Saham MORA Meroket Ribuan Persen, Ini Risiko & Peluang Pasca Merger dengan MyRepublic

Senin, 22 Desember 2025 | 08:05 WIB
Saham MORA Meroket Ribuan Persen, Ini Risiko & Peluang Pasca Merger dengan MyRepublic
[ILUSTRASI. Suasana paparan publik PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) atau Moratelindo di Jakarta (5/6/2025). KONTAN/Vina Elvira]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana besar penggabungan usaha (merger) antara PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) dan PT Eka Mas Republik (EMR) milik Grup Sinarmas menjadi sorotan utama pasar.

Aksi korporasi ini dinilai menjadi "bensin" tambahan bagi MORA untuk melanjutkan reli harga sahamnya. Potensi efisiensi yang lebih kuat, lonjakan utilisasi jaringan, hingga peluang monetisasi yang lebih luas menjadi daya tarik utama dari sinergi ini.

Memang, pada penutupan perdagangan Jumat (19/12), saham MORA terkoreksi 4,13% ke level Rp 10.450 per saham, mengakumulasi pelemahan 7,73% dalam sepekan terakhir. Namun, jika ditarik lebih jauh, performa saham ini luar biasa: dalam sebulan terakhir harga MORA melonjak 72,02% dan dalam periode tiga bulan terakhir meroket fantastis hingga 2.353,05%.

Tren positif ini tak lepas dari katalis teknis berupa dikeluarkannya saham MORA dari Papan Pemantauan Khusus (PPK) yang diperdagangkan dengan skema full call auction (FCA) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada November 2025. Hal tersebut sukses memicu peningkatan likuiditas perdagangan dan mendorong harga saham mencetak rekor tertinggi barunya.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai kenaikan harga MORA merupakan bentuk apresiasi pasar terhadap kepastian merger dengan MyRepublic (brand milik EMR). Aksi korporasi ini diproyeksikan akan memperkuat ekosistem digital nasional secara signifikan.

Baca Juga: Saham UNTR Diprediksi bisa Capai Rp 32.000 tapi Disertai Lampu Kuning Akibat Batubara

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), disebutkan bahwa melalui skema ini, MORA akan menjadi entitas yang bertahan (surviving entity) dan berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk.

Berdasarkan laporan penilaian independen per 15 Desember 2025, nilai pasar saham MORA tercatat sebesar Rp 10,2 triliun, sedangkan nilai pasar saham EMR mencapai Rp 10,4 triliun.

Mengacu pada valuasi tersebut, rasio konversi ditetapkan di mana satu saham EMR setara dengan sekitar 7.704 saham MORA. Konsekuensinya, pemegang saham MORA akan mengalami dilusi kepemilikan sebesar 50,5% pasca-merger.

Peta pemegang saham pun akan berubah drastis. Setelah merger efektif, PT Innovate Mas Utama akan muncul sebagai pengendali baru MORA dengan kepemilikan 48,4%. Selain itu, masuk pula investor baru yakni PT Innovate Mas Indonesia, PT DSST Mas Gemilang, dan PT Buana Mas Sejahtera.

Sebaliknya, porsi kepemilikan pengendali lama, PT Candrakarya Multikreasi, akan menyusut dari 35,99% menjadi 17,8%. Kepemilikan investor eksisting lainnya dan publik juga akan mengalami penurunan persentase.

Bagi pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui aksi korporasi ini, MORA menyediakan mekanisme pembelian kembali (buyback) dengan harga Rp 432 per saham. Total dana yang dialokasikan mencapai sekitar Rp 1 triliun, dengan batas maksimal saham yang dibeli kembali tidak melebihi 10% dari saham beredar sebelum merger.

Baca Juga: Menakar Titik Balik AMMN: Asing Mulai Borong, Proyeksi Laba 2026 Tembus US$ 1 Miliar

Sinergi Operasional dan Infrastruktur

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

GOTO Dilanda Sentimen Negatif Usai Cetak Laba Pertama, Begini Saran Analis
| Rabu, 03 Juni 2026 | 14:15 WIB

GOTO Dilanda Sentimen Negatif Usai Cetak Laba Pertama, Begini Saran Analis

Selama ini GOTO menerapkan take rate 20% dari mitra pengemudi, lebih tinggi dari kompetitor yang 10%.

BUVA Menguat Jelang RUPS, Investor Berburu Cerita Rights Issue
| Rabu, 03 Juni 2026 | 11:02 WIB

BUVA Menguat Jelang RUPS, Investor Berburu Cerita Rights Issue

Analis menilai kenaikan saham BUVA saat ini lebih didominasi faktor teknikal dibandingkan perubahan fundamental yang signifikan.

El Nino Datang, Saham Emiten Perberasan Bakal Terkena Dampak Ikutan?
| Rabu, 03 Juni 2026 | 10:35 WIB

El Nino Datang, Saham Emiten Perberasan Bakal Terkena Dampak Ikutan?

NASI menyiapkan langkah untuk memperluas jaringan pemasok sekaligus mempererat hubungan kemitraan guna menjaga ketersediaan bahan baku.

Produksi Padi Diramal Menyusut Hingga Juli
| Rabu, 03 Juni 2026 | 08:48 WIB

Produksi Padi Diramal Menyusut Hingga Juli

BPS memperkirakan produksi padi nasional Januari hingga Juli 2026 mencapai 38,11 juta ton gabah kering giling (GKG)

Kunjungan Wisman Tertinggi Sejak Pandemi
| Rabu, 03 Juni 2026 | 08:44 WIB

Kunjungan Wisman Tertinggi Sejak Pandemi

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan  

Prospek Manufaktur Masih Belum Membaik
| Rabu, 03 Juni 2026 | 08:15 WIB

Prospek Manufaktur Masih Belum Membaik

Purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan Mei 2026 di level 50               

PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif, Tapi Masih Jauh dari Pemulihan
| Rabu, 03 Juni 2026 | 08:12 WIB

PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif, Tapi Masih Jauh dari Pemulihan

Untuk menyatakan sektor manufaktur benar-benar pulih, diperlukan PMI yang mampu bertahan di atas 50,0 selama beberapa bulan berturut-turut.

Rupiah Terpuruk Hampir 3% Sepanjang Mei 2026, Akankan Tekanan Mereda di Juni?
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:59 WIB

Rupiah Terpuruk Hampir 3% Sepanjang Mei 2026, Akankan Tekanan Mereda di Juni?

Secara musiman permintaan dolar AS di dalam negeri biasanya mulai melandai saat memasuki kuartal ketiga.

Asing Terus Net Sell, Penguatan IHSG Terbatas, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:36 WIB

Asing Terus Net Sell, Penguatan IHSG Terbatas, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pasar melihat kondisi ekonomi mengkhawatirkan. Surplus neraca dagang April 2026 yang hanya US$ 89,1 juta , terendah dalam enam tahun terakhir.

Rupiah Masih Lemas, Kinerja Emiten Kertas Bisa Bernas
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:35 WIB

Rupiah Masih Lemas, Kinerja Emiten Kertas Bisa Bernas

Di balik pelemahan rupiah yang semakin dalam, dua emiten Grup Sinar Mas di industri kertas dan bubur kertas berpotensi kecipratan berkah.

INDEKS BERITA

Terpopuler