Pabrik Beroperasi Lagi, Krakatau Steel (KRAS) Siap Genjot Kinerja Pada 2025

Sabtu, 12 Juli 2025 | 05:45 WIB
Pabrik Beroperasi Lagi, Krakatau Steel (KRAS) Siap Genjot Kinerja Pada 2025
[ILUSTRASI. Industri baja PT Krakatau Steel Tbk ]
Reporter: Dimas Andi | Editor: Dikky Setiawan

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Emiten produsen baja pelat merah, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) percaya diri mampu meraih kinerja positif di sisa tahun 2025. Optimisme ini seiring telah beroperasinya kembali fasilitas pabrik Hot Strip Mill 1 (HSM-1) KRAS sejak akhir tahun 2024.

Pada pertengahan 2023, fasilitas pabrik HSM-1 KRAS berhenti beroperasi karena mengalami kebakaran akibat kahar atau force majeur. Terhentinya produksi pabrik tersebut, ikut mengganggu kinerja operasional KRAS.

Walhasil, di kuartal I-2025, KRAS hanya meraih pendapatan sebesar US$ 234,76 juta, naik tipis 1,28% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 231,79 juta pada kuartal I-2024.

Namun, di tiga bulan pertama 2025, KRAS masih menderita rugi bersih US$ 46,91 juta, membengkak 60,98% (yoy) dari rugi US$ 29,14 juta di kuartal I-2024.

Baca Juga: Sahamnya Disuspensi BEI, Begini Penjelasan Krakatau Steel (KRAS)

Direktur Keuangan Krakatau Steel, Daniel Fitzgerald Liman mengatakan, kerugian KRAS pada kuartal pertama tahun ini disebabkan fasilitas produksi HSM-1 masih dalam proses pemulihan usai kejadian kahar pada 2023.

"Saat itu, kami masih menanggung beban keuangan yang tinggi," ujar dia dalam paparan publik insidentil, Jumat (11/7).

Namun, lanjut Daniel, saat ini pabrik HSM-1 sudah siap berproduksi secara optimal. Itu sebabnya, Daniel optimistis, KRAS dapat segera memulihkan kinerjanya di 2025.

Direktur Komersial, Pengembangan Usaha, dan Portofolio Krakatau Steel, Hernowo menambahkan, selain optimalisasi fasilitas HSM-1, KRAS juga akan menggenjot efisiensi biaya di tengah ketatnya kondisi geopolitik dan ekonomi global.

Efisiensi dan ekspansi

Efisiensi ini, salah satunya dilakukan dengan menerapkan teknologi digital dalam proses bisnis. Selain itu, KRAS akan memperkuat sinergi antaranak usaha dan subholding guna menciptakan daya saing berkelanjutan.

KRAS juga akan melakukan ekspansi untuk memperkuat bisnis inti maupun penjajakan bisnis baru melalui kemitraan strategis.

Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menilai, jika pabrik HSM-1 bisa beroperasi secara penuh kembali, maka utilisasi produksi baja KRAS untuk produk Hot Rolled Coil (HRC) dapat meningkat.

Produk HRC bisa memberikan margin lebih tinggi bagi KRAS dibandingkan produk intermediate baja lainnya."Tapi kalau untuk profit masih berat. Cuma, setidaknya KRAS bisa menurunkan rugi bersih pada tahun ini," kata Wafi.

Dari sisi pergerakan saham, Wafi melihat, saham KRAS masih relatif murah dengan price book value (PBV) di bawah 1 kali.

Baca Juga: Krakatau Steel Teken MoU Strategis di Ajang BRICS Matchmaking Meeting di Beijing

Ada kemungkinan harga saham KRAS bisa mencapai level sekitar Rp 400-Rp 500 per saham ketika mulai diperdagangkan kembali. Namun, Wafi mengingatkan investor agar terus memantau perkembangan bisnis KRAS.

Pada 13 Juni 2025, BEI mengumumkan saham KRAS masuk ke dalam kategori unusual market activity (UMA) lantaran harganya naik signifikan. Pasca UMA, saham KRAS dihentikan sementara atau suspensi perdagangan pada 1 Juli lalu.

Sehari berselang atau pada 2 Juli 2025, suspensi saham KRAS dibuka kembali oleh BEI. Namun, pada 7 Juli saham KRAS kembali disuspensi karena dinilai pergerakan sahamnya belum wajar. Terakhir, saham KRAS masih ada di level Rp 314 per saham.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, bila saham KRAS tak lagi disuspensi, harganya berpotensi mencapai Rp 346-Rp 356 per saham. Dia merekomendasikan trading buy saham KRAS ketika sahamnya diperdagangkan kembali.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Genjot Kinerja, JPFA Tebar Belanja Modal Rp 4 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:53 WIB

Genjot Kinerja, JPFA Tebar Belanja Modal Rp 4 Triliun

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) memproyeksikan belanja modal atau capital expenditure (capex) di sepanjang 2026 akan melampaui Rp 4 triliun.

AMMN Mulai Eksekusi Aksi Buyback Saham Rp 1 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:46 WIB

AMMN Mulai Eksekusi Aksi Buyback Saham Rp 1 Triliun

Aksi korporasi ini akan berlangsung selama tiga bulan dan dimulai pada Kamis 22 Oktober 2026 hingga 22 Januari 2027.​

TLDN Bayar Dividen Interim Tahun 2026 Rp 258,9 Miliar
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:42 WIB

TLDN Bayar Dividen Interim Tahun 2026 Rp 258,9 Miliar

Kemarin, emiten perkebunan sawit tersebut telah melaksanakan pembayaran dividen interim tahun 2026 senilai Rp 258,93 miliar dari buku tahun 2026. 

Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan Imbas El Nino
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan Imbas El Nino

Pada September 2026 lalu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan

Penjualan Tiap Toko Membaik, Prospek ACES Semakin Ciamik
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:38 WIB

Penjualan Tiap Toko Membaik, Prospek ACES Semakin Ciamik

Pertumbuhan SSSG PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) di sembilan bulan 2026 berbalik dari kontraksi 3,6% yoy pada periode sama di tahun 2025.

Alokasi Anggaran Rekening Gratis Rp 1,28 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:32 WIB

Alokasi Anggaran Rekening Gratis Rp 1,28 Triliun

Alokasi anggaran tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan pemerintah sebelumnya yang sebesar Rp 3,8 triliun

Pengecualian HSC Belum Menjawab Tuntutan MSCI
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:29 WIB

Pengecualian HSC Belum Menjawab Tuntutan MSCI

Kekhawatiran MSCI bukan lagi mengenai perhitungan IHSG. Tapi transparansi kepemilikan, dugaan coordinated trading dan lemahnya penegakan hukum. ​

Biaya Utang Pemerintah Semakin Mahal
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:28 WIB

Biaya Utang Pemerintah Semakin Mahal

Pemerintah memiliki sisa penerbitan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 302 triliun di kuartal IV-2026

Angin Segar dari Aksi Beli Danantara
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:16 WIB

Angin Segar dari Aksi Beli Danantara

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menyatakan mulai masuk ke pasar saham. 

Penjualan Tumbuh, Laba Bersih Unilever (UNVR) Menanjak 25%
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Penjualan Tumbuh, Laba Bersih Unilever (UNVR) Menanjak 25%

Penjualan UNVR meningkat 7,2% year on year (yoy) menjadi Rp 25,8 triliun. Sedangkan laba bersih mencapai Rp 4,2 triliun, melonjak 25,96% yoy.

INDEKS BERITA

Terpopuler