Meski Tengah Downtrend, TLKM Dinilai Punya Fondasi Kinerja Lebih Sehat di 2026

Senin, 22 Desember 2025 | 09:13 WIB
Meski Tengah Downtrend, TLKM Dinilai Punya Fondasi Kinerja Lebih Sehat di 2026
[ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas di depan logo PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) masih terjerembap dalam tekanan jual yang masif jelang tutup tahun. Kendati demikian, secercah harapan muncul untuk tahun fiskal 2026, didorong oleh momentum operasional bisnis Fixed Mobile Convergence (FMC) dan disiplin biaya yang kian ketat.

Pada perdagangan Jumat (19/12), saham emiten halo-halo pelat merah ini ditutup memerah, terkikis 1,45% ke level Rp 3.410 per saham. Tren negatif ini memperpanjang rekor pelemahan mingguan sebesar 3,94%, yang mengakumulasi penurunan bulanan hingga 5,8%.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai tekanan pada saham TLKM belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Secara teknikal, pergerakan harga saham TLKM masih terperangkap dalam fase downtrend yang didominasi tekanan jual, meskipun koreksi tertahan di level Moving Average 60 (MA60).

Herditya menegaskan belum terlihat sinyal pembalikan arah (reversal) yang valid. "Indikator MACD dan Stochastic diperkirakan masih rawan menyeret harga melanjutkan koreksinya ke area negatif," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (19/12).

Dus, investor disarankan untuk wait and see terlebih dahulu. Herditya mematok level support di Rp 3.370 dan resistance pada Rp 3.540 per saham.

Baca Juga: Saham MORA Meroket Ribuan Persen, Ini Risiko & Peluang Pasca Merger dengan MyRepublic

Konsolidasi dan Kualitas Laba

Di tengah tren harga yang masih lesu, fundamental TLKM diprediksi tetap solid memasuki 2026. Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan, memproyeksikan tahun 2026 akan menjadi fase konsolidasi kinerja dengan fokus pada perbaikan kualitas pendapatan.

"Pertumbuhan TLKM ke depan lebih ditopang oleh monetisasi FMC dan ekspansi segmen Business-to-Business (B2B), bukan lagi mengandalkan ekspansi agresif pelanggan seluler," ungkap Steven.

Steven merinci, pendapatan segmen korporasi pada 2026 diproyeksikan tumbuh sekitar 4% secara tahunan (year on year/YoY), didorong oleh lonjakan permintaan layanan cloud, ICT, dan managed services. Sementara itu, pendapatan gabungan Telkomsel—termasuk IndiHome B2C—diperkirakan tetap bertumbuh meski didera tekanan Average Revenue Per User (ARPU).

Stabilnya basis pelanggan seluler dan penetrasi konvergensi dinilai menjadi bantalan utama kinerja. "Konvergensi membuat retensi pelanggan lebih kuat dan membuka peluang peningkatan nilai per pelanggan, meski persaingan fixed broadband masih ketat," imbuhnya.

Di segmen IndiHome, kinerja diprediksi tetap positif berkat strategi paket yang lebih sederhana dan berbasis retensi. Langkah ini dinilai ampuh menjaga pertumbuhan sekaligus menekan risiko migrasi pelanggan (churn rate).

Baca Juga: Saham UNTR Diprediksi bisa Capai Rp 32.000 tapi Disertai Lampu Kuning Akibat Batubara

Disiplin Biaya Kerek Margin EBITDA

Dari sisi profitabilitas, pengendalian biaya (cost discipline) digadang-gadang menjadi katalis utama pada 2026. KB Valbury Sekuritas memperkirakan pertumbuhan biaya operasional akan berada di bawah rata-rata historisnya, membuka peluang peningkatan margin secara bertahap. Beban bunga pun diproyeksikan lebih terkendali seiring tren suku bunga yang melandai.

Sebagai penopang jangka pendek, kinerja kuartal IV-2025 diproyeksikan membaik berkat momentum musiman akhir tahun dan pemulihan operasional dari monetisasi FMC. Ini menjadi fondasi bagi TLKM untuk memasuki 2026 dengan struktur neraca yang lebih sehat.

Dalam risetnya, KB Valbury Sekuritas memproyeksikan pendapatan TLKM sepanjang 2025 mencapai Rp 149,77 triliun. Angka ini terkoreksi tipis 0,12% dibandingkan realisasi tahun 2024 yang berada di level Rp 149,96 triliun. Namun, pendapatan diproyeksikan rebound pada 2026 menembus Rp 155,34 triliun.

Sementara itu, dari sisi operasional, KB Valbury memproyeksikan EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) TLKM akhir tahun ini sebesar Rp 74 triliun, turun 1,35% dari posisi sebelumnya di Rp 75,02 triliun. Adapun pada 2026, EBITDA diproyeksikan kembali tumbuh menjadi Rp 77,22 triliun.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Akselerasi Peningkatan Tata Kelola di Pasar Modal Indonesia
| Senin, 02 Februari 2026 | 17:13 WIB

Akselerasi Peningkatan Tata Kelola di Pasar Modal Indonesia

Kunci utama pengembangan pasar modal adalah peningkatan kepercayaan investor. Percepatan penguatan tata kelola harus segera dilakukan.

Inflasi Januari 2026 Mencapai 3,55% Tahunan, Tertinggi Sejak Juni 2023
| Senin, 02 Februari 2026 | 13:12 WIB

Inflasi Januari 2026 Mencapai 3,55% Tahunan, Tertinggi Sejak Juni 2023

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi Januari 2026 secara tahunan mencapai 3,55%, dengan Indeks Harga Konsumen berada di level 109,75.

Ekspor dan Impor Meningkat, Neraca Dagang RI 68 Bulan Surplus
| Senin, 02 Februari 2026 | 12:57 WIB

Ekspor dan Impor Meningkat, Neraca Dagang RI 68 Bulan Surplus

Indonesia mencatat surplus dagang 68 bulan beruntun hingga Desember 2025. Terungkap, ekspor nonmigas jadi kunci. Cek detailnya!

Biaya Pakan Terancam Naik 7%, Industri Unggas Ketar-ketir Hadapi Monopoli Berdikari
| Senin, 02 Februari 2026 | 09:30 WIB

Biaya Pakan Terancam Naik 7%, Industri Unggas Ketar-ketir Hadapi Monopoli Berdikari

Kedelai merupakan komponen vital yang menyumbang sekitar 20% hingga 25% dari total formulasi pakan unggas.

Asing Buang Rp 9,5 Triliun Saham Bank Jumbo, Efek Domino Ancaman MSCI Untuk IHSG
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:48 WIB

Asing Buang Rp 9,5 Triliun Saham Bank Jumbo, Efek Domino Ancaman MSCI Untuk IHSG

Dalam situasi penuh ketidakpastian, peran investor domestik menjadi sangat krusial sebagai penyangga pasar.

Soal Calon Nakhoda BEI, Purbaya Bungkam, Muncul Nama Jeffrey, Tiko dan Pahala
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:28 WIB

Soal Calon Nakhoda BEI, Purbaya Bungkam, Muncul Nama Jeffrey, Tiko dan Pahala

Meskipun Dirut, tapi masih mengurus teknis operasional. Ke depan, pimpinan baru BEI harus mampu memenuhi permintaan MSCI.             

ESG Pakuwon (PWON): Merangkul Pekerja Lokal Saat Gencar Ekspansi
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:24 WIB

ESG Pakuwon (PWON): Merangkul Pekerja Lokal Saat Gencar Ekspansi

Ekspansi yang dilakukan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tetap kencang di tahun ini. Simak juga rekomendasi sahamnya di sini

Perintah Danantara, PGAS Garap Bisnis Midstream dan Downstream
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:22 WIB

Perintah Danantara, PGAS Garap Bisnis Midstream dan Downstream

Danantara menginginkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) fokus pada bisnis midstream (antara) dan downstream atau sektor hilir gas bumi.​

Berharap Gejolak IHSG Mereda
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:16 WIB

Berharap Gejolak IHSG Mereda

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi reda meskipun risiko eksternal terbuka di bulan Februari ini.

Efek MSCI, Duit Asing  Kabur Hampir Rp 14 Triliun, Simak Rekomendasi Hari Ini
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:12 WIB

Efek MSCI, Duit Asing Kabur Hampir Rp 14 Triliun, Simak Rekomendasi Hari Ini

Dalam sepekan kemarin, dana asing sudah mencatatkan aksi jual alias net sell sekitar Rp 13,92 triliun.

INDEKS BERITA

Terpopuler