Pelemahan Rupiah Sepanjang Masa, Efek Gulirnya Membebani Biaya Hidup Masyarakat

Rabu, 20 Mei 2026 | 10:00 WIB
Pelemahan Rupiah Sepanjang Masa, Efek Gulirnya Membebani Biaya Hidup Masyarakat
[ILUSTRASI. Rupiah Terlemah Sepanjang Masa (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Performa mata uang Garuda masih konsisten membuat was-was akibat menyandang rekor sebagai salah satu nilai tukar terlemah di dunia. Dalam sepekan terakhir saja misalnya, rupiah telah menembus level Rp 17.600 per dolar AS dan resmi ditasbihkan sebagai pelemahan terdalam sepanjang sejarah modern Indonesia.

Level kritis yang terus ditembus tiap harinya, bahkan sempat mengundang kekhawatiran publik akan terulangnya krisis 1998 silam.

Walau beberapa ekonom mantap menyebutkan bahwa kondisi pelemahan rupiah belum mencapai level krisis moneter dua dekade lalu, namun dampaknya telah nyata terasa di kehidupan sehari-hari. Tidak hanya harga pangan, imbasnya juga terasa pada biaya renovasi rumah, kenaikan harga barang impor, konsumsi hobi bahkan hingga perencanaan keuangan ke depan.

Sebelum menguliti dampak depresiasi rupiah yang semakin terjerembab, Chief Economist PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) Josua Pardede menyampaikan pelemahan rupiah saat ini memiliki struktur yang berbeda jika dibandingkan krisis 1998.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rekor Terburuk, Pasar Saham Terjun Bebas, Simak Proyeksi IHSG Hari Ini

Pada masa itu, tekanan rupiah terjadi bersamaan dengan krisis perbankan, utang valas swasta yang besar, cadangan devisa yang tipis serta runtuhnya kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional.

"Sekarang, pondasi makro Indonesia masih relatif lebih kuat bila dibandingkan dengan masa tersebut. Ekonomi masih tumbuh, inflasi masih terkendali, sistem keuangan masih terjaga, dan cadangan devisa masih cukup besar," urai Josua kepada Kontan belum lama ini.

Sekadar mengingatkan saja, cadangan devisa Indonesia per April 2026 ada mencapai US$ 146, 2 miliar atau kurang lebih setara dengan 5,8 bulan impor. Josua bilang, setidaknya "bantalan" ini membuat risiko gagal bayar utang negara dalam jangka pendek, masih relatif rendah.

Namun tetap saja, pelemahan rupiah tidak bisa dianggap perihal sepele karena nilai tukar yang jatuh terlalu cepat, sebagaimana yang disaksikan saat ini, akan merontokkan kepercayaan pasar, hingga menggerus daya beli masyarakat.

Untuk masyarakat kelas menengah, imbas depresiasi rupiah mengintai hampir dalam setiap lini kehidupan. Contohnya saja, renovasi rumah yang terpaksa tertunda. Harga keramik, besi, baja, alumunium, sanitari, kabel, cat hingga perlengkapan bangunan lainnya ikut melonjak akibat bahan baku energi, hingga mesin produksinya terkait dengan dolar AS.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Mendung yang Menggelayuti Pasar Saham Bikin Sentimen Dividen Kehilangan Gigi
| Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB

Mendung yang Menggelayuti Pasar Saham Bikin Sentimen Dividen Kehilangan Gigi

Harga saham emiten pembagi dividen, termasuk yang nilainya tertinggi sepanjang sejarah, justru ambrol setelah RUPS.

Tambahan Wajib Pajak Tak Signifikan ke Penerimaan
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:44 WIB

Tambahan Wajib Pajak Tak Signifikan ke Penerimaan

Pertambahan wajib pajak baru sebanyak 2,76 juta sejak awal tahun hingga 9 Juni 2026 dengan kontribusi penerimaan pajak mencapai Rp 726,87 miliar

Penjualan Ritel Diramal Semakin Tertekan
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:36 WIB

Penjualan Ritel Diramal Semakin Tertekan

Indeks Penjualan Riil Mei 2026 diperkirakan sebesar 225,0, terkontraksi 3,2%, melanjutkan kontraksi di April sebesar 3,7% secara tahunan

Harga Emas Dunia Turun, Sejumlah Saham Ini Masih Layak Koleksi
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:27 WIB

Harga Emas Dunia Turun, Sejumlah Saham Ini Masih Layak Koleksi

Harga emas dunia melemah, namun ada saham emiten yang direkomendasikan beli. Simak prospeknya di sini.

PTBA Tebar Dividen Rp 1,32 Triliun, Simak Prospek Sahamnya
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:23 WIB

PTBA Tebar Dividen Rp 1,32 Triliun, Simak Prospek Sahamnya

Payout ratio PTBA anjlok dari 75% jadi 45%. Pemburu dividen harus tahu alasan dan dampaknya. Jangan sampai salah langkah!

Suku Bunga Tinggi Kembali Menekan Emiten Properti
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:05 WIB

Suku Bunga Tinggi Kembali Menekan Emiten Properti

Ancaman suku bunga tinggi nyata bagi properti. Pahami risiko KPR mahal dan pelemahan rupiah yang bisa menekan laba investor properti.

Belanja Konsumen Melambat: Emiten Ritel dan Gaya Hidup Siap-Siap Terpukul
| Jumat, 12 Juni 2026 | 08:00 WIB

Belanja Konsumen Melambat: Emiten Ritel dan Gaya Hidup Siap-Siap Terpukul

Meskipun Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) melemah, beberapa saham consumer staples dinilai masih defensif.

BI Pertebal Jaring Pengaman Valas
| Jumat, 12 Juni 2026 | 07:45 WIB

BI Pertebal Jaring Pengaman Valas

BI dan PBOC sepakat untuk menjajaki peningkatan nilai kerja sama BCSA antara kedua bank sentral     

Pertumbuhan Tak Mampu Angkat Kelas Menengah
| Jumat, 12 Juni 2026 | 07:33 WIB

Pertumbuhan Tak Mampu Angkat Kelas Menengah

World Bank menyoroti lemahnya kualitas pekerjaan dan penurunan upah riil pekerja                    

Penjualan Mobil Tergelincir, Saham ASII, AUTO, dan DRMA Bakal Ikut Terseret?
| Jumat, 12 Juni 2026 | 07:28 WIB

Penjualan Mobil Tergelincir, Saham ASII, AUTO, dan DRMA Bakal Ikut Terseret?

Di tengah turbulensi pasar, PT Astra International Tbk (ASII) tetap mendominasi dengan mengamankan pangsa pasar 51% dari total penjualan domestik.

INDEKS BERITA

Terpopuler