Papua Nugini dan Exxon Lanjutkan Pembahasan Pengembangan Lapangan Gas P’nyang

Senin, 23 Agustus 2021 | 11:38 WIB
Papua Nugini dan Exxon Lanjutkan Pembahasan Pengembangan Lapangan Gas P’nyang
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Logo Exxon Mobil Corp dalam event pameran di Rio de Janeiro, Brazil, 24 September 2018. REUTERS/Sergio Moraes/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - MELBOURNE. Pemerintah Papua Nugini (PNG) dan raksasa minyak dan Amerika Serikat (AS), Exxon Mobil Corp, berencana melanjutkan pembicaraan tentang pengembangan proyek gas alam P'nyang. Rencana yang telah dikonfirmasi Exxon itu, muncul setelah negosiasi sebelumnya terhenti, hampir dua tahun silam.

Pada November 2019, pembicaraan tentang perluasan ekspor gas alam cair (LNG) senilai US$ 13 miliar, atau setara Rp 187,3 triliun, kandas. Pemerintah Papua Nugini mengatakan Exxon tidak mau bernegosiasi dengan persyaratan yang dimintanya.

Papua Nugini mengincar tingkat pengembalian yang lebih baik dibandingkan hasil yang diperolehnya dari kesepakatan asli yang dibuat pada tahun 2008.

Baca Juga: Harga minyak berusaha rebound pada Senin (23/9) pagi setelah turun pekan lalu

“Kami menantikan diskusi lebih lanjut dengan Papua Nugini untuk menyelaraskan kesepakatan gas yang memastikan manfaat yang adil bagi pemangku kepentingan proyek dan masyarakat negeri itu,” demikian pernyataan Exxon melalui email, tanpa memberi penjelasan lebih rinci.

Pembicaraan difokuskan ke pengembangan lapangan gas P'nyang. Exxon dan mitranya, termasuk Oil Search Ltd, bermaksud mengembangkan P'nyang untuk memasok dua train atau unit pemrosesan baru di Papua Nugini.

Namun sejak pembicaraan gagal, pemikiran telah bergerak ke arah pemenuhan pasokan fasilitas pengolahan yang sudah ada, mengingat cadangan gas di sumber yang digunakan, mulai menipis. Demikian pernyataan Oil Search sebelumnya.

Baca Juga: Merger dan Akuisisi di Australia Sejauh Tahun Ini Rekor, Sudah Tembus US$ 174 Miliar

Menteri Perminyakan Papua Nugini, Kerenga Kua, Senin (23/8), menyatakan, jika semuanya berjalan dengan baik, kita dapat mengharapkan untuk menandatangani head agreement P'nyang sekitar akhir bulan depan ini, menyusul setelah itu, kesepakatan tentang gas.” 

“Kami berharap untuk kemajuan lebih lanjut dalam negosiasi ini dan akan mendukung (Exxon) melalui 38,51% saham kami di usaha patungan,” kata Diego Fettweis, wakil presiden eksekutif Oil Search untuk bisnis komersial.

Kepemilikan di usaha patungan yang bernama PNG LNG itu, ibarat permata di antara aset Oil Search. Perusahaan itu baru saja menerima tawaran pengambilalihan saham dari Santos Ltd senilai sekitar A$8 miliar, atau setara Rp 82,5 triliun.

Selanjutnya: Presidennya Ikut Disuntik, Taiwan Mulai Menggunakan Vaksin Covid Buatan Domestik

 

Bagikan

Berita Terbaru

Membandingkan Kinerja dan Aset Bank Syariah, Mana yang Lebih Kuat?
| Selasa, 24 Maret 2026 | 16:00 WIB

Membandingkan Kinerja dan Aset Bank Syariah, Mana yang Lebih Kuat?

Sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia, Indonesia diproyeksikan memiliki industri perbankan syariah yang bertumbuh.

DBS Rekomendasikan Diversifikasi Portofolio, Tambah Saham EM dan Emas
| Selasa, 24 Maret 2026 | 13:00 WIB

DBS Rekomendasikan Diversifikasi Portofolio, Tambah Saham EM dan Emas

DBS melihat adanya pergeseran preferensi investor dari aset berbasis AS yang dinilai sudah terlalu padat menuju kawasan lain, terutama Asia.

Dividen PGAS Dipertanyakan, Manajemen Tetap Percaya Diri
| Selasa, 24 Maret 2026 | 13:00 WIB

Dividen PGAS Dipertanyakan, Manajemen Tetap Percaya Diri

J.P. Morgan dan UBS sama-sama melihat adanya tekanan terhadap kinerja keuangan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) ke depan.

Emiten Rokok 2026 di Persimpangan: Margin Membaik, Risiko Regulasi Mengintai
| Selasa, 24 Maret 2026 | 09:00 WIB

Emiten Rokok 2026 di Persimpangan: Margin Membaik, Risiko Regulasi Mengintai

Emiten rokok di satu sisi mendapat angin segar dari tak adanya kenaikan cukai, namun di sisi lain dibayangi risiko regulasi kadar tar dan nikotin.

Di Tengah Tekanan Minyak, Prospek Discretionary 2026 Masih Tarik Ulur
| Selasa, 24 Maret 2026 | 08:00 WIB

Di Tengah Tekanan Minyak, Prospek Discretionary 2026 Masih Tarik Ulur

Analis menilai kenaikan harga minyak berisiko menekan konsumsi, termasuk kalangan di segmen menengah-atas.

Lonjakan Laba BUKA Sarat Faktor Non Operasional
| Selasa, 24 Maret 2026 | 07:00 WIB

Lonjakan Laba BUKA Sarat Faktor Non Operasional

Analis memperkirakan BUKA akan mulai mencatatkan adjusted EBITDA positif Rp 124 miliar di 2026 dan terus meningkat hingga Rp 230 miliar di 2027.

CORE Indonesia: Perang Iran VS Israel-AS Berpotensi Gerus Ekspor Indonesia
| Selasa, 24 Maret 2026 | 04:00 WIB

CORE Indonesia: Perang Iran VS Israel-AS Berpotensi Gerus Ekspor Indonesia

Indonesia mengekspor produk-produknya ke Uni Arab Emirat (UAE), Arab Saudi, Qatar, Oman, Irak, Iran, Kuwait, dan Bahrain.

Daya Tarik Emas Memudar? Terjun 8% dalam Sehari, Terburuk 43 Tahun
| Senin, 23 Maret 2026 | 17:27 WIB

Daya Tarik Emas Memudar? Terjun 8% dalam Sehari, Terburuk 43 Tahun

Harga emas turun lebih dari 10% minggu lalu. Ini adalah penurunan mingguan tercuram sejak Februari 1983.

Peluang Saham ICBP di Tengah Isu Daya Beli dan Kenaikan Harga Bahan Baku
| Senin, 23 Maret 2026 | 15:00 WIB

Peluang Saham ICBP di Tengah Isu Daya Beli dan Kenaikan Harga Bahan Baku

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) diproyeksikan masih akan melanjutkan tren kinerja keuangan yang solid di tahun ini.

Kenaikan Harga Ayam Broiler dan Impor Bahan Baku Jadi Penentu Kinerja CPIN
| Senin, 23 Maret 2026 | 14:50 WIB

Kenaikan Harga Ayam Broiler dan Impor Bahan Baku Jadi Penentu Kinerja CPIN

Pemerintah berencana memperluas cakupan MBG hingga 83 juta penerima pada Mei 2026, naik signifikan dibandingkan 55 juta penerima di Januari 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler