KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para analis tengah menanti pengumuman Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2025. Pengumuman resmi biasanya dirilis minggu terakhir Juli atau awal Agustus, cuma banyak pihak tak yakin ekonomi bisa melaju di atas 5%.
Kinerja ekonomi kuartal kedua tahun ini bakal menjadi pembuktian apakah janji pemerintah untuk menolong ekonomi yang tengah seret melalui belanja negara terwujud. Jika kita ingat, setelah jeblok di kuartal pertama, pemerintah bertekad menggenjot belanja, dari belanja kementerian lembaga (K/L) hingga bantuan sosial (bansos) sejak awal Mei lalu. Berbagai program stimulus belanja dan wisata pun diluncurkan selama periode libur sekolah.
Sejumlah data awal menunjukkan bahwa pemerintah berhasil menggenjot belanja. Tim Riset BCA Group mencatat, di kuartal kedua 2025, belanja pemerintah pusat Rp 593,3 triliun atau naik 4,03%. Yang menarik, Rp 312 triliun atau hampir 53% dibelanjakan pada bulan Juni saja.
Cuma, gencarnya belanja pemerintah belum cukup menopang konsumsi masyakat. Salah satu indikatornya, indeks belanja masyarakat yang dipantau BCA justru turun 1,42% di kuartal kedua jika dibandingkan setahun lalu.
Yang lebih mencemaskan, indeks belanja barang-barang bernilai tinggi seperti mobil terpuruk -12,11%. Animo belanja terhadap barang bernilai tinggi yang biasanya tahan lama (durable) menjadi indikator keyakinan masyarakat terhadap ekonomi. Jika angkanya turun dalam, artinya masyakarat pesimistis terhadap prospek perekonomian.
Konsensus proyeksi analis yang dirangkum Bloomberg menunjukkan, ekonomi mungkin hanya akan tumbuh 4,8% di kuartal kedua 2025. Ini artinya melemah dari pertumbuhan di kuartal I-2025 yang 4,87%.
Kemenko Perekonomian sendiri masih yakin ekonomi bisa tumbuh 4,9% di kuartal kedua. Tak hanya itu, target pertumbuhan 5,2% di akhir tahun juga tak direvisi.
Angka 5,2% sangat berat untuk dicapai karena itu artinya di semester kedua ekonomi harus bisa melaju cepat. Apalagi, data historis menunjukkan, pertumbuhan sekitar 5% beberapa tahun terakhir bukan jatuh dari langit (given) tapi harus dicapai susah payah. Bahkan, tahun 2024, kita tertolong oleh rezeki ekstra (windfall) lonjakan harga komoditas yang kini sudah habis.
Ringkasnya, jika mengincar pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, pemerintah harus bekerja ekstrakeras di sisa tahun ini. Sementara, tanggalkan urusan politik dan fokuslah menolong ekonomi rakyat!
