Mengurai Geopolemik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:10 WIB
Mengurai Geopolemik
[ILUSTRASI. TAJUK - Syamsul Ashar (KONTAN/Indra Surya)]
Syamsul Ashar | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di selat hormuz dan laut merah ketegangan terus meningkat. Di Utara kita, Laut China Selatan menjadi dapur perang. Kapal perang berseliweran di depan Natuna, radar dinyalakan 24 jam.

Saat dunia berebut chip dan mineral kritis di dalam negeri, kita sibuk memproduksi drama sendiri. Drama yang saya sebut geopolemik. 

Kalau pemerintahan sebelumnya geopolemik kita seputar ibu kota baru, kini ramai polemik soal siapa lebih pribumi, siapa lebih nasionalis, pejuang kepentingan rakyat sejati dengan baju makan dan sekolah gratis, koperasi, dan banyak lagi. 

Sepele tapi menguras energi. Kini geopolemik muncul istilah serakahnomic. Di permukaan, ini terlihat seperti kritik mulia terhadap keserakahan konglomerat. Kritik terhadap penguasaan ekonomi oleh segelintir naga. Tapi kalau dibedah lebih dalam, narasinya berubah menjadi sangat geopolemik: Isunya bukan lagi melawan keserakahan, tapi mengganti pemainnya, dari isu Sembilan Naga, diganti Sembilan Haji. Ini bukan lagi pertarungan ideologi, ini pertarungan jatah perut. Oligarki lama ingin diganti oligarki baru dengan jubah nasionalisme.

Tidak berhenti di sini, geopolemik merembet ke tempat yang paling rasional sekalipun: Pasar Saham. Pasar yang seharusnya membaca laporan keuangan, kini dipaksa membaca arah angin politik. 

Rumor dibalik pengambilalihan saham BYAN dibisikkan. Diskon berlebihan jadi sorotan. Isu nasionalisme pun dihembuskan.

Setelah itu, bisik-bisik berikutnya lebih gila lagi: incar saham bank asia. Bank yang menjadi nadi transaksi 42 juta nasabah dengan dana masyarakat lebih dari Rp 1.200 triliun, lebih dari 5% produk domestik bruto, yang dibangun puluhan tahun dengan kepercayaan publik, kini diisukan akan diambil alih atas nama nasionalisasi dan keadilan.

Kita menciptakan musuh imajiner bernama serakah, untuk melegalkan keserakahan baru. Di sisi lain, panggung lain tak kalah absurd. Penguasa mengklaim swasembada. Spanduk dibentang, statistik dibacakan. Tapi di pasar, ibu-ibu menangis karena harga beras naik, harga pangan melejit. Kita swasembada sukses di atas kertas, tapi tidak terasa di meja makan. Kita surplus di pidato, tapi defisit di kantong rakyat.

Inilah puncak dari Geopolemik. Ketika geopolitik dunia menuntut kita menjadi pemain yang cerdas, kita justru sibuk menjadi penonton atraksi penguasa. Geopolemik membuat kita lupa negara besar tidak lahir dari menimbun dan rampas aset, tapi mencipta nilai baru.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Batasan Tindak Pidana di UU Tipikor
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:50 WIB

Batasan Tindak Pidana di UU Tipikor

Menteri Yusril Ihza Mahendra, menegaskan pembahasan tersebut bukan untuk menghapus unsur kerugian negara.

Menerapkan Efisiensi, Kinerja Grup MAP Semakin Berisi
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:45 WIB

Menerapkan Efisiensi, Kinerja Grup MAP Semakin Berisi

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) mencetak kinerja keuangan cemerlang per kuartal III-2026.

Pembahasan UMP 2027 Tuntas November
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:44 WIB

Pembahasan UMP 2027 Tuntas November

Kemnaker juga masih menghitung estimasi kebutuhan hidup layak (KHL) sebagai salah satu pertimbangan dalam penetapan UMP 2027.

BUMN Pangan Serap Produksi Telur Rakyat
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:37 WIB

BUMN Pangan Serap Produksi Telur Rakyat

Kndisiii eternak kita tinggal di ujung tanduk. Mereka banyak yang tutup kandang, bahkan kandangnya dijual

Rupiah Ketinggalan Kereta Penguatan Mata Uang di Asia
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Rupiah Ketinggalan Kereta Penguatan Mata Uang di Asia

Rupiah masih tertekan oleh rentetan kekhawatiran di pasar domestik. Ini mencakup risiko pelebaran beban fiskal dari program pemerintah 

Kejar Target Utilisasi Industri Manufaktur 85%
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:24 WIB

Kejar Target Utilisasi Industri Manufaktur 85%

Peningkatan aktivitas industri mulai diikuti kenaikan serapan tenaga kerja. Pemerintah pun akan mendorong peningkatan utilisasi kapasitas industri

Arah The Fed Jadi Rujukan Pergerakan Rupiah pada Rabu (28/10)
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Arah The Fed Jadi Rujukan Pergerakan Rupiah pada Rabu (28/10)

Pada perdagangan Selasa (27/10), rupiah ditutup terkoreksi 0,12% secara harian ke level Rp 18.156 per dolar AS

Mengurai Geopolemik
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Mengurai Geopolemik

Inilah puncak dari Geopolemik. Ketika geopolitik dunia menuntut kita menjadi pemain yang cerdas, kita sibuk menjadi penonton atraksi penguasa.

Divestasi Kestrel Jadi Pendorong Kinerja Adaro Andalan Indonesia (AADI)
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Divestasi Kestrel Jadi Pendorong Kinerja Adaro Andalan Indonesia (AADI)

Didukung harga dan permintaan global, prospek kinerja PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berpeluang tumbuh di semester II

Rajin Akuisisi Tambang Emas-Tembaga Australia, Simak Prediksi Pergerakan Saham BUMI
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:37 WIB

Rajin Akuisisi Tambang Emas-Tembaga Australia, Simak Prediksi Pergerakan Saham BUMI

Alrich menjelaskan bahwa akuisisi dapat menjadi katalis positif jangka panjang bagi BUMI karena memperluas sumber pertumbuhan di luar batubara.

INDEKS BERITA

Terpopuler