Menyambut IPO Jumbo

Senin, 03 April 2023 | 14:06 WIB
Menyambut IPO Jumbo
[]
Reporter: Akhmad Suryahadi, Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Perhelatan initial public offering (IPO) dengan nilai emisi jumbo selalu menarik perhatian. Meski begitu, investor jangan kalap. Tak sedikit dari penjaring dana besar ini malah merosot ke bawah harga perdananya. 

Tahun 2023 ini, bursa saham sudah kedatangan IPO jumbo dari PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). Anak usaha PT Pertamina ini menggelar IPO pada 24 Februari 2023 lalu, dengan harga Rp 875 per saham. Dari hajatan IPO, PGEO bisa mengumpulkan dana Rp 10,35 triliun.

Yang terbaru, akan datang PT Trimegah Bangun Persada. Perusahaan Grup Harita yang  akan menggunakan kode saham NCKL ini memproduksi nikel dari hulu ke hilir sampai menjadi feronikel. Target dana IPO sekitar Rp 9,7 triliun. Jika tidak ada aral, NCKL akan IPO pada 12 April 2023.

Bergerak di bidang yang sama, akan datang juga anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yaitu PT Merdeka Battery Materials Tbk. Perusahaan yang disponsori oleh Grup Saratoga, Garibaldi Thohir, dan Grup Provident ini berencana menggelar IPO pada 18 April 2022 dengan target dana Rp 9,6 triliun. Setelah listing, Merdeka Battery akan menggunakan kode saham MBMA.

Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan, target emisi besar di atas saham IPO lainnya ini menjadikan saham-saham tersebut menarik perhatian. Ekspektasi masyarakat atas IPO jumbo adalah skala perusahaannya yang besar dan memberikan rasa safety atau aman dalam berinvestasi. 

Selain itu, IPO jumbo seiring dengan kapitalisasi pasarnya yang besar menjadi salah satu indikator dari masuknya investor institusi atau strategis sebagai pemegang saham.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Rio Febrian bilang, IPO jumbo dengan nilai emisi besar menjadikan ukuran perusahaan juga relatif besar. 

"Pelaku pasar cenderung berekspektasi bahwa IPO jumbo dapat mencatatkan kinerja yang relatif baik dan memiliki prospek yang baik ke depannya," kata dia.

Namun, dia mengingatkan, pelaku pasar perlu memperhatikan kembali kondisi kinerja, risiko usaha, rencana penggunaan dana IPO yang jelas, dan strategi serta prospek ke depan.  Selama hal itu relatif baik dan secara prospek usaha menarik, pelaku pasar dapat mempertimbangkan untuk investasi pada saham IPO jumbo.

Harga merosot

Sebenarnya, upaya menganalisa terlebih dahulu kondisi keuangan perusahaan dan prospek usahanya, berlaku untuk semua investor sebelum menaruh dana di saham IPO. Pasalnya, saham-saham dengan investasi jumbo, juga tidak selalu menjanjikan untung. Malah, mayoritas saham ini turun dibanding harga IPO-nya. 

Ambil contoh IPO jumbo dalam tiga tahun terakhir. Salah satu pengumpulan emisi terbesar di BEI dilakukan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) pada 6 Agustus 2021, yaitu sebesar Rp 21,9 triliun. Ketika IPO, BUKA ditawarkan di Rp 850. Namun pada Kamis (30/3), harganya tinggal Rp 248. Ini artinya, saham BUKA merosot 70,82% sejak IPO.

Penurunan harga saham di bawah IPO juga terjadi antara lain pada PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) yang menggelar IPO sebesar Rp 18,7 triliun, dan PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang mengumpulkan dana Rp 13,73 triliun. Bahkan, pendatang baru PGEO sudah turun 19% ke Rp 705, sejak IPO 24 Februari 2023. 

Rio menjelaskan, pelemahan saham IPO jumbo dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya, rasio harga yang kurang menarik. Pelaku pasar akan lebih memilih saham dengan rasio harga yang lebih murah. Selain itu,   prospek usaha dianggap kurang menarik ke depannya. 

Sentimen baru dan dinamis juga akan mempengaruhi pergerakan harga saham, termasuk IPO jumbo. Misalkan, potensi kenaikan suku bunga acuan dan level suku bunga acuan Bank Indonesia yang relatif tinggi saat ini, akan meningkatkan biaya bunga utang perseroan. Sehingga, secara prospek usaha, baik BUKA, MTEL dan GOTO kurang menarik, mengingat emiten tersebut merupakan emiten yang masih berkembang.

Menurut Rio, salah satu emiten IPO jumbo yang masih layak dilirik,  yaitu BUKA. Berdasarkan laporan keuangan September 2022, BUKA memiliki PER 4,99 kali di Senin (27/3) yang relatif lebih rendah dibandingkan PER Sektor Teknologi sebesar 23,99 kali per Februari 2023. Secara teknikal, dia merekomendasikan BUKA speculative buy. Potensi bullish berlanjut selama bertahan di atas Rp 248. 

Felix juga sepakat, performa harga saham kembali kepada sisi market domestik yang banyak sentimen negatif baik dari luar maupun dalam negeri. Ini dipengaruhi timeframe investor yang memegang saham bukan untuk portofolio strategis. 

"Sehingga, ketika harga turun di bawah harga IPO, menjadi dorongan bagi investor untuk berjualan," kata dia. 

Sedangkan terjadinya kelebihan permintaan atau oversubscribed saat penawaran awal bisa menjadi indikator untuk melihat IPO sukses atau tidak. Semakin tinggi permintaan, semakin bagus menjadi sentimen IPO.

Jika investor tertarik mengoleksi saham-saham yang sudah turun ini, Felix menyarankan melihat dulu kondisi pasarnya. Saat sentimen negatif untuk saham sudah lumayan reda, barulah bisa pertimbangkan untuk menyerok saham.

IPO produsen nikel 

Nasib IPO jumbo yang harga sahamnya melorot bisa saja mampir kepada PT Trimegah Bangun Persada (TBP) maupun PT Merdeka Battery Materials. Ada baiknya investor mencermati jeroan dua perusahaan ini sebelum  beli.

TBP atau lebih dikenal dengan nama Harita Nickel (NCKL) bergerak di bidang usaha pertambangan nikel hulu sampai produksi hilir di Pulau Obi, Maluku Utara. 
Perusahaan punya empat lini Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 25.000 ton logam feronikel.  Pendapatan NCKL yang berasal dari kontrak dengan para pelanggan mencapai Rp 9,04 triliun per 30 November 2022, naik 17% dibanding periode yang sama di tahun 2021. Sedangkan laba berjalan bersih sebesar Rp 4,33 triliun, naik 239%.

Harita Nickel mengklaim, mempunyai posisi strategis seiring meningkatnya kebutuhan baterai isi ulang di industri kendaraan listrik yang akan medorong permintaan bijih nikelnya. Sebagian dana IPO ini akan digunakan untuk pembangunan konstruksi High Pressure Acid Leaching (HPAL) kedua di Pulau Obi. 

Adapun dana IPO yang didapatkan NCKL akan digunakan sebanyak 27,53% untuk pembayaran utang. Lalu 2,12% untuk belanja modal, sebanyak 32,27% untuk keperluan entitas usaha, serta sisanya 38,08% untuk modal kerja.

Lewat IPO, Harita Nickel berencana menawarkan harga Rp 1.220 - Rp 1.250. Penawaran umum akan dimulai 5-10 April mendatang.

Merdeka Battery juga tidak kalah menarik. Perusahaan menggunakan kesempatan IPO ini untuk hilirisasi rantai baterai kendaraan listrik. Sebagian dana IPO akan digunakan untuk pembangunan pabrik berteknologi HPAL dengan kapasitas 60.000 ton tahap 1 hingga rampung 2025 nanti. 

Merdeka Battery akan memulai masa penawaran umum 12-14 April mendatang dengan harga Rp 780 - Rp 795. Perusahaan akan resmi listing di BEI pada 18 April mendatang.

Analis MNC Sekuritas Alif Ihsanario melihat, IPO NCKL dan MBMA berbarengan dengan sentimen positif di sektor nikel. Namun, dia mengingatkan, meski potensi baterai listrik besar, pengembangan kendaraan listrik merupakan industri jangka panjang. 

Bagi Rio, IPO NCKL dapat diperhatikan karena merupakan produsen nikel murni. Secara prospek, Harita Nickel berada di posisi strategis untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan kebutuhan baterai isi ulang di industri kendaraan listrik (EV). Perusahaan juga memiliki kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan dalam rantai nilai material nikel, feronikel dan baterai.

Memang, komposisi utang NCKL menjadi sorotan publik. Sebanyak Rp 19,62 triliun atau 58,4% dari aset merupakan liabilitas. Rio mengakui, rasio debt to equity (DER) NCKL berada di posisi kedua terbesar dibandingkan kompetitornya. Jadi, dapat dikatakan rasio utang NCKL relatif kurang sehat dibandingkan peers

Akan tetapi, kinerja rasio keuangan lainnya relatif baik dan menarik dibandingkan peers. Sehingga, penggunaan dana untuk pembayaran utang merupakan keputusan yang baik untuk memperbaiki permodalan dan menekan rasio utang.

Valuasi NCKL juga dianggap menarik. "Price to earning ratio (PER) NCKL juga relatif lebih rendah dibandingkan peers," kata Rio. 

Selain itu, market cap NCKL akan relatif lebih besar dibandingkan peers

Begitu juga Felix melihat IPO NCKL akan menarik seiring intensifikasi hilirisasi nikel domestik untuk industri baterai kendaraan listrik.  

Felix menghitung, NCKL secara valuasi relatif moderat. Dengan buku keuangan per September 2022, P/E NCKL berada di level 15,92 kali - 17,77 kali. Rasio 15,9 kali ini relatif sama dengan peers atau kompetitor seperti DKFT, IFSH, INCO, dan ANTM.

Kemudian untuk metode EV/EBITDA, saham NCKL mencapai 16,1 kali, berbanding peers di 10,2 kali. Ini memperlihatkan di rasio ini, NCKL relatif premium.

Jadi, siap berbelanja saham NCKL dan MBMA?    

Bagikan

Berita Terbaru

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:30 WIB

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?

Menurut analis, BRMS menarik karena ada kombinasi antara harga emas yang tinggi dan potensi peningkatan produksi emas di Poboya secara bertahap.

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026

Dalam laporannya, Stockbit menyebutkan konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah pada 2027 berada di US$ 44.750 per ton.

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:00 WIB

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?

Mengingat jumlah pemegang saham GOTO mencapai lebih dari 456 ribu, risiko panic selling begitu nyata ketika batas psikologis Rp 50 hilang.

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:17 WIB

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?

Peningkatan frekuensi dividen BBCA cukup efektif dalam menjaga minat investor, khususnya investor yang mengutamakan pendapatan tunai dari saham.

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:20 WIB

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat

Di balik humor girl math di media sosial, pembenaran atas belanja impulsif ternyata bisa berdampak panjang. Simak ulasannya!

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:00 WIB

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?

Sukuk Ritel seri SR025 menawarkan jaminan negara dan imbalan rutin di tengah ketidakpastian pasar. Simak pertimbangan sebelum berinvestasi!

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:34 WIB

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air

Di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air yang berkelanjutan, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) menawarkan solusi pengola

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:31 WIB

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah

Persaingan bisnis taksi di layanan segmen menengah kini semakin masif. Siuapa yang dibidik dan seperti apa pasarnya? 

 
Mengubah Status dari Pasar Jadi Basis Produksi
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:28 WIB

Mengubah Status dari Pasar Jadi Basis Produksi

Pemerintah meluncurkan motor listrik nasional dan ekosistem pendukungnya. Lalu, menyiapkan ragam insentif untuk mendorong penjualannya.

Cuan dari Angkutan Hewan Peliharaan
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:25 WIB

Cuan dari Angkutan Hewan Peliharaan

Sulitnya mencari kendaraan yang mau mengangkut hewan peliharaan membuka peluang bisnis pet taxi di sejumlah kota.

INDEKS BERITA

Terpopuler