Oversuplai Kopi Premium

Minggu, 20 September 2020 | 14:42 WIB
 Oversuplai Kopi Premium
[ILUSTRASI. Kopi siap panen]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi korona sejak awal 2020, telah menutup hotel, restoran, dan kafe. Dampaknya, permintaan kopi kualitas premium menurun. Tahun 2020 ini produksi kopi normal, hingga 2021 potensial terjadi oversuplai kopi disertai penurunan harga.

Dekade 1990, harga kopi pernah melambung tinggi. Waktu itu embun beku (frost), yang melanda Amerika Tengah dan Selatan telah menghancurkan perkebunan kopi di Brasil, Kolumbia dan Meksiko; tiga negara jawara kopi dunia. Inilah lima besar penghasil kopi dunia 1990 (FAO, ton green bean): Brasil 1.464.856; Kolumbia 845.000; Meksiko 440.000; Indonesia 412.767; Ethiopia 204.000).

Tahun 1990 Vietnam baru menghasilkan 92.000 ton kopi. Akhir dekade 1990, kebun-kebun kopi Brasil, Meksiko dan Kolumbia pulih. Tetapi tiba-tiba Vietnam menyodok jadi penghasil kopi nomor dua dunia.

Tahun 2000, lima besar penghasil kopi dunia (FAO, ton green bean): 2000 Brasil 1.903.562; Vietnam 802.500; Kolumbia 637.140; Indonesia 554.574; Meksiko 338.170. Sebagai pendatang baru, Vietnam belum menjadi anggota Association of Coffee Producing Countries (ACPC) dan International Coffee Organisation (ICO); hingga tak terikat dengan kuota. Karenanya Vietnam bebas melempar green bean mereka ke pasar dunia. Akibatnya harga kopi di tingkat dunia jatuh.

Negara anggota ACPC dan ICO, termasuk Indonesia sepakat pada ketentuan retensi kopi. Mereka menahan green bean mereka tetap berada di gudang.

Brasil sebagai negeri penghasil kopi terbesar di dunia, terpaksa membuang green bean mereka ke laut. Apa mereka tidak rugi? Tidak, sebab green bean itu telah dibeli oleh koperasi dan asosiasi kopi mereka. Kalau stok itu tidak dibuang, Brasil dan juga dunia akan kelebihan pasokan hingga harga akan terus menurun.

ACPC dan ICO melobi Vietnam agar segera menjadi anggota dan menandatangani ratifikasi produksi dan perdagangan kopi. Vietnam setuju hingga harga kopi dunia kembali stabil. Kondisi perdagangan kopi akibat pandemi korona pada tahun 2020 ini, berbeda dengan akhir dekade 1990 dan awal dekade 2000, saat Vietnam menjadi penghasil kopi utama kedua setelah Brasil.

Dekade 2010, pasar kopi dunia sangat sehat. Ini ditandai dengan naiknya produksi, sekaligus konsumsi kopi dunia. Tahun 2010 lima besar penghasil kopi dunia menjadi (FAO, ton green bean): Brasil 2.907.265; Vietnam 1.105.700; Indonesia 684.076; Kolumbia 535.380; Ethiopia 370.569.

Sebagai penghasil kopi terbesar ketiga dunia, konsumsi kopi Indonesia hanya peringkat 101, sebesar 0,5 kg, per kapita per tahun. Posisi ini di bawah Filipina peringkat 90; 0,7 kg; Malaysia peringkat 82; 0,9 kg, bahkan dengan Laos (peringkat 63; 1,4 kg.

Selama satu dekade kemudian, tingkat konsumsi kopi Indonesia mengalami kenaikan 400% dari 0,5 kilogram, menjadi 2 kilogram per kapita per tahun.

Kopi sachet

Pada dekade awal 2020, naiknya konsumsi kopi Indonesia disebabkan pertumbuhan kopi sachet. Rumah tangga yang sebelumnya mengonsumsi kopi bubuk yang dibeli di pasar; beralih ke kopi sachet karena bisa dibeli di warung terdekat, dan mudah penyajiannya. Mereka yang sebelumnya tidak minum kopi, mulai menjadi konsumen kopi. Mereka yang sudah jadi konsumen kopi, meningkat volume konsumsinya.

Industri kopi sachet mendapat tantangan dari maraknya kafe pada akhir dekade 2010. Meski industri kopi terpukul, secara nasional tingkat konsumsi kopi Indonesia naik tajam justru pada akhir dekade 2010. Tren ini dimotori industri pasca panen kopi, terutama mesin penyangrai (roasting), penggiling (grinding), dan penyeduh. Mereka punya kepentingan memasarkan produk, dengan berbagai cara, terutama menciptakan tren minum kopi. Pameran peralatan kopi, pelatihan barista, marak. Masyarakat dirayu beli peralatan kopi, lalu membuka kafe. Hingga di pelosok kampung di pedalaman Pegunungan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo, DIY, misalnya, bisa kita jumpai kedai kopi modern.

Minum kopi berubah menjadi gaya hidup. Konsumen kopi juga teredukasi mengenal jenis kopi: Arabika, Robusta dan Liberika. Mereka tahu jenis pasca panen natural, full washed, semi washed, dan fermented yang dikenal sebagai kopi wine.

Asal-usul kopi juga punya konsumen fanatiknya. Sebutan Kopi Gayo, Mandailing, Lampung, Garut, Manggarai, dan Wamena; menjadi populer menyusul kopi toraja yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat. Kawasan kecil penghasil kopi yang sebelumnya tak dikenal, tiba-tiba bisa tampil secara nasional.

Lalu di tengah euforia minum kopi nasional ini, datanglah pandemi akibat virus korona pada awal 2020. Hotel, restoran, kafe dan kedai kopi langsung tutup. Kalau pun tetap buka, pengunjung tak ada. Kopi sachet kembali berjaya. Sebab pembeli peralatan pembuat kopi, ternyata lebih banyak didominasi kafe dan kedai kopi skala kecil; bukan rumah tangga.

Volume konsumsi kopi skala rumah tangga, masih terlalu kecil untuk dilengkapi peralatan roasting, grinding dan penyeduh kopi. Yang mereka beli umumnya hanya penyeduh kopi, sedangkan kopi bubuk disuplai oleh produsen.

Tahun 2020 ini, data mutakhir produksi kopi yang disajikan FAO baru tahun 2018. Lima besar penghasil kopi dunia seperti ini (FAO, ton green bean): Brasil 3.556.638; Vietnam 1.616.307; Indonesia 722.461, Kolumbia 720.634, Honduras 481.053. Yang terpukul akibat pandemi 2020 memang bukan hanya kopi.

Semua produk pertanian premium ikut terkena dampak. Ayam 1,5 kg, yang sebelumnya diserap restoran cepat saji; sekarang masuk pasar tradisional. Juga ikan, bahkan daging sapi sirloin dan tenderloin juga bisa dibeli di tukang daging di pasar becek. Sebelumnya sirloin dan tenderloin hanya masuk restoran steak.

Bagikan

Berita Terbaru

Jelang Lebaran 2026, Tiga Operator Jalan Tol Proyeksi Lonjakan Arus Kendaraan
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:51 WIB

Jelang Lebaran 2026, Tiga Operator Jalan Tol Proyeksi Lonjakan Arus Kendaraan

Per Sabtu (14/3), Jasa Marga mencatat sekitar 285.000 unit kendaraan telah meninggalkan teritori Jakarta. 

Genjot Likuiditas Saham, Alamtri Resources (ADRO) Menggelar Buyback
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:33 WIB

Genjot Likuiditas Saham, Alamtri Resources (ADRO) Menggelar Buyback

Jumlah saham yang dibeli kembali  PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tak akan melebihi 10% dari jumlah modal ditempatkan dalam perusahaan.

Tertekan Daya Beli, Laba HM Sampoerna (HSMP) Terkoreksi Pada 2025
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:24 WIB

Tertekan Daya Beli, Laba HM Sampoerna (HSMP) Terkoreksi Pada 2025

Laba bersih PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) hanya Rp 6,6 triliun pada 2025. Angka ini turun 0,54% secara tahunan.

Emiten Berburu Modal Baru Melalui Rights Issue
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:18 WIB

Emiten Berburu Modal Baru Melalui Rights Issue

Peluang keberhasilan rights issue di tengah pasar fluktuatif dinilai sangat bergantung pada kepastian pembeli siaga

Ekspansi ASEAN dan Efisiensi Biaya Bikin Prospek Saham KLBF Tetap Menarik
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:13 WIB

Ekspansi ASEAN dan Efisiensi Biaya Bikin Prospek Saham KLBF Tetap Menarik

Ekspansi ASEAN mempercepat pertumbuhan pendapatan regional, memperbesar pangsa pasar, serta mendiversifikasi risiko.

Menakar Ambisi Danantara Suntik Rp 16 Triliun ke Meikarta di Tengah Tingginya Backlog
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:05 WIB

Menakar Ambisi Danantara Suntik Rp 16 Triliun ke Meikarta di Tengah Tingginya Backlog

Sejumlah proyek yang digagas pemerintah terkadang ramai pada tahap pengumuman awal, namun realisasinya tidak selalu terlihat.

Kinerja Bank Digital Positif, Apakah Sahamnya Bakal Ikut Naik?
| Minggu, 15 Maret 2026 | 09:00 WIB

Kinerja Bank Digital Positif, Apakah Sahamnya Bakal Ikut Naik?

Perbaikan fundamental belum tercermin pada pergerakan saham emiten bank digital yang cenderung loyo.

Reli Semu Bitcoin: Sempat Melesat ke 73.510, Anjlok Lagi Dihantam Sentimen Perang
| Minggu, 15 Maret 2026 | 08:00 WIB

Reli Semu Bitcoin: Sempat Melesat ke 73.510, Anjlok Lagi Dihantam Sentimen Perang

Data inflasi AS bulan Februari sebesar 2,4% belum memotret dampak riil dari hantaman ekonomi akibat perang AS-Israel versus Iran. 

Jelang Dua Tahun Implementasi PPK dengan Skema FCA, Desakan Evaluasi Semakin Menguat
| Minggu, 15 Maret 2026 | 07:05 WIB

Jelang Dua Tahun Implementasi PPK dengan Skema FCA, Desakan Evaluasi Semakin Menguat

BEI saat ini tengah melakukan evaluasi terhadap Papan Pemantauan Khusus (PPK), yang ditargetkan tuntas pada kuartal II-2026. 

Rupiah Melemah Pekan Ini, Waspada Dampak Geopolitik Global!
| Minggu, 15 Maret 2026 | 06:00 WIB

Rupiah Melemah Pekan Ini, Waspada Dampak Geopolitik Global!

Nilai tukar rupiah tertekan 0,38% ke Rp16.958 di akhir pekan ini. Simak pemicu utama pelemahan dan risiko yang harus diwaspadai.

INDEKS BERITA

Terpopuler