MSCI Turunkan 1 dari 18 Ukuran Aksesibilitas Indonesia, Status Emerging Masih Aman

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:00 WIB
MSCI Turunkan 1 dari 18 Ukuran Aksesibilitas Indonesia, Status Emerging Masih Aman
[]
Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. MSCI merilis Global Market Accessibility Review 2026 pada 19 Juni 2026 pukul 03.30 WIB. Dari 18 ukuran aksesibilitas pasar, hanya satu ukuran yang diturunkan untuk Indonesia, yakni information flow (arus informasi).

Hasil ini akan menjadi pertimbangan dalam MSCI Annual Market Classification Review yang bakal diumumkan pada 24 Juni 2026 pukul 03.30 WIB. Tinjauan ini akan menentukan, apakah pasar saham suatu negara cocok diklasifikan ke dalam developed market, emerging, frontier, atau standalone.

Dalam laporan tinjauan aksesibilitas terbarunya, MSCI menurunkan peringkat information flow untuk Indonesia dari “+” menjadi “-”. Artinya, penilaian atas arus informasi pasar saham Indonesia berubah dari “no major issues with room to improve” menjadi “improvements needed”.

MSCI menyoroti kurangnya transparansi data kepemilikan saham dan adanya aktivitas perdagangan yang menghambat pembentukan harga yang wajar. Kondisi ini membatasi kemampuan investor global untuk menilai secara akurat besaran free float atau porsi saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan di publik.

Baca Juga: Saham Konglomerasi dan Bank Jumbo Mengangkat IHSG, MSCI Jadi Penentu Selanjutnya

Head of Research Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi dan Analis Ahnaf Yassar mengamini bahwa struktur kepemilikan yang kurang transparan serta indikasi perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga memang masih menjadi kekhawatiran MSCI. Isu serupa juga terjadi di Turki, terutama pada emiten berkapitalisasi pasar kecil.

Meski demikian, keduanya menilai, sejumlah langkah reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas bursa sudah cukup memperbaiki kondisi tersebut. "Keterbukaan tentang pemegang saham 1%, kerangka high shareholding concentration, dan roadmap free float 15% seharusnya cukup untuk mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market,” ucap Prasetya dalam risetnya, 19 Juni 2026.

Analis Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin menambahkan, sorotan MSCI atas arus informasi di pasar saham Indonesia bukan isu baru. Pasalnya, sejak Januari 2026, MSCI sudah membekukan emiten Indonesia dari rebalancing indeksnya akibat isu ini.

Kala itu, MSCI menyebut investor global tidak percaya pada data kepemilikan saham yang tertera dalam Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI). Data tersebut dinilai belum sepenuhnya menggambarkan struktur kepemilikan yang sebenarnya sehingga menimbulkan keraguan dalam menilai tingkat free float saham Indonesia.

Investor global juga khawatir atas kemungkinan adanya perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu proses pembentukan harga yang wajar. Kondisi ini dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko volatilitas yang tidak sehat di pasar.

Atas dasar itu, MSCI menegaskan perlunya informasi struktur kepemilikan yang lebih detail, transparan, dan andal, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi. Langkah ini dinilai krusial agar penilaian free float dan kelayakan investasi saham Indonesia dapat dilakukan secara lebih kuat dan kredibel di mata investor global.

“Ini kekhawatiran yang sudah diketahui, bukan hal baru, dan sesuai ekspektasi kami. Tidak adanya penurunan pada ukuran aksesibilitas yang lain justru menjadi sinyal yang lebih penting,” ujar Wilbert.

 

MSCI Sorot Sejumlah Hambatan Pasar Modal Indonesia pada Review Juni 2026

 

Baca Juga: Dahsyat! Bank Indonesia Menadah SBN Hampir Rp 200 Triliun dalam Hitungan Hari

 

Peluang Turun ke Frontier Dinilai Kecil 

Pasar modal Indonesia berada di bawah tekanan sejak Januari 2026, ketika MSCI pertama kali menyoroti transparansi pasar dan memperingatkan potensi penurunan status dari emerging market ke frontier market.

Pelemahan pasar dalam sebulan terakhir kembali memicu spekulasi bahwa Indonesia bisa diturunkan dari emerging ke frontier. Fokus pasar tertuju pada aspek aksesibilitas serta ukuran dan likuiditas.

Soal likuiditas terasa makin tajam karena bobot Indonesia di MSCI sudah dipangkas lebih dari setengahnya sejak awal tahun, dari 1,16% menjadi 0,45%.

Namun, Wilbert menilai kedua hal ini melebih-lebihkan risikonya. Menurutnya, hasil tinjauan ulang MSCI terhadap aksesibilitas pasar Indonesia yang secara umum tetap stabil justru bakal memberi sentimen positif.

Ia memperkirakan, tinjauan ulang atas klasifikasi pasar saham pada pekan depan akan mengonfirmasi status emerging market Indonesia. “Hasil yang jelas akan menghilangkan hambatan terbesar di pasar. Hal ini akan membuka jalan bagi rebound yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya.

Argumen soal keterbukaan terhadap kepemilikan asing atau foreign room justru yang paling tidak meyakinkan. Pasalnya, merujuk scorecard aksesibilitas MSCI untuk kawasan Asia Pasifik, Indonesia mendapat rating tertinggi untuk tingkat kepemilikan asing, bahkan di atas China dan India yang disorot untuk diperbaiki.

Kekhawatiran yang lebih luas soal transparansi yang disinggung MSCI pada Januari juga sedang dijawab lewat reformasi pasar modal yang sedang berjalan. Kemajuan ini sudah diakui MSCI dan terlihat pada rebalancing Mei 2026.

Masalah ukuran dan likuiditas juga lebih mudah dibantah. Untuk tetap berada di emerging market, MSCI hanya mensyaratkan satu perusahaan yang memenuhi kriteria indeks standar, sementara Indonesia masih memiliki 11 nama.

"Jadi, penurunan bobot oleh MSCI yang hampir separuh lebih mencerminkan pergerakan harga, bukan pelanggaran struktural,” jelasnya. Karena itu, Wilbert tidak melihat sinyal yang kredibel menuju reklasifikasi ke frontier, apalagi mengingat sudah ada perbaikan dalam beberapa bulan terakhir.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

 Menghitung Harga Ideal DMO Batubara
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:34 WIB

Menghitung Harga Ideal DMO Batubara

Kementerian ESDM membuka peluang untuk mengkaji ulang harga batubara DMO lantaran sejumlah faktor di lapangan

Tekad Kuat Ingin Jadi Pengusaha
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:28 WIB

Tekad Kuat Ingin Jadi Pengusaha

Perjalanan karier organisasi dan profesional Sarman Simanjorang menjadi Dirut PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk

Dirut KB Bank Kunardy Darma Lie: Percaya dengan Pertumbuhan Properti
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:41 WIB

Dirut KB Bank Kunardy Darma Lie: Percaya dengan Pertumbuhan Properti

Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, bagikan strategi investasi aman. Pelajari cara kembangkan aset properti dan obligasi untuk masa depan.

Rencana Bisnis Akasha Wira (ADES): Masuk ke Bisnis Gummy demi Dorong Pendapatan
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:32 WIB

Rencana Bisnis Akasha Wira (ADES): Masuk ke Bisnis Gummy demi Dorong Pendapatan

ADES siap luncurkan permen gummy produksi sendiri mulai Q3-2026. Target pasar anak muda kini jadi incaran. Simak profil bisnisnya

Peringatan MSCI ke Pasar Indonesia
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:27 WIB

Peringatan MSCI ke Pasar Indonesia

Peringkat 'information flow' Indonesia turun di MSCI, sinyal bahaya bagi investor. Ini alasan di balik kekhawatiran yang muncul.

Memperkuat Ekosistem Perdagangan Digital
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:05 WIB

Memperkuat Ekosistem Perdagangan Digital

Antisipasi risiko inovasi di platform e-commerce sangat membutuhkan keseimbangan agility dan keamanan.​

Mesin Pertumbuhan Baru
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:00 WIB

Mesin Pertumbuhan Baru

Event lari yang tengah hype bisa menghidupkan ekonomi daerah dan memperkuat perputaran uang di destinasi.

MSCI Turunkan 1 dari 18 Ukuran Aksesibilitas Indonesia, Status Emerging Masih Aman
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:00 WIB

MSCI Turunkan 1 dari 18 Ukuran Aksesibilitas Indonesia, Status Emerging Masih Aman

Meski MSCI menyoroti arus informasi, Indonesia diprediksi lolos dari penurunan status. Apa sinyal penting di balik keputusan ini?

Bunga Tinggi Tekan Pertumbuhan Ekonomi
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:56 WIB

Bunga Tinggi Tekan Pertumbuhan Ekonomi

Kenaikan BI rate menahan ekonomi, namun pertumbuhan tetap bertahan di atas 5%.                          

Hatten Bali (WINE) Mengincar Pertumnbuhan 5%
| Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:00 WIB

Hatten Bali (WINE) Mengincar Pertumnbuhan 5%

WINE tengah memasuki fase pertumbuhan baru setelah mencatatkan kinerja solid sepanjang  tahun 2025 lalu.

INDEKS BERITA

Terpopuler