Pasar Cemas Rusia Akan Serbu Ukraina, Minyak Sentuh Rekor Tertinggi dalam Tujuh Tahun

Sabtu, 12 Februari 2022 | 09:25 WIB
Pasar Cemas Rusia Akan Serbu Ukraina, Minyak Sentuh Rekor Tertinggi dalam Tujuh Tahun
[ILUSTRASI. Ilustrasi Pompa angguk tambang minyak.]
Reporter: Thomas Hadiwinata | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak pada perdagangan Jumat di Amerika Serikat (AS) menguat 3% lebih tinggi. Kekhawatiran terhadap aksi Rusia, yang merupakan salah satu negeri penghasil minyak utama, menginvasi Ukraina menambah kecemasan atas kestabilan pasokan minyak mentah global, yang saat ini sudah ketat.

Rusia telah mengumpulkan cukup banyak pasukan di wilayahnya yang berbatasan dengan Ukraina untuk melancarkan invasi besar, demikian peringatan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Pernyataan itu diumumkan Washington saat mendesak seluruh warganya untuk meninggalkan Ukraina dalam waktu 48 jam.

Peringatan yang sama juga disampaikan Inggris. Perdana Menteri Boris Johnson menekankan NATO perlu menjatuhkan sanksi ekonomi yang berat ke Rusia, jika negeri itu menyerang Ukraina.

Baca Juga: Bursa Wall Street Rontok Tertekan Ketegangan Rusia-Ukraina dan Bunga The Fed

Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$ 3,03 atau 3,3% menjadi US$ 94,44 per barel. Sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate menguat US$ 3,22 atau 3,6% menjadi US$ 93,10 per barel.

Kedua instrumen yang menjadi tolok ukur harga minyak di pasar global itu menyentuh level tertingginya sejak akhir 2014, melampaui level tertinggi yang dicapai pada hari Senin. Kenaikan harga minyak pun berlanjut hingga periode delapan minggu berturut-turut di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang pasokan global karena permintaan pulih dari pandemi virus corona.

Volume perdagangan melonjak dalam satu jam terakhir perdagangan, dengan volume untuk patokan global Brent naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan.

"Pasar tidak mau ketinggalan memasuki akhir pekan ... jika invasi tampaknya akan segera terjadi dan Anda tahu bahwa akan ada sanksi pembalasan yang akan mengakibatkan gangguan pada pasokan gas alam dan minyak," Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.

Badan Energi Internasional menaikkan proyeksinya untuk permintaan minyak di pasar global pada tahun 2022 sebesar 3,2 juta barel per hari (bph) menjadi 100,6 juta bph. Itu merupakan proyeksi permintaan tertinggi dalam setahun.

Lembaga riset energi itu mendasarkan proyeksinya atas peringatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak awal pekan ini bahwa permintaan minyak dunia mungkin meningkat lebih tajam, terangkat oleh pemulihan ekonomi pascapandemi yang kuat.

IEA menambahkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dapat membantu menenangkan pasar minyak yang bergejolak jika mereka memompa lebih banyak minyak mentah, menambahkan bahwa aliansi OPEC+ menghasilkan 900.000 barel per hari di bawah target pada Januari.

Baca Juga: Rusia Tambah Pasukan, Blinken Wanti-wanti Invasi ke Ukraina Bisa Terjadi Bulan Ini  

Kedua produsen OPEC memiliki kapasitas produksi cadangan paling banyak dan dapat membantu mengurangi persediaan minyak global yang semakin menipis yang telah menjadi salah satu faktor yang mendorong harga menuju $100 per barel, memperdalam inflasi di seluruh dunia.

Pemerintahan Joe Biden menanggapi harga tinggi dengan kembali menyatakan minggu ini bahwa mereka telah berbicara dengan produsen besar tentang lebih banyak produksi. AS juga mengumumkan kemungkinan merilis strategis tambahan dari konsumen besar, seperti yang terjadi akhir tahun lalu.

Pembicaraan nuklir tidak langsung AS-Iran dilanjutkan minggu ini setelah istirahat 10 hari. Sebuah kesepakatan bisa melihat pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan mengurangi ketatnya pasokan.

Di AS, perusahaan pengebor minyak menambahkan rig minyak paling banyak dalam seminggu dalam empat tahun, dengan jumlah rig, indikator produksi masa depan, naik 19 menjadi 516, tertinggi sejak April 2020, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam
| Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam

Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh eskalasi risiko geopolitik global, dari Venezuela kini bergeser ke Iran.

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30 WIB

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​

Ruang konsumsi barang non-esensial diprediksi kian terbatas dan pola belanja masyarakat cenderung menjadi lebih selektif.

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:04 WIB

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan

Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan  

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:01 WIB

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun

Kebutuhan belanja pemerintah di kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp 700 triliun, namun penerimaan belum akan optimal

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:30 WIB

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan

Dalam jangka panjang, kasus korupsi pajak bakal menyeret rasio perpajakan Indonesia                 

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:16 WIB

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Dengan kecenderungan uptrend yang mulai terbentuk, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness saham BUVA yang dinilai masih relevan.

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:53 WIB

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri

Meski ikut terimbas flash crash IHSG, hingga 12 Januari 2026 persentase kenaikan saham Bakrie non-minerba masih berkisar antara 15% hingga 83%.

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:39 WIB

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran

Inaplas belum percaya diri dengan prospek industri plastik keseluruhan pada 2026, lantaran barang jadi asal China membanjiri pasar lokal.

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

INDEKS BERITA

Terpopuler