Pasar Altcoin Terburuk Dalam 5 Tahun, Bitcoin Berpeluang Jatuh ke US$ 40.000?

Senin, 23 Februari 2026 | 05:41 WIB
Pasar Altcoin Terburuk Dalam 5 Tahun, Bitcoin Berpeluang Jatuh ke US$ 40.000?
[ILUSTRASI. Altcoin crypto (Jonathan Raa/NurPhoto via Reuters)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar altcoin kembali mencuri perhatian. Namun karena performa buruknya yang tercatat di awal tahun 2026 ini, tekanan jual di pasar altcoin mengganas dan dinilai mencapai level paling ekstrem di lima tahun terakhir.

Mengutip Tokocrypto, berdasarkan data kumulatif buy/sell difference untuk altcoin, tercatat bahwa sebanyak US$ 209 miliar keluar dari pasar, menandakan arus jual bersih yang terus menumpuk dalam 13 bulan terakhir di pasar spot exchange terpusat. Bila dibandingkan dengan kondisi di Januari 2025 lalu, permintaan masih relatif seimbang sebab metrik yang sama berada di kisaran mendekati nol.

Dapat dikatakan, pada periode Januari 2025 lalu, permintaan altcoin masih relatif seimbang dengan suplai sehingga aksi beli masih mampu mengimbangi tekanan jual. Namun pekan lalu, arus jual bersih bergerak satu arah dan terus melebar menembus angka US$ 209 miliar.

Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menyampaikan bahwa tekanan yang terjadi pada performa altcoin tidak bisa lepas dari performa bitocoin yang juga terpuruk.

Baca Juga: Pasar Dihantui Kecemasan, Harga Bitcoin Tertekan

Selaras, berdasarkan situs Crypto Quant, pelemahan altcoin masih berkaitan dengan pelemahan bitcoin yang saat ini berada di US$ 68.000 padahal di Oktober 2025 lalu masih ada di US$ 125.000.

"Peristiwa jebloknya harga bitcoin (BTC) dan mayoritas aset kripto belakangan ini lebih disebabkan faktor pasar ketimbang masalah fundamental blockchain. Bursa crypto dunia sedang deleverage besar-besaran, banyak posisi long margin ditutup paksa," jelas Fyqieh kepada KONTAN, Kamis (19/2).

Dia melanjutkan, faktor pemicu lain adalah sentimen makro global, yaitu data inflasi AS yang membaik (CPI melemah ke 2,4% tahunan) sempat memunculkan ekspektasi The Fed akan pangkas suku bunga, sehingga 10 year yield turun ke 4,05%.

Bitcoin pun sebenarnya sempat melonjak ke level US$ 70.000 dalam jangka pendek, namun reli itu tidak bertahan lama ketika pelaku pasar tetap hati-hati. Selain itu, ada masalah struktural, yaitu hedge fund besar di Asia banyak yang highly-leveraged.

Tak hanya itu, beberapa institusi juga menarik modal dari bitcoin ETF, data on-chain menunjukkan arus keluar besar-besaran dari ETF bitcoin sebelum dan selama crash.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Pelajaran Keadilan dari Perjalanan Nvidia
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:35 WIB

Pelajaran Keadilan dari Perjalanan Nvidia

Turnover pegawai Nvidia sangat rendah, yakni 2,7%. Jauh di bawah dari dari 17,7% turnover pegawai  industri semikonduktor.

DSSA Masih Diburu dan Bertahan di Atas Rp 1.000, Minat Investor Asing Belum Luntur
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:00 WIB

DSSA Masih Diburu dan Bertahan di Atas Rp 1.000, Minat Investor Asing Belum Luntur

Net foreign buy menunjukkan sebagian investor asing melihat cerita spesifik DSSA lebih penting daripada statusnya di indeks MSCI.

Simak Prospek TLKM yang Kantongi 17 Rekomendasi Beli Sejak Awal Agustus 2026
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 09:00 WIB

Simak Prospek TLKM yang Kantongi 17 Rekomendasi Beli Sejak Awal Agustus 2026

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berencana melepas tiga hingga empat anak usaha yang masih merugi sebelum akhir 2026.

Menakar Dampak Kehadiran Sandiaga Uno Sebagai Komisaris Utama Terhadap Prospek MUTU
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Menakar Dampak Kehadiran Sandiaga Uno Sebagai Komisaris Utama Terhadap Prospek MUTU

Nilai tambah kehadiran Sandiaga Uno lebih mungkin muncul melalui jaringan, strategic partnership, dan akses ke ekosistem investasi.

Asing Rotasi di Bank BUMN, BBRI Jadi Pilihan, BMRI Tertekan
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:51 WIB

Asing Rotasi di Bank BUMN, BBRI Jadi Pilihan, BMRI Tertekan

Menurut analis BBRI dan BBNI relatif menarik karena valuasinya masih kompetitif dengan prospek pertumbuhan kredit dan laba yang solid.

Peta Persaingan Berubah, Konsolidasi serta Ekspansi Fiber Jadi Andalan Emiten Menara
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:42 WIB

Peta Persaingan Berubah, Konsolidasi serta Ekspansi Fiber Jadi Andalan Emiten Menara

Entitas gabungan MTEL dan TBIG akan memiliki valuasi sekitar Rp 90 triliun hingga Rp 93 triliun, jauh lebih besar dibandingkan skala milik TOWR.

Profil Swayasa Prakarsa (SWAP), Perusahaan Riset UGM yang Bakal Melantai di BEI
| Senin, 24 Agustus 2026 | 15:47 WIB

Profil Swayasa Prakarsa (SWAP), Perusahaan Riset UGM yang Bakal Melantai di BEI

PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) masih mengalami kerugian meskipun nilainya menyusut, diiringi pendapatan yang tumbuh positif.

Industri Semen Mulai Pulih, Begini Prospek Saham INTP dan SMGR di Semester II-2026
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Industri Semen Mulai Pulih, Begini Prospek Saham INTP dan SMGR di Semester II-2026

Perbaikan kinerja emiten semen berlangsung di tengah kondisi kelebihan pasokan yang masih menghantui.

Cari Tambahan Modal Baru, Emiten Siap Menggelar Rights Issue
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Cari Tambahan Modal Baru, Emiten Siap Menggelar Rights Issue

Saat ini ada beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berencana menggelar aksi korporasi rights issue.

Hari Kejepit di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (24/8)
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Hari Kejepit di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (24/8)

Investor tetap perlu memperhatikan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta perkembangan sentimen eksternal. 

INDEKS BERITA

Terpopuler