Pasar Lelah, Harga Emas Hari Ini Merosot Ke Bawah US$ 1.470

Kamis, 21 November 2019 | 22:45 WIB
Pasar Lelah, Harga Emas Hari Ini Merosot Ke Bawah US$ 1.470
[ILUSTRASI. Karyawan menunjukkan emas batangan Combibar seberat 1 gram Combibar di fasilitas peleburan emas Valcambi SA di Selatan Kota Balerna, Swiss, 20 December 2018. 2012.REUTERS/Michael Buholzer/File Photo]
Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Harga emas hari ini melorot setelah sebuah laporan menyebutkan, China telah mengundang negosiator level atas Amerika Serikat (AS) untuk putaran baru pembicaraan perdagangan.

Mengacu Bloomberg pukul 22.35 WIB, harga emas hari ini di pasar spot turun 0,29% menjadi US$ 1.467,38 per ons troi. Harga emas mencapai level tertinggi dalam dua minggu terakhir di US$ 1.478,80 kemarin, sebelum berbalik negatif, pasca AS mengeluarkan RUU yang mendukung demonstran anti-pemerintah Hong Kong.

"Meskipun ada lebih banyak ketegangan antara AS dan China, pasar emas mengambil sikap wait and see. Sepertinya pasar secara umum sedikit lelah dengan berita di bidang perdagangan," kata Analis ABN Amro Georgette Boele kepada Reuters.

"Ada beberapa pembeli yang mengalami penurunan dan pemegang emas masih berharap harga akan naik lebih tinggi. Tetapi, jika ini tidak terwujud dalam waktu dekat, mereka kemungkinan akan mengambil untung dalam jangka waktu lama, mendorong harga lebih rendah," ujar Boele

Kementerian Perdagangan China, Kamis (21/11), mengayakan, Tiongkok akan berusaha untuk mencapai kesepakatan perdagangan awal dengan AS karena kedua belah pihak menjaga saluran komunikasi tetap terbuka.

Beijing juga telah mengundang negosiator perdagangan AS level atas untuk putaran baru pembicaraan tatap muka, Wall Street Journal melaporkan pada Kamis mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

Pasar yang belum menelan laporan itu masih waspada dengan nasib kesepakatan perdagangan, setelah AS merilis dua RUU yang dimaksudkan untuk mendukung para pemrotes di Hong Kong dan mengirim peringatan ke China tentang hak asasi manusia.

Pengesahan RUU yang mendukung para pemrotes di Hong Hong menyulut kemarahan Beijing, dan berpotensi merusak upaya untuk mengamankan kesepakatan perdagangan fase pertama.

Emas yang digunakan sebagai investasi yang aman selama masa krisis ekonomi dan politik sudah naik lebih dari 14% sepanjang tahun ini, dan berada di jalur kenaikan tahunan terbesar sejak 2010.

"Emas belum menyerah untuk naik tapi perjuangan mungkin sia-sia, dengan terus menolak ke posisi di atas US$ 1.480," kata Craig Erlam, Analis Pasar Senior OANDA, dalam sebuah catatan yang Reuters lansir.

"Konsolidasi yang kami lihat selama 10 hari terakhir telah memberikan penangguhan hukuman untuk logam mulia tetapi belum mengubah prospek emas, dengan kemungkinan penurunan lebih lanjut," imbuh dia.

Bagikan

Berita Terbaru

Bisnis Asuransi Syariah Tergerus Daya Beli dan Literasi
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:35 WIB

Bisnis Asuransi Syariah Tergerus Daya Beli dan Literasi

Kontribusi yang didapat sektor industri asuransi syariah turun 15,07% secara tahunan menjadi Rp 11,73 triliun.

Bisnis Asuransi Syariah Tergerus Daya Beli dan Literasi
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:35 WIB

Bisnis Asuransi Syariah Tergerus Daya Beli dan Literasi

Kontribusi yang didapat sektor industri asuransi syariah turun 15,07% secara tahunan menjadi Rp 11,73 triliun.

Metrodata Electronics (MTDL) Membidik Pertumbuhan 10% Tahun Ini
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:20 WIB

Metrodata Electronics (MTDL) Membidik Pertumbuhan 10% Tahun Ini

Optimisme MTDL ditopang kinerja positif pada semester I-2026. MTDL membukukan pendapatan Rp 13,6 triliun, tumbuh 16,7% secara tahunan.

Gelombang Go Private dan Delisting Menguat, Imbas Aturan Free Float 15%?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:08 WIB

Gelombang Go Private dan Delisting Menguat, Imbas Aturan Free Float 15%?

Prestise sebagai perusahaan tercatat masih bernilai, apalagi kalau ke depan masih butuh akses pasar modal untuk ekspansi.

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup

Ketidakpastian hasil review MSCI serta transparansi tata kelola pasar modal menjadi faktor yang ikut mendorong arus net sell asingdari big caps.

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Investor tampaknya lebih banyak mem-pricing risiko persepsi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan persoalan kelembagaan.

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR

Pembahasan mengenai perlakuan PPN dan PPh atas transaksi EGR telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?

Peningkatan investasi asing tidak serta-merta bertranslasi ke kenaikan harga saham emiten kawasan industri.

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun selama tiga bulan berturut-turut                            

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru

Destru Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo           

INDEKS BERITA

Terpopuler