Nasib Emiten Indonesia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan outlook peringkat Indonesia oleh Moody’s bukan sekadar catatan teknis bagi pemerintah. Sinyal kehati-hatian dari lembaga pemeringkat ini langsung merembet ke dunia usaha.
Setelah menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil ke negatif, Moody's juga menurunkan outlook rating belasan perusahaan Indonesia, baik itu perusahaan pelat merah maupun perusahaan swasta. Sejumlah perusahaan yang terkena imbas antara lain BCA, BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, Pertamina dan anak-anak usahanya, PLN, MIND ID, Indofood, Telkom, Telkomsel, dan United Tractors yang berada di dalam pemeringkatan Moody's.
Dalam logika pemeringkatan, outlook negara berfungsi sebagai payung risiko. Ketika outlook tersebut melemah, ruang gerak perusahaan otomatis ikut menyempit. Moody's menyebutkan, jika outlook negara kembali stabil, maka outlook perusahaan-perusahaan ini juga akan naik lagi, dan sebaliknya.
Biaya pendanaan berpotensi naik dan akses ke pasar keuangan global menjadi lebih selektif. Bagi pelaku usaha, terutama yang memiliki ketergantungan pada pendanaan eksternal dan mata uang asing, penurunan outlook ini menjadi pengingat bahwa risiko makro kini kembali menjadi faktor penentu dalam strategi bisnis dan investasi.
Dalam setengah tahun terakhir, tidak ada perubahan signifikan pada postur kinerja keuangan perusahaan-perusahaan tersebut kecuali BUMN yang baru-baru ini menerima penugasan. Sebaik apa pun tata kelola, perusahaan-perusahaan ini tak mampu menghindari penurunan outlook gara-gara tata kelola negara yang dipertanyakan.
Ketika biaya pendanaan meningkat dan akses kredit menjadi lebih selektif, sektor riil akan menghadapi tekanan dari sisi investasi dan kapasitas produksi. Tekanan juga berpotensi merembet ke rantai pasok dan pasar tenaga kerja.
Pada akhirnya, tantangan terbesar sektor riil bukan hanya bertahan dari tekanan jangka pendek, tetapi menyesuaikan model bisnis dengan lingkungan risiko yang berubah.
Korporasi di Indonesia menghadapi tekanan dari atas berupa peningkatan risiko negara. Sementara dari bawah, konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh ekonomi Indonesia juga menghadapi tekanan.
Untung saja, sebentar lagi Ramadan dan Lebaran. Mau outlook seburuk apa pun, Ramadan dan Lebaran pasti membawa berkah berupa peningkatan konsumsi musiman tertinggi.
