Menjaga Rupiah, Menjaga Kepercayaan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden boleh saja berkelakar, orang desa tidak memakai dolar. Tapi, pasar keuangan membaca situasi saat ini dengan lebih serius. Pelemahan rupiah sudah mengkhawatirkan. Buktinya, kemarin (20/5), Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 basis poin menjadi 5,25%, lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang hanya 25 basis poin.
Langkah kejutan BI ini memberi pesan bahwa stabilitas rupiah perlu segera diperkuat. Inflasi memang masih terkendali, tetapi tekanan kurs berisiko menjalar ke harga barang impor, biaya produksi, ekspektasi inflasi, dan pada akhirnya kepercayaan pasar. Dalam situasi seperti ini, tampaknya, BI memilih mengambil langkah lebih tegas untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan menahan tekanan lebih lanjut.
Namun, kebijakan bank sentral ini ibarat membeli waktu. Bunga yang lebih tinggi punya konsekuensi. Biaya kredit akan naik, ekspansi usaha bisa tertahan, dan konsumsi masyarakat ikut terdampak. Karena itu, waktu yang dibeli BI harus digunakan pemerintah untuk memperkuat kembali kepercayaan pasar.
Ada sinyal positif yang patut dicatat. Rencana pemangkasan anggaran Makan Bergizi Gratis Rp 67 triliun bisa dibaca sebagai upaya menunjukkan disiplin fiskal. Meski, sejatinya, ruang penghematan dapat lebih besar bila program ini dijalankan lebih tepat sasaran. Dalam kondisi pasar yang sensitif, setiap sinyal pengelolaan fiskal yang lebih berhati-hati sangat berarti bagi rupiah.
Sayangnya, pemerintah juga memunculkan ketidakpastian baru melalui rencana pengaturan ekspor komoditas satu pintu. Niat pemerintah menutup celah under-invoicing patut didukung. Namun, pengalaman banyak negara menunjukkan, tata niaga ekspor yang baik tidak selalu berarti memusatkan transaksi pada satu pintu. Yang lebih mendesak adalah memperkuat pintu pengawasan, yakni bea cukai, data ekspor, valuasi harga, dan koordinasi antar-lembaga. Membuat simpul birokrasi baru berisiko membuat pelaku usaha semakin gamang.
Rupiah tak bisa hanya dijaga dengan bunga atau cadangan devisa. Gerak rupiah juga mencerminakan ekspektasi dan keyakinan pelaku pasar. Karena itu, rupiah juga harus dijaga dengan konsistensi kebijakan, disiplin fiskal, serta kebijakan lain yang menandakan pemerintah memahami sensitivitas pasar.
BI sudah mengambil langkah yang tak mudah. Tugas pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal, perdagangan, dan tata kelola bisnis berjalan searah. Tenangkan pasar dan jangan menambah tanda tanya.
