Mitigasi bencana masih belum terencana

Sabtu, 12 Januari 2019 | 10:35 WIB
Mitigasi bencana masih belum terencana
[]
Reporter: Abdul Basith, Ragil Nugroho | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Tsunami senyap Selat Sunda yang menerjang pesisir Banten dan Lampung akhir tahun lalu betul-betul mengejutkan banyak pihak. Malam itu, gelombang laut besar tersebut datang tiba-tiba, senyap, tanpa ada peringatan.

Tsunami yang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebut sebagai fenomena tidak lazim dan kompleks itu pun kembali membangkitkan pertanyaan publik luas tentang mitigasi bencana. Sebab, upaya pemerintah mengurangi risiko bencana masih belum terlalu kelihatan.

Contoh paling nyata, perairan Selat Sunda tidak lagi memiliki alat pendeteksi tsunami (buoy), gara-gara hilang atau rusak akibat vandalisme. Padahal, ada Gunung Anak Krakatau di selat yang memisahkan Pulau Sumatra dan Jawa itu. Nah, badan sisi Barat Anak Krakatau yang ambrol seluas 64 hektare akibat erupsi merupakan sumber pembangkit tsunami senyap.

Bukan cuma di Selat Sunda, potensi terjadinya bencana alam, seperti gempa, tsunami, tanah longsor, dan gunung meletus di berbagai wilayah negara kita sangat tinggi. Sebab, Indonesia terletak pada tiga lempeng tektonik: Eurasia, Indo-Australia, Pasifik. Plus, berada di jalur gunung berapi alias ring of fire.

Hasil survei Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) menunjukkan, untuk potensi bencana tsunami, Indonesia menempati peringkat satu dari 265 negara. Mereka menghitung, ada 5,4 juta orang di Indonesia yang berpotensi terkena dampak tsunami.

Nah, tugas mitigasi bencana salah satunya ada di pundak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Cuma, Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, mengungkapkan, selama ini lembaganya tidak mendapatkan suntikan dana yang cukup. Bahkan, dari tahun ke tahun bujetnya melorot.

Contoh, pada 2016, awalnya APBN mengalokasikan anggaran BNPB sebesar Rp 1,6 triliun. Tapi, sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2016, anggarannya disunat menjadi Rp 1,46 triliun. Begitunya juga 2017, semula memperoleh Rp 839,74 miliar, ditengah jalan turun menjadi Rp 749,38 miliar.

Sementara untuk 2019 ini, anggaran BNPB tak sampai Rp 700 miliar, persisnya Rp 619,4 miliar. Padahal, dalam Rencana Strategis (Renstra) BNPB 2015–2019, kebutuhan dana lembaga itu mencapai Rp 1,94 triliun untuk 2016, Rp 2,19 triliun (2017), Rp 2,5 triliun (2018), dan Rp 2,81 triliun (2019).

Pembelian alat sulit

Anggaran yang minim membuat BNPB sulit mengoptimalkan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. “Kongkretnya di lapangan kami kekurangan dana untuk mengganti alat-alat yang sudah tidak beroperasi,” ujar Sutopo.

Padahal, dengan tegas pemerintah menyebutkan, BNPB merupakan focal point dalam penanggulangan bencana termasuk mitigasi bencana.

Menurut Sutopo, anggaran ideal untuk penanggulangan bencana mencapai Rp 15 triliun per tahun. “Contoh ideal adalah Jepang yang protektif sehingga jumlah korban bisa ditekan karena persiapan matang menghadapi bencana,” katanya.

Meski begitu, di tengah kekurangan, tahun ini BNPB meningkatan sarana dan prasarana kebencanaan berupa sistem peringatan dini bencana di 35 lokasi di tanah air. Lalu, memasang rambu evakuasi, papan peringatan, dan informasi bencana di 30 lokasi.

Bukan cuma BNPB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyuarakan hal sama. Meski anggaran mereka bertambah  empat tahun terakhir, jumlahnya masih belum cukup.

Dalam rapat pembahasan APBN 2019 pada Oktober lalu, anggaran BMKG yang tadinya Rp 2,9 triliun dipangkas jadi hanya Rp 1,75 triliun.

Sebetulnya, Rahmat Triyono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, menyatakan, lembaganya sudah merencanakan pembaruan beberapa alat pendeteksi bencana. “Namun, karena selama ini tidak dianggap strategis, maka beberapa kali dikurangi,” ungkapnya.

Begitu Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan BMKG membeli peralatan pendeteksi bencana pasca tsunami senyap Selat Sunda, BMKG tentu mengapresiasi perintah itu. Tapi, menurut Rahmat, realisasinya tidak akan mudah, mengingat ada mekanisme anggaran yang sudah disepakati.

Fary Djemi Francis, Ketua Komisi V DPR, membenarkan, sedari awal BNPB dan BMKG meminta tambahan anggaran di 2019 untuk pengadaan alat pendeteksi bencana. Tapi, justru pemerintah sendiri yang mengandaskan pemintaan itu.

Jelas, Fary sangat menyayangkan, pemerintah belum melihat mitigasi bencana sebagai prioritas. “Sekarang baru terbukti, bahwa alat-alat itu memang urgen,” ucap dia.

Cuma, baik Sutopo maupun Rahmat sepakat, mitigasi bencana bukan hanya pengadaan alat pendeteksi. Yang tidak kalah penting adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi risiko bencana.

Selama ini, sosialisasi dan pendidikan mitigasi bencana ke masyarakat masih rendah. Penyebabnya, lagi-lagi adalah dana yang minim. Secara umum, anggaran di daerah pun sedikit. “Rata-rata hanya 0,002% dari APBD,” sebut Sutopo.

Padahal, Sutopo yakin, jika upaya peningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi risiko bencana berhasil, dampak bencana bisa ditekan. “Salah satu bukti masih minimnya pengetahuan masyarakat terkait bencana adalah, masih banyaknya warga yang berkumpul di pesisir pantai padahal gempa sudah terjadi,” imbuh Sutopo.

Tambah anggaran

Sejatinya, dalam APBN 2019, pemerintah sudah menggeser paradigma dalam penanggulangan bencana. Di tahun-tahun sebelumnya, paradigma lebih menekankan pada aspek tanggap darurat dan pembiayaan yang bersifat reaktif.

Tahun ini, paradigmanya menjadi manajemen risiko bencana. Tujuannya, untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola dan menekan risiko serta mengurangi potensi kerugian bila terjadi bencana.

Saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna Perdana di 2019, Senin (7/1) lalu, Presiden Jokowi mengatakan, tahun ini pemerintah dan DPR mengalokasikan lebih banyak lagi anggaran untuk mitigasi bencana.

“Saya minta edukasi lebih baik, konsisten, lebih dini, masuk ke dalam muatan sistem pendidikan kita, sehingga kita betul-betul siap menghadapi bencana yang ada,” tegas Jokowi.

Menurut Askolani, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, anggaran siap pakai untuk bencana tahun ini, termasuk buat mitigasi, melonjak dua kali lipat lebih menjadi Rp 15 triliun dibanding tahun lalu. “Jumlah yang tidak sedikit, ini bukti pemerintah peduli,” katanya. Sayangnya, ia tidak memerinci berapa anggaran buat mitigasi bencana.

Sebenarnya, Askolani menambahkan, pemerintah sudah memiliki rencana untuk menambah lagi anggaran bencana, jauh sebelum tsunami senyap Selat Sunda menerjang. Hanya pengajuannya ke DPR secara bertahap, dengan mempertimbangkan kebutuhan lain.

Walau belum ada rencana, kata Sutopo, kemungkinan BNPB mengajukan tambahan dana mitigasi bencana tetap ada. “Hanya intinya, prosesnya tidak mudah,” ujar dia.

Seharusnya, untuk mengurangi risiko bencana, prosesnya lebih mudah, dong.

Bagikan

Berita Terbaru

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)
| Senin, 03 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)

Sentimen pasar awal pekan ini akan dipengaruhi oleh rilis sejumlah data makro, baik dari dalam negeri maupun global. 

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:47 WIB

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mulai merasakan manfaat dari energi terbarukan. Bukan hanya mengurangi emisi GRK, sekaligus efisiensi energi.

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas

Di balik upaya menjaga pasokan energi tersebut, para pekerja pengeboran migas di sektor hulu menjadi garda terdepan.

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%

Pemulihan industri otomotif nasional juga turut mendorong peningkatan permintaan terhadap produk komponen otomotif perusahaan. 

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury

Apabila imbal hasil US Treasury masih terus tinggi, maka ada kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga acuan.

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:33 WIB

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri

Kementerian Perindustrian memantau kondisi industri secara berkala guna mendeteksi potensi persoalan sejak dini.

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:31 WIB

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua

Rig pengeboran minyak PDSI 11.2 menjulang kokoh ke langit. Rig milik Pertamina EP Papua Field itu berdiri sebagai simbol eksplorasi energi negeri.

Rally Saham BBCA Melambat: Konsolidasi Sehat atau Awal Pembalikan Arah?
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:21 WIB

Rally Saham BBCA Melambat: Konsolidasi Sehat atau Awal Pembalikan Arah?

Risiko domestik seperti arah kebijakan BI Rate, pergerakan rupiah, maupun sentimen eksternal, masih berpotensi menekan kinerja emiten perbankan.

History, bukan His Story
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:10 WIB

History, bukan His Story

Transformational leader menjadi relevan bilamana hadir tuntutan perbaikan yang begitu besar dan kebutuhan perubahan yang kuat. 

Nasib Gelas Kopi Berubah Usai Diseruput di Kopi Nako
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:10 WIB

Nasib Gelas Kopi Berubah Usai Diseruput di Kopi Nako

Kopi Nako mengolah gelas plastik bekas pakai dari konsumennya untuk dijadikan furnitur di kedai mereka. Apakah menjadi s

INDEKS BERITA

Terpopuler