia menuntut kita menjadi pemain yang cerdas, kita justru sibuk menjadi penonton atraksi penguasa. Geopolemik membuat kita lupa negara besar tidak lahir dari menimbun dan rampas aset, tapi mencipta nilai baru.
