Pasar Altcoin Terburuk Dalam 5 Tahun, Bitcoin Berpeluang Jatuh ke US$ 40.000?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar altcoin kembali mencuri perhatian. Namun karena performa buruknya yang tercatat di awal tahun 2026 ini, tekanan jual di pasar altcoin mengganas dan dinilai mencapai level paling ekstrem di lima tahun terakhir.
Mengutip Tokocrypto, berdasarkan data kumulatif buy/sell difference untuk altcoin, tercatat bahwa sebanyak US$ 209 miliar keluar dari pasar, menandakan arus jual bersih yang terus menumpuk dalam 13 bulan terakhir di pasar spot exchange terpusat. Bila dibandingkan dengan kondisi di Januari 2025 lalu, permintaan masih relatif seimbang sebab metrik yang sama berada di kisaran mendekati nol.
Dapat dikatakan, pada periode Januari 2025 lalu, permintaan altcoin masih relatif seimbang dengan suplai sehingga aksi beli masih mampu mengimbangi tekanan jual. Namun pekan lalu, arus jual bersih bergerak satu arah dan terus melebar menembus angka US$ 209 miliar.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menyampaikan bahwa tekanan yang terjadi pada performa altcoin tidak bisa lepas dari performa bitocoin yang juga terpuruk.
Baca Juga: Pasar Dihantui Kecemasan, Harga Bitcoin Tertekan
Selaras, berdasarkan situs Crypto Quant, pelemahan altcoin masih berkaitan dengan pelemahan bitcoin yang saat ini berada di US$ 68.000 padahal di Oktober 2025 lalu masih ada di US$ 125.000.
"Peristiwa jebloknya harga bitcoin (BTC) dan mayoritas aset kripto belakangan ini lebih disebabkan faktor pasar ketimbang masalah fundamental blockchain. Bursa crypto dunia sedang deleverage besar-besaran, banyak posisi long margin ditutup paksa," jelas Fyqieh kepada KONTAN, Kamis (19/2).
Dia melanjutkan, faktor pemicu lain adalah sentimen makro global, yaitu data inflasi AS yang membaik (CPI melemah ke 2,4% tahunan) sempat memunculkan ekspektasi The Fed akan pangkas suku bunga, sehingga 10 year yield turun ke 4,05%.
Bitcoin pun sebenarnya sempat melonjak ke level US$ 70.000 dalam jangka pendek, namun reli itu tidak bertahan lama ketika pelaku pasar tetap hati-hati. Selain itu, ada masalah struktural, yaitu hedge fund besar di Asia banyak yang highly-leveraged.
Tak hanya itu, beberapa institusi juga menarik modal dari bitcoin ETF, data on-chain menunjukkan arus keluar besar-besaran dari ETF bitcoin sebelum dan selama crash.
