Menjaga Rupiah, Menjaga Kepercayaan

Kamis, 21 Mei 2026 | 06:11 WIB
Menjaga Rupiah, Menjaga Kepercayaan
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden boleh saja berkelakar, orang desa tidak memakai dolar. Tapi, pasar keuangan membaca situasi saat ini dengan lebih serius. Pelemahan rupiah sudah mengkhawatirkan. Buktinya, kemarin (20/5), Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 basis poin menjadi 5,25%, lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang hanya 25 basis poin. 

Langkah kejutan BI ini memberi pesan bahwa stabilitas rupiah perlu segera diperkuat. Inflasi memang masih terkendali, tetapi tekanan kurs berisiko menjalar ke harga barang impor, biaya produksi, ekspektasi inflasi, dan pada akhirnya kepercayaan pasar. Dalam situasi seperti ini, tampaknya, BI memilih mengambil langkah lebih tegas untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan menahan tekanan lebih lanjut.

Namun, kebijakan bank sentral ini ibarat membeli waktu. Bunga yang lebih tinggi punya konsekuensi. Biaya kredit akan naik, ekspansi usaha bisa tertahan, dan konsumsi masyarakat ikut terdampak. Karena itu, waktu yang dibeli BI harus digunakan pemerintah untuk memperkuat kembali kepercayaan pasar.

Ada sinyal positif yang patut dicatat. Rencana pemangkasan anggaran Makan Bergizi Gratis Rp 67 triliun bisa dibaca sebagai upaya menunjukkan disiplin fiskal. Meski, sejatinya, ruang penghematan dapat lebih besar bila program ini dijalankan lebih tepat sasaran. Dalam kondisi pasar yang sensitif, setiap sinyal pengelolaan fiskal yang lebih berhati-hati sangat berarti bagi rupiah.

Sayangnya, pemerintah juga memunculkan ketidakpastian baru melalui rencana pengaturan ekspor komoditas satu pintu. Niat pemerintah menutup celah under-invoicing patut didukung. Namun, pengalaman banyak negara menunjukkan, tata niaga ekspor yang baik tidak selalu berarti memusatkan transaksi pada satu pintu. Yang lebih mendesak adalah memperkuat pintu pengawasan, yakni bea cukai, data ekspor, valuasi harga, dan koordinasi antar-lembaga. Membuat simpul birokrasi baru berisiko membuat pelaku usaha semakin gamang. 

Rupiah tak bisa hanya dijaga dengan bunga atau cadangan devisa. Gerak rupiah juga mencerminakan ekspektasi dan keyakinan pelaku pasar. Karena itu, rupiah juga harus dijaga dengan konsistensi kebijakan, disiplin fiskal, serta kebijakan lain yang menandakan pemerintah memahami sensitivitas pasar.  

BI sudah mengambil langkah yang tak mudah. Tugas pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal, perdagangan, dan tata kelola bisnis berjalan searah. Tenangkan pasar dan jangan menambah tanda tanya.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Rogoh Kocek Dalam, Emiten Menggelar Buyback Saham
| Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23 WIB

Rogoh Kocek Dalam, Emiten Menggelar Buyback Saham

Sejumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) ramai-ramai menggelar pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai jumbo.​

Xolare RCR Energy (SOLA) Bidik Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Pada 2026
| Rabu, 17 Juni 2026 | 09:17 WIB

Xolare RCR Energy (SOLA) Bidik Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Pada 2026

PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) mematok target pendapatan di tahun 2026 bisa mencapai Rp 412,57 miliar. ​

Incar Dana Rp 498 Miliar, PANI Siap Private Placement
| Rabu, 17 Juni 2026 | 09:12 WIB

Incar Dana Rp 498 Miliar, PANI Siap Private Placement

Dalam aksi korporasi ini, PANI akan menerbitkan saham baru sebanyak 72.476.600 saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham.

Genjot Pertumbuhan, Citra Nusantara Gemilang (CGAS) Memperkuat Lini LNG dan CNG
| Rabu, 17 Juni 2026 | 09:08 WIB

Genjot Pertumbuhan, Citra Nusantara Gemilang (CGAS) Memperkuat Lini LNG dan CNG

PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) membidik pertumbuhan kinerja pada 2026, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih.

Cuan Saham Belum Subur, Investor Mulai Melirik Waran Terstruktur
| Rabu, 17 Juni 2026 | 08:59 WIB

Cuan Saham Belum Subur, Investor Mulai Melirik Waran Terstruktur

Dari awal 2025 hingga akhir Mei 2026, perdagangan derivatif mencapai 3.614 kontrak, meningkat 99% dibanding pada Mei 2025 sebanyak 1.815 kontrak.

Menjala Cuan dari Dividen Emiten
| Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52 WIB

Menjala Cuan dari Dividen Emiten

Di pekan pendek ini, ada sekitar 30 emiten di Bursa Efek Indonesia yang akan membagikan dividen tunai tahun buku 2025.

Tensi Geopolitik Mereda dan Suku Bunga Tinggi, Emas Kehilangan Momentum?
| Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB

Tensi Geopolitik Mereda dan Suku Bunga Tinggi, Emas Kehilangan Momentum?

Prospek perdamaian di Timur Tengah secara langsung berpotensi memangkas daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Koreksi Rupiah Menekan Bisnis Jasa Konstruksi
| Rabu, 17 Juni 2026 | 07:59 WIB

Koreksi Rupiah Menekan Bisnis Jasa Konstruksi

Menurut Gapensi, harga material impor tersebut telah meningkat sekitar 8%–15% sejak awal tahun (year to date)

BSSR Alokasikan 64% Laba untuk Dividen, Pemegang Saham Kantongi Rp 486 per Saham
| Rabu, 17 Juni 2026 | 06:58 WIB

BSSR Alokasikan 64% Laba untuk Dividen, Pemegang Saham Kantongi Rp 486 per Saham

PT Baramulti Suksessarana (BSSR) setujui dividen US$ 70 juta atau Rp 486,13 per saham. Tanggal penting pencatatan pemegang saham sudah ditetapkan.

Masih Rentan Net Sell dan Menanti Arah Bunga BI, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 17 Juni 2026 | 06:46 WIB

Masih Rentan Net Sell dan Menanti Arah Bunga BI, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pada perdagangan hari ini, Rabu (17/6), pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) 

INDEKS BERITA

Terpopuler