Meramu Portofolio Tahan Banting di Tengah Ketidakpastian Global Ala Bank DBS

Senin, 23 Maret 2026 | 13:00 WIB
Meramu Portofolio Tahan Banting di Tengah Ketidakpastian Global Ala Bank DBS
[ILUSTRASI. Emas Batangan (KONTAN/Baihaki)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momen ketidakpastian global semakin kuat dan mencapai titik kritis saat konflik antara Amerika Serikat (AS) Israel dan Iran memanas di Timur Tengah. Pasca invansi AS ke Venezuela membuat beberapa pihak tidak nyaman atas terganggunya pasokan minyak dunia, kini inflasi harga minyak global semakin nyata.

Efek tersebut pun memunculkan efek domino lainnya yaitu adanya lonjakan harga minyak, tekanan inflasi baru hingga mengguncang pasar keuangan global.

Chief Investment Oficer (CIO) DBS Bank Hou Wey Fook menyebut situasi ini melahirkan sebuah dilema klasik bagi investor, yakni bertahan defensif atau memanfaatkan volatilitas untuk mencari peluang.

Dalam paparan online media briefing DBS Chief Investment Officer (CIO) Insight bertajuk "Resilience in Chaos", Jumat (13/3) CIO DBS Bank, Hou Wey Fook menyorot bagaimana investor perlu membangun ketahanan portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.

Dia menjelaskan, meskipun secara historis konflik global kerap menguntungkan saham AS, investor tetap tidak boleh lengah. Menurutnya, konflik yang masih berkembang dan terus berjalan hingga kini menuntut pendekatan manajemen risiko yang lebih disiplin.

Baca Juga: Kinerja Portofolio Investasi Moncer di Awal Tahun, Saham SRTG Bakal Ikut Naik?

Salah satu strategi yang disarankan adalah meningkatkan eksposur terhadap emas serta mengurangi sebagian porsi saham AS dengan mengalihkannya ke indeks saham berisiko rendah seperti S&P 500 Low Volatility Index.

"Kondisi ini digambarkan sebagai masa terbaik sekaligus terburuk, sebab peluang dan risiko hadir bersamaan" ujar CIO DBS Bank, Hou Wey Fook dalam paparannya tersebut.

Lebih jauh, dia mengungkapkan analisanya bahwa ketegangan yang berlangsung di Timur Tengah saat ini menjadi faktor utama yang memengaruhi aset berisiko melalui kenaikan harga minyak.

Sebagaimana diketahui bersama, Iran, sebagai produsen minyak terbesar keempat di OPEC, memegang peran penting dalam dinamika ini. Dampak harga minyak sangat bergantung pada perkembangan situasi di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dan LNG global. Dengan begitu, kenaikan harga energi dinilai berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi, membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral, serta menekan pertumbuhan ekonomi global.

Lebih lanjut dia juga mengingatkan untuk tetap memperhatikan potensi perubahan arah kebijakan moneter di Federal Reserve. Pandangan kebijakan yang berkembang menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas berbasis kecerdasan buatan alias articial inteligence (AI) dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga secara agresif tanpa memicu inflasi.

Bank DBS juga menggarisbawahi pentingnya diversifikasi investasi, terutama menjauh dari aset yang sudah terlalu padat (crowded trades). Ketegangan geopolitik telah memicu aksi ambil untung di pasar yang sebelumnya mencatatkan kinerja kuat seperti Korea dan Jepang. Namun, kondisi ini dinilai hanya bersifat sementara sebab saat volatilitas mereda, investor diperkirakan akan kembali fokus pada fundamental. 

Dengan pemahaman tersebut, Bank DBS merekomendasikan peningkatan eksposur ke saham pasar negara berkembang alias emerging markets (EM) dan Jepang. Saham pasar negara berkembang dinilai berpotensi diuntungkan oleh penurunan suku bunga The Fed, pelemahan dolar AS, pertumbuhan laba yang kuat, serta posisi investor yang masih relatif ringan.

"Saham Jepang didukung oleh stimulus fiskal yang akan datang, reformasi tata kelola perusahaan, serta daya tarik selisih imbal hasil yang kompetitif," lanjut dia.

Hou Wey Fook menekankan untuk menjalankan strategi aset yang netral tapi selektif dalam artian, tidak ada peringkat overweight yang ekstrem namun perlu ada preferensi taktis. Sebagai gambaran, untuk saham, dia mengatakan bahwa saham yang ada di Asia atau eks-Jepang akan tetap positif. Hal ini karena Jepang dianggap netral dan memiliki bias positif dibandingkan dengan AS yang cenderung netral karena risiko konsentrasi dan valuasi.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Dipicu Kenaikan Harga Timah, Laba Bersih TINS Lampaui Target
| Jumat, 24 April 2026 | 11:55 WIB

Dipicu Kenaikan Harga Timah, Laba Bersih TINS Lampaui Target

PT Timah (TINS) bukukan laba bersih Rp 1,31 triliun di 2025, 119% dari target. Kenaikan harga timah global jadi pendorong utama. 

Bayang-Bayang Lonjakan NPL, Rapuhnya UMKM, dan Peringatan Keras bagi Perbankan RI
| Jumat, 24 April 2026 | 10:10 WIB

Bayang-Bayang Lonjakan NPL, Rapuhnya UMKM, dan Peringatan Keras bagi Perbankan RI

Alarm kewaspadaan berdering keras di segmen UMKM, dengan rasio non-performing loan (NPL) yang sudah menyentuh 4,60%.

Rupiah Terpuruk, Fiskal Makin Tertekan
| Jumat, 24 April 2026 | 09:30 WIB

Rupiah Terpuruk, Fiskal Makin Tertekan

Nilai tukar rupah sempat melampaui level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada KAmis (23/4) 

Kinerja Investasi Melemah Meski Capai Target
| Jumat, 24 April 2026 | 09:21 WIB

Kinerja Investasi Melemah Meski Capai Target

Realisasi investasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp 498,8 triliun, hanya tumbuh 7,2%                

Prospek Cerah Saham MORA Usai Merger dengan MyRepublic dan Rapor Hijau Kuartal I-2026
| Jumat, 24 April 2026 | 08:53 WIB

Prospek Cerah Saham MORA Usai Merger dengan MyRepublic dan Rapor Hijau Kuartal I-2026

Investor diminta jangan lengah lantaran masih ada tekanan yang membayangi prospek MORA dalam jangka pendek.

Prospek Saham EMAS Melesat, Simak Sentimen Tambang Pani dan Rekomendasi Beli Analis
| Jumat, 24 April 2026 | 08:18 WIB

Prospek Saham EMAS Melesat, Simak Sentimen Tambang Pani dan Rekomendasi Beli Analis

Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) jadi yang paling banyak diborong investor asing sepekan terakhir.

Rugi Bersih Waskita Karya (WSKT) Menyusut 45,58% Pada Kuartal I-2026
| Jumat, 24 April 2026 | 08:17 WIB

Rugi Bersih Waskita Karya (WSKT) Menyusut 45,58% Pada Kuartal I-2026

Rugi bersih emiten BUMN Karya itu pada kuartal I-2026 sebesar Rp 678,03 miliar, turun 45,58% secara tahunan.

Proses Penawaran Selesai, Petrosea (PTRO) Siap Akuisisi Saham Tambang di Papua Nugini
| Jumat, 24 April 2026 | 08:12 WIB

Proses Penawaran Selesai, Petrosea (PTRO) Siap Akuisisi Saham Tambang di Papua Nugini

PT Petrosea Tbk (PTRO) telah menyelesaikan proses penawaran atau binding offer dengan Tolu Minerals Limited pada 20 April 2026. ​

Lini Bisnis Jasa Keuangan Bakal Menopang Kinerja Astra (ASII) Pada 2026
| Jumat, 24 April 2026 | 08:07 WIB

Lini Bisnis Jasa Keuangan Bakal Menopang Kinerja Astra (ASII) Pada 2026

Kontribusi dari lini jasa keuangan bakal jadi salah satu penopang utama kinerja Astra. Salah satunya, dari kinerja jasa pembiayaan.

Saham Valuasi Murah Mulai Bergairah
| Jumat, 24 April 2026 | 08:01 WIB

Saham Valuasi Murah Mulai Bergairah

Di tengah kondisi pasar saham domestik yang terus bergejolak, kinerja indeks IDX Value30 masih perkasa di sepanjang tahun berjalan​ ini.

INDEKS BERITA

Terpopuler