Pejabat Bank Sentral China Sebut Dampak Evergrande Group Bisa Dikendalikan

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 11:19 WIB
Pejabat Bank Sentral China Sebut Dampak Evergrande Group Bisa Dikendalikan
[ILUSTRASI. Logo perusahaan tampak di kantor pusat China Evergrande Group di Shenzhen, provinsi Guangdong, China, 26 September 2021. REUTERS/Aly Song/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Dampak limpahan masalah utang China Evergrande Group terhadap sistem perbankan dapat dikendalikan, demikian pernyataan seorang pejabat bank sentral China, Jumat. Pejabat di negeri itu teramat jarang mengomentari krisis likuiditas di pengembang nomor dua terbesar di China yang telah mengguncang pasar global tersebut.

Otoritas China mendesak Evergrande untuk mempercepat pelepasan aset dan melanjutkan kembali proyeknya, ujar Zou Lan, kepala pasar keuangan di People's Bank of China (PBOC). Dalam sebuah briefing, Zou juga mengatakan bahwa lembaga keuangan individu tidak memiliki eksposur yang sangat terkonsentrasi ke Evergrande. .

"Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini tidak beroperasi dan mengelola dirinya sendiri dengan baik. Ia gagal melakukan operasi yang bijaksana sesuai dengan perubahan kondisi pasar, dan secara membabi buta melakukan diversifikasi serta memperluas bisnisnya," kata Zou dalam pengarahan di Beijing.

Baca Juga: Saat perekonomian membutuhkan, China justru menahan kebijakan fiskal

Sebagian besar pejabat di China, termasuk media pemerintah, tidak mengeluarkan suara tentang krisis di Evergrande, yang telah gagal melunasi serangkaian kupon bunga obligasi pada tanggal jatuh tempo. Dengan total utang sebesar US$ 300 miliar, Evergrande merupakan pengembang dengan beban utang terberat di dunia.

Zou juga mengatakan perusahaan properti yang menerbitkan obligasi di luar negeri harus secara aktif memenuhi kewajiban pembayaran utang mereka. Setelah gagal melunasi tiga kupon bunga obligasi dolarnya, Evergrande meninggalkan investor luar negerinya dalam kegelapan tentang rencana pembayaran.

Komentar Zou muncul tidak lama setelah sejumlah sumber menuturkan ke Reuters tentang pertemuan CEO Evergrande Xia Haijun dengan bank investasi dan kreditur di Hong Kong. Agenda pertemuan itu membahas kemungkinan restrukturisasi dan penjualan aset.

Baca Juga: Lagi, Evergrande Group Melewatkan Putaran Ketiga Pembayaran Kupon Obligasi

Xia telah berada di Hong Kong selama lebih dari dua bulan, beberapa sumber mengatakan kepada Reuters. Xia perlu berkomunikasi dengan bank asing tentang perpanjangan pinjaman dan pembayaran, kata salah satu sumber.

Bergabung dengan daftar pengembang properti yang terhuyung-huyung akibat krisis utang, China Properties Group Ltd mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya telah gagal membayar obligasi senilai $226 juta.

Sedang pengembang China lain, Xinyuan Real Estate Co's, lolos dari status default atas obligasi dolar yang jatuh tempo pada Jumat. Dalam keterbukaan informasi yang diajukan ke bursa Singapura, Xinyuan menyatakan bahwa pemegang obligasi telah menyetujui tawaran untuk menerima obligasi baru dan uang tunai sebagai imbalan atas surat utang yang jatuh tempo.

Xinyuan mengatakan, lebih dari 90% pemegang obligasi bernilai US$ 229 juta, yang jatuh tempo 15 Oktober telah menyetujui pembayaran dengan obligasi baru senilai $ 205,4 juta dan uang tunai $ 19,1 juta.

Setelah kesepakatan pertukaran tersebut, obligasi Xinyuan lainnya yang jatuh tempo pada September 2023 dengan bunga 14,5% mengalami penurunan harga hingga 30% pada hari Jumat, dengan diperdagangkan pada 58,35 sen, menurut penyedia data Duration Finance.

Kesepakatan utang yang dilakukan Xinyuan memperkuat kecemasan bahwa pengembang Chinya yang lain juga akan kesulitan melunasi obligasi mereka. Ada juga pengembang yang telah mengambil sejumlah langkah untuk menunda pembayaran setelah masalah Evergrande.

Evergrande, yang memiliki 1.300 proyek real estate di lebih dari 280 kota, melewatkan putaran ketiga pembayaran bunga obligasi internasional minggu ini.

Baca Juga: Para ekonom kompak sebut penurunan monetary gold didorong turunnya harga emas global

Namun, dalam pernyataan terpisah yang diajukan ke Bursa Efek Shenzhen, Evergrande mengatakan akan membayar bunga yang jatuh tempo pada 19 Oktober atas obligasi berdenominasi yuan yang diterbitkan pada 2020.

Pada briefing hari Jumat, Zou mengatakan Evergrande harus meningkatkan pelepasan aset dan memulai kembali pembangunan proyek, yang akan mendapatkan dukungan pembiayaan dari pihak berwenang.

Beberapa pemberi pinjaman memiliki “kesalahpahaman” tentang kebijakan pengendalian utang bank sentral. Beberapa pengembang pun berada di bawah tekanan, karena beberapa proyek baru mereka tidak dapat memperoleh pinjaman. bahkan setelah membayar kembali pinjaman yang ada, kata Zou.

“Reaksi ekstrim jangka pendek ini adalah fenomena pasar yang normal,” katanya.

Baca Juga: Tak Hanya Evergrande, Perusahaan Lain Turut Menekan Pasar Obligasi Properti China

Pengembang China menghadapi pembayaran kupon lebih dari US$ 500 juta untuk obligasi imbal hasil tinggi mereka sebelum akhir bulan ini. Data Refinitiv menunjukkan pembayaran kupon oleh Kaisa Group Holdings dan Fantasia Holdings akan jatuh tempo akhir pekan ini.

"Di beberapa kota, harga properti melonjak terlalu cepat, menyebabkan persetujuan dan penerbitan hipotek pribadi tertahan," kata Zou, mengacu pada sembilan bulan pertama tahun ini.

"Setelah harga perumahan stabil, penawaran dan permintaan hipotek di kota-kota itu juga akan dinormalisasi," katanya.

Namun, Evergrande mengalami kemunduran baru pada Jumat, menurut penuturan sejumlah sumber ke Reuters. Perusahaan properti milik negara, Yuexiu Property, menarik diri dari tawaran pembelian gedung kantor pusat Evergrande di Hong Kong senilai US$1,7 miliar, karena mencemaskan situasi pelik yang membelit pengembang itu.

Evergrande telah jatuh bangun dalam upaya menjual aset, dan kegagalan menutup transaksi dengan Yuexiu menunjukkan kesulitan yang dihadapinya.

Kesengsaraan Evergrande bertambah karena regulator audit di Hong Kong, Jumat (17/10), menyatakan sedang menyelidiki laporan keuangan perusahaan itu untuk tahun 2020 berikut laporan auditnya yang disusun PwC. Penyelidikan itu bertujuan untuk memastikan bahwa laporan itu telah memuat cukup informasi tentang apakah Evergrande dapat terus beroperasi sebagai kelangsungan hidup.

Harga obligasi Evergrande kembali rontok setelah pemberitaan Reuters. Obligasi perusahaan 8,75% Juni 2025 merosot lebih dari 6% untuk diperdagangkan dengan diskon lebih dari 80% dari nilai nominalnya, menurut penyedia data Duration Finance.

Baca Juga: Harga kapas dunia melejit, asosiasi jamin tidak ada kenaikan harga di konsumen

Selain Xinyuan, data Duration Finance menunjukkan obligasi pengembang lain anjlok lebih dalam. Obligasi Sinic Holdings Group dengan kupon 10,5% dan jatuh tempo pada Juni 2022 turun lebih dari 20% menjadi hanya 12,25 sen. Sedang obligasi Ronshine China Holdings Februari 2022 turun lebih dari 6% menjadi 68,35 sen.

Moody's menurunkan peringkat Risesun Real Estate Development Co Ltd menjadi B1/B2, dengan prospek negatif.

Spread pada obligasi dolar korporasi pemberi imbal hasil tinggi asal China menyentuh rekor baru Kamis malam waktu AS, setelah hampir tiga kali lipat sejak akhir Mei. Sementara spread tingkat investasi tetap mendekati terluas dalam lebih dari dua bulan.

Baca Juga: Ekspor ke China dan India turun, imbas krisis energi?

Kekhawatiran penularan juga melanda saham pengembang properti pekan ini. Pada hari Jumat, indeks yang melacak A-shares di sektor ini memberikan kenaikan kecil menjadi berakhir turun 0,1%, tertinggal dari kenaikan 0,38% dalam indeks blue-chip dan mengambil kerugian sejak Selasa menjadi 4,5%.

China telah meningkatkan pembatasan pasar properti sejak akhir 2020, memperkenalkan langkah-langkah baru untuk memantau dan mengontrol tingkat utang pengembang dengan cermat.

Tetapi dengan pendinginan pertumbuhan ekonomi dan konstruksi baru mulai melambat, spekulasi tersebar luas mengenai apakah akan mulai melonggarkan pembatasan tersebut, seperti yang terjadi selama penurunan sebelumnya.

Selanjutnya: Setelah Skandal Doing Business, Bank Dunia Didesak Tingkatkan Integritas Data

 

Bagikan

Berita Terbaru

Berburu Cuan Dividen Bank Besar, Intip Potensi Yield Dividen BBCA, BMRI, BBRI, & BBNI
| Rabu, 25 Februari 2026 | 08:31 WIB

Berburu Cuan Dividen Bank Besar, Intip Potensi Yield Dividen BBCA, BMRI, BBRI, & BBNI

Imbal hasil dividen terutama dari bank Himbara diproyeksi lebih menarik, bisa menyentuh menyentuh 8%-9%.

Saham SIDO Terjerembap di Musim Hujan Awal Tahun, tapi Diborong Tiga Institusi Asing
| Rabu, 25 Februari 2026 | 08:10 WIB

Saham SIDO Terjerembap di Musim Hujan Awal Tahun, tapi Diborong Tiga Institusi Asing

Investor asing institusi seperti Vanguard dan Blackrock masih mencatatkan unrealized loss di  saham SIDO.

OJK Usut 32 Kasus Dugaan Manipulasi Saham, Tak Semuanya Melibatkan Influencer
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:35 WIB

OJK Usut 32 Kasus Dugaan Manipulasi Saham, Tak Semuanya Melibatkan Influencer

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah memfinalisasi POJK yang ditargetkan bakal dirilis pada semester I-2026.

Bangkit dari Level Gocap, Didorong Sentimen Right Issue Harga Saham WMUU Melesat
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:10 WIB

Bangkit dari Level Gocap, Didorong Sentimen Right Issue Harga Saham WMUU Melesat

Konversi hak tagih akan membawa dampak positif, salah satunya memangkas rasio pinjaman terhadap ekuitas WMUU. 

Perjanjian Dagang RI-AS Menekan Bisnis Logistik
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:05 WIB

Perjanjian Dagang RI-AS Menekan Bisnis Logistik

Perjanjian ini berpotensi membuat perlindungan data primer bangsa menggunakan platform digital dan server pihak asing.

Pasar Saham Masih Lesu, Hari Ini, Rabu (25/2) IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:53 WIB

Pasar Saham Masih Lesu, Hari Ini, Rabu (25/2) IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi

Keuangan menjadi satu-satunya sektor yang menguat. Pelemahan IHSG juga diiringi tekanan pada rupiah yang melemah ke Rp 16.829 per dolar AS.

Strategi SGRO Bayar Utang Rp 205 Miliar dan Target Produksi CPO 2026
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:41 WIB

Strategi SGRO Bayar Utang Rp 205 Miliar dan Target Produksi CPO 2026

SGRO menargetkan produksi minyak kelapa sawit (CPO) dan tandan buah segar (TBS) bisa tumbuh hingga 3%-5% di tahun 2026.

Suntik Anak Usaha, JSMR Menerbitkan Obligasi Hingga Rp 2,06 Triliun
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:33 WIB

Suntik Anak Usaha, JSMR Menerbitkan Obligasi Hingga Rp 2,06 Triliun

Saat ini, progres pembangunan keseluruhan ruas Jakarta-Cikampek Selatan diklaim telah mencapai 75,78%

Terkoreksi Pasca Melesat, Berkat Kontrak Baru dari Adaro Saham DOID Tetap Memikat
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:30 WIB

Terkoreksi Pasca Melesat, Berkat Kontrak Baru dari Adaro Saham DOID Tetap Memikat

Valuasi harga saham PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) acap kali terdiskon tajam gara-gara profil utangnya yang menggunung.

Tekanan Jual Emiten dan Pelemahan Rupiah Berlanjut, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:21 WIB

Tekanan Jual Emiten dan Pelemahan Rupiah Berlanjut, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pelemahan IHSG diprediksi berlanjut hari ini, seiring tekanan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

INDEKS BERITA

Terpopuler