Pembuktian Negara

Kamis, 31 Juli 2025 | 06:09 WIB
Pembuktian Negara
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para analis tengah menanti pengumuman Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2025. Pengumuman resmi biasanya dirilis minggu terakhir Juli atau awal Agustus, cuma banyak pihak tak yakin ekonomi bisa melaju di atas 5%. 

Kinerja ekonomi kuartal kedua tahun ini bakal menjadi pembuktian apakah janji pemerintah untuk menolong ekonomi yang tengah seret melalui belanja negara terwujud. Jika kita ingat, setelah jeblok di kuartal pertama, pemerintah bertekad menggenjot belanja, dari belanja kementerian lembaga (K/L) hingga bantuan sosial (bansos) sejak awal Mei lalu. Berbagai program stimulus belanja dan wisata pun diluncurkan selama periode libur sekolah. 

Sejumlah data awal menunjukkan bahwa pemerintah berhasil menggenjot belanja. Tim Riset BCA Group mencatat, di kuartal kedua 2025, belanja pemerintah pusat Rp 593,3 triliun atau naik 4,03%. Yang menarik, Rp 312 triliun atau hampir 53% dibelanjakan pada bulan Juni saja. 

Cuma, gencarnya belanja pemerintah belum cukup menopang konsumsi masyakat. Salah satu indikatornya, indeks belanja masyarakat yang dipantau BCA justru turun 1,42% di kuartal kedua jika dibandingkan setahun lalu.  

Yang lebih mencemaskan, indeks belanja barang-barang bernilai tinggi seperti mobil terpuruk -12,11%. Animo belanja terhadap barang bernilai tinggi yang biasanya tahan lama (durable) menjadi indikator keyakinan masyarakat terhadap ekonomi. Jika angkanya turun dalam, artinya masyakarat pesimistis terhadap prospek perekonomian. 

Konsensus proyeksi analis yang dirangkum Bloomberg menunjukkan, ekonomi mungkin hanya akan tumbuh 4,8% di kuartal kedua 2025. Ini artinya melemah dari pertumbuhan di kuartal I-2025 yang 4,87%. 

Kemenko Perekonomian sendiri masih yakin ekonomi bisa tumbuh 4,9% di kuartal kedua. Tak hanya itu, target pertumbuhan 5,2% di akhir tahun juga tak direvisi. 

Angka 5,2% sangat berat untuk dicapai karena itu artinya di semester kedua ekonomi harus bisa melaju cepat. Apalagi, data historis menunjukkan, pertumbuhan sekitar 5% beberapa tahun terakhir bukan jatuh dari langit (given) tapi harus dicapai susah payah. Bahkan, tahun 2024, kita tertolong oleh rezeki ekstra (windfall) lonjakan harga komoditas yang kini sudah habis.

Ringkasnya, jika mengincar pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, pemerintah harus bekerja ekstrakeras di sisa tahun ini. Sementara, tanggalkan urusan politik dan fokuslah menolong ekonomi rakyat!

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

MDKA Siap Membagikan Dividen Rp 300 Miliar
| Kamis, 25 Juni 2026 | 11:16 WIB

MDKA Siap Membagikan Dividen Rp 300 Miliar

Dividen tunai tersebut akan dibagikan dari sebagian saldo laba MDKA dari tahun buku 2025 yang belum ditentukan penggunaannya.​

Terbitkan Obligasi Jumbo Rp 2,25 Triliun, TPIA Tingkatkan Modal Kerja
| Kamis, 25 Juni 2026 | 11:03 WIB

Terbitkan Obligasi Jumbo Rp 2,25 Triliun, TPIA Tingkatkan Modal Kerja

Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja TPIA. Terutama, mendukung pengadaan bahan baku produksi.​

Enam Emiten Antre IPO, Sinyal Kebangkitan Pasar Saham atau Sekadar Cari Pendanaan?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 09:20 WIB

Enam Emiten Antre IPO, Sinyal Kebangkitan Pasar Saham atau Sekadar Cari Pendanaan?

Saat sentimen positif mendominasi pasar, minat investor terhadap aset berisiko meningkat sehingga penyerapan saham baru menjadi lebih baik.

Enam Perusahaan Calon IPO, Ada  Afiliasi Djarum dan Emtek, Perhatikan Fundamental
| Kamis, 25 Juni 2026 | 09:10 WIB

Enam Perusahaan Calon IPO, Ada Afiliasi Djarum dan Emtek, Perhatikan Fundamental

Enam perusahaan siap IPO. Namun analis sepakat dua emiten ini paling prospektif. Cek fundamental dan potensi untungnya.

Masih Ada  Peringatan dari MSCI, IHSG Masih Terancam Lesu
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:58 WIB

Masih Ada Peringatan dari MSCI, IHSG Masih Terancam Lesu

Indonesia dipertahankan emerging market, tapi IHSG malah terjun bebas di bawah 6.000. Ada kekhawatiran besar di balik keputusan MSCI.

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:44 WIB

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI

Rajawali Corpora lepas seluruh saham ARCI ke afiliasi senilai Rp 18,27 T. Perubahan ini bisa pengaruhi valuasi saham ARCI.

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:06 WIB

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Jika hingga November 2026 tidak ada perubahan signifikan, ada peluang penurunan status menjadi frontier market. 

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:55 WIB

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit

Prospek sektor telekomunikasi dalam jangka menengah masih dinilai positif, amun narasi pertumbuhannya mulai mengalami pergeseran.

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:34 WIB

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?

DSSA memiliki eksposur yang kuat di sektor energi, pembangkit listrik, serta mulai memperluas bisnis ke sektor transisi energi dan EBT.

Menakar Prospek Saham BREN Usai Diborong Prajogo Pangestu, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:46 WIB

Menakar Prospek Saham BREN Usai Diborong Prajogo Pangestu, Masih Layak Dibeli?

BREN merupakan pemain panas bumi terbesar di Indonesia dan berada di peringkat keempat secara global.

INDEKS BERITA

Terpopuler