Pasokan di Pasar Global Berlimpah, AS Ajak Jepang Bahas Pasar Baja dan Aluminium

Sabtu, 13 November 2021 | 14:31 WIB
Pasokan di Pasar Global Berlimpah, AS Ajak Jepang Bahas Pasar Baja dan Aluminium
[ILUSTRASI. Pejabat perdagangan dari negara-negara anggota G7 dalam konferensi tingkat menteri di Mansion House, di London, Inggris, Jumat (22/10/2021). REUTERS/Henry Nicholls/Pool]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS), Jumat (12/11), mengatakan akan membuka pembicaraan dengan Jepang yang dapat mengarah pada pelonggaran tarif impor baja dan aluminium. Kedua komoditas logam itu telah lama menjadi kerikil dalam hubungan perdagangan di antara kedua sekutu itu.

Kementerian Perdagangan AS dan Kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan pembicaraan itu bertujuan untuk mengatasi “berlimpahnya kapasitas baja dan aluminium di pasar global”, memulihkan kondisi berorientasi pasar dan melestarikan industri kritis.

AS membuka pembicaraan dengan Jepang, setelah mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa (UE). AS dan blok Eropa telah sepakat mengakhiri perselisihan tarif baja dan aluminium, dan menuntaskan pengaturan global untuk memerangi produksi “kotor” dan kelebihan kapasitas di industri.

Baca Juga: Menlu Jepang mengatakan Blinken berikan komitmen AS untuk membela Jepang

Kesepakatan di masa depan, yang terbuka untuk negara lain, akan menjadi tantangan bagi China, yang memproduksi lebih dari setengah baja dunia. Negeri Tembok Raksasa dituding oleh UE dan Amerika Serikat menciptakan kelebihan kapasitas yang merugikan industri mereka sendiri.

Tahun lalu, Forum Global tentang Kapasitas Kelebihan Baja memperkirakan kesenjangan antara kapasitas pembuatan baja global dan permintaan global lebih dari hampir 600 juta ton. Jumlah itu akan terus bertambah mengingat kapasitas baru yang sudah direncanakan atau sedang berjalan.

Jepang pekan lalu meminta AS untuk menghapus tarif “Section 232” yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada 2018.

Pengumuman Jumat itu muncul sebelum kunjungan terpisah ke Jepang oleh Menteri Perdagangan Gina Raimondo dan Perwakilan Dagang AS Katherine Tai mulai minggu depan.

AS mengatakan kedua negara akan berusaha untuk mengatasi kekhawatiran atas tarif Section 232 “dan upaya yang memadai untuk mengatasi kelebihan kapasitas baja dan aluminium dengan tujuan mengambil tindakan yang saling menguntungkan dan efektif untuk memulihkan kondisi berorientasi pasar."

“Ini sudah waktunya. Proses pengecualian tarif perlu dilakukan dengan Jepang dan Korea dan Inggris. Adanya sinyal upaya yang dilakukan negara-negara itu, membuat kami bersemangat,” kata Myron Brilliant, kepala urusan internasional di Kamar Dagang AS.

Tai juga akan mengunjungi Korea Selatan bulan ini, tetapi sumber mengatakan mereka tidak mengharapkan pengumuman serupa di sana.

Kesepakatan AS-UE mengakhiri perselisihan yang memburuk atas tarif baja dan aluminium AS era Trump dan mencegah lonjakan tarif pembalasan UE.

Baca Juga: Indonesia bukan yang terbanyak, ini 10 negara dengan pulau terbanyak di dunia

Perjanjian tersebut mempertahankan tarif Section 232 sebesar 25% untuk baja dan 10% aluminium, sambil mengizinkan logam buatan UE dalam jumlah terbatas, memasuki pasar AS tanpa dikenai bea. 

Untuk memenuhi persyaratan bebas bea, baja dan aluminium itu harus sepenuhnya diproduksi di Uni Eropa. Ketentuan tersebut bertujuan untuk mencegah logam dari China dan negara-negara non-Uni Eropa diproses secara minimal di Eropa sebelum diekspor ke AS.

Berdasarkan kesepakatan itu, Eropa setuju untuk menurunkan tarif pembalasan terhadap produk AS, sebuah langkah yang menurut Raimondo akan mengurangi biaya bagi produsen AS yang mengonsumsi baja.

Industri baja Jepang khawatir bahwa perjanjian AS-UE akan menghasilkan pelonggaran langkah-langkah komprehensif untuk negara dan wilayah tertentu, kata Eiji Hashimoto, ketua Federasi Besi dan Baja Jepang, pekan lalu.

Selanjutnya: Negosiasi Kesepakatan Berlangsung Alot, China dan Arab Tolak Penghapusan Subsidi

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Wangi Cuan dari Usaha Belah Durian
| Minggu, 25 Januari 2026 | 07:10 WIB

Wangi Cuan dari Usaha Belah Durian

Menikmati durian tak perlu menunggu musim durian. Kini ada banyak warung menanti pelanggan untuk membelah durian.

 
Bos Privy, Sukses Berkat Kejelian Membaca Pasar
| Minggu, 25 Januari 2026 | 06:38 WIB

Bos Privy, Sukses Berkat Kejelian Membaca Pasar

Pada 2014, belum ada perusahaan di Indonesia yang memiliki izin resmi sebagai penyelenggara sertifikasi elektronik meski regulsinya tersedia.

Bank Permata Pangkas Pemakaian Air di Kantor
| Minggu, 25 Januari 2026 | 06:10 WIB

Bank Permata Pangkas Pemakaian Air di Kantor

Untuk menerapkan praktik bisnis berkelanjutan, Bank Permata mengintegrasikan prinsip ramah lingkungan dalam operasional

Ambisi Bangun Ekosistem Terintegrasi Logam Tanah Jarang
| Minggu, 25 Januari 2026 | 06:00 WIB

Ambisi Bangun Ekosistem Terintegrasi Logam Tanah Jarang

Pemerintahan Prabowo Subianto berambisi mempercepat hilirisasi logam tanah jarang. Tapi, masih banyak PR yang harus pemerintah selesaikan dulu.

SGRO Usai Akuisisi: Produksi CPO Naik dan Fokus Baru di Energi Hijau
| Minggu, 25 Januari 2026 | 06:00 WIB

SGRO Usai Akuisisi: Produksi CPO Naik dan Fokus Baru di Energi Hijau

Menelisik strategi dan target bisnis PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) pasca memiliki pengendali baru 

Transformasi SGRO, Akuisisi Posco Ubah Total Arah Bisnis Mantan Emiten Sampoerna Ini
| Minggu, 25 Januari 2026 | 05:56 WIB

Transformasi SGRO, Akuisisi Posco Ubah Total Arah Bisnis Mantan Emiten Sampoerna Ini

Prime Agri kini juga punya fokus bisnis baru di bawah kendali AGPA, yaitu produksi bisnis hulu untuk kebutuhan energi hijau.

Pembiayaan Tumbuh Tipis, Laba Multifinance Terkikis
| Minggu, 25 Januari 2026 | 05:55 WIB

Pembiayaan Tumbuh Tipis, Laba Multifinance Terkikis

Seretnya penyaluran pembiayaan turut menekan profitabilitas multifinance sebesar 1,09% secara tahunan menjadi Rp 506,82 triliun di November 2025

Menguji Sanksi
| Minggu, 25 Januari 2026 | 05:25 WIB

Menguji Sanksi

Sebanyak 28 perusahaan yang dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran atas ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Ancaman PHK Massal Hantui Industri Daging Imbas Kuota Menciut
| Minggu, 25 Januari 2026 | 05:10 WIB

Ancaman PHK Massal Hantui Industri Daging Imbas Kuota Menciut

Pemerintah pangkas kuota impor daging. Yang ketar-ketir tak hanya importir, tapi juga pedagang, industri pengolahan, pekerja dan konsumen.

 
Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:11 WIB

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit

Penguatan dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor musiman.                                                 

INDEKS BERITA

Terpopuler