Pemerintah Dorong Infrastruktur Ekonomi Digital, Ini Imbasnya untuk DCII dan INET
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah untuk mendorong pembangunan infrastruktur ekonomi digital, mulai dari data center, industri semikonduktor hingga kecerdasan buatan (AI), diproyeksi menjadi angin segar bagi emiten yang bergerak di ekosistem infrastruktur digital, seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).
Kebijakan ini pun disebut berpotensi bisa pula membuka ruang pertumbuhan baru bagi kedua emiten, selaras dengan meningkatnya kebutuhan kapasitas komputasi, penyimpanan dana, hingga konektivitas untuk menopang perkembangan AI di Indonesia.
Tetapi memang tidak semua emiten teknologi akan mendapatkan imbas yang sama dari kebijakan pemerintah ini.
Perbedaan ini mungkin bisa dilihat dulu dari pergerakan saham DCII dan INET di penutupan perdagangan Kamis (13/8). Saham DCII ditutup terkoreksi 0,58% ke level Rp 206.000 per saham, namun walau demikian kinerja DCII masih berada di zona positif dalam beberapa periode.
Dalam sepekan terakhir, DCII menguat 2,23%, sementara dalam sebulan naik 3,60%. Adapun sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD), saham tersebut masih menguat sekitar 3,00%.
Berbeda dengan DCII, pergerakan INET jauh lebih volatile. Pada periode yang sama, saham INET melemah 0,88% ke Rp 224 per saham. Dalam sepekan, INET terkoreksi 3,45%. Namun, secara bulanan saham ini masih menguat 15,46%.
Tetapi ditarik ke horizon yang lebih panjang, performanya masih jauh di bawah DCII. Sepanjang tahun berjalan, saham INET telah jatuh sedalam 51,93%.
Baca Juga: DCII Menjaga Prospek Pertumbuhan Kinerja
Menanggapi rencana pemerintah itu, Head of Research KISI Muhammad Wafi menilai bahwa efeknya akan memberikan policy tailwind bagi sektor infrastruktur digital. Namun, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, efek dampaknya berbeda terhadap masing-masing emiten.
Menurut Wafi, DCII menjadi salah satu emiten yang paling relevan karena bisnis utamanya memang berada di sektor data center.
“DCII sebagai pure data center player directly relevant, kebijakan support ekosistem AI/data center bisa translate ke demand growth langsung,” ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (13/8).
Pertumbuhan penggunaan AI membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan data yang besar. Semakin tinggi adopsi AI, maka semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur data center.
Atas hal itu, DCII memiliki posisi yang lebih langsung untuk menangkap imbas pertumbuhan yang lahir dari rencana pemerintah itu dibandingkan perusahaan yang baru membangun eksposur ke data center seperti INET.
Baca Juga: Akal Imitasi Angkat Permintaan Pusat Data
Bisa dikatakan, INET tidak memiliki eksposur secara langsung, walau secara tak langsung pertumbuhan data center tetap memberikan manfaat bagi perseroan karena dalam usaha pembangunannya membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi. Tetapi saat ini, bisnis utama INET masih berada di sektor konektivitas.
Wafi melihat, pertumbuhan data center tetap dapat meningkatkan kebutuhan jaringan dan konektivitas pada INET.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi turut menambahkan bahwa kesiapan DCII di laga bisnis pembangunan data center telah kokoh. DCII saat ini telah memiliki kapasitas data center mencapai 119 megawatt (MW) yang tersebar di Cibitung, Karawang dan Jakarta. Tak hanya itu saja, perusahaan juga tengah mengembangkan fasilitas baru di Bintan dan Surabaya.
"Ekspansi tersebut menjadi penting karena pasar data center Indonesia dinilai masih berada pada fase awal pertumbuhan. Dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital dan AI, ruang untuk meningkatkan kapasitas serta pangsa pasar masih terbuka lebar," kata Abida saat dihubungi Kontan.
Kinerja keuangan kedua emiten juga tak luput dilihat. Faktor ini menjadi salah satu indikator bahwa ekspansi tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan bisnis.
Abida mencatat laba bersih DCII melonjak 18,74% pada semester I-2026. Pertumbuhan laba tersebut terjadi ketika perusahaan juga terus melakukan ekspansi aset. Kombinasi antara pertumbuhan laba dan ekspansi kapasitas tersebut memperkuat prospek DCII menuju 2027.
Di sisi lain, INET walau belum melaporkan kinerja paruh pertama 2026, pada kuartal I-2026 mencatatkan lonjakan pendapatan neto yang luar biasa sebesar Rp 383,60 miliar atau meroket 3.069% dari Rp 12,10 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Lonjakan kinerja ini alih-alih disumbang dari kontribusi data center, tapi dari segmen ekspansi jaringan, aksi korporasi besar, dan proyek kabel laut.
Baca Juga: Bisnis Data Center Menopang Penjualan Lahan Kawasan Industri
Berbeda dengan DCII, INET masih berada pada tahap awal membangun bisnis data center. INET mendirikan data center melalui anak usaha PT Sinergi Inti Data Indonesia dengan modal Rp 22 miliar. Dalam entitas tersebut, INET menguasai 85% kepemilikan.
Langkah tersebut menempatkan INET sebagai pemula yang mulai memperluas bisnis dari konektivitas menuju infrastruktur data center. Namun, sebagaimana yang sudah dipaparkan, skala investasi tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan kapasitas DCII.
Karena itu, kontribusi bisnis data center terhadap pendapatan INET diproyeksikan belum akan terasa signifikan dalam waktu dekat.
Abida memperkirakan kontribusi yang lebih berarti baru berpotensi terlihat dalam dua hingga tiga tahun ke depan, bukan pada akhir 2026.
“Skala investasi INET di segmen data center masih sangat kecil dibanding DCII, sehingga kontribusinya ke pendapatan baru akan terasa signifikan dalam 2-3 tahun ke depan,” jelasnya.
Tetapi, walau belum dapat mengandalkan data center dalam waktu dekat, INET tetap memiliki peluang dari pertumbuhan ekosistem digital melalui bisnis konektivitas. INET melalui anak usahanya, PFI, tengah mengembangkan kabel laut Jakarta-Batam-Singapura.
Pembangunan infrastruktur tersebut dapat memperkuat konektivitas internasional sekaligus mendukung kebutuhan transfer data berkapasitas besar.
Dengan semakin banyaknya data center yang dibangun, kebutuhan konektivitas antarpusat data juga berpotensi meningkat.
"INET dapat memperoleh manfaat dari booming data center meskipun tidak seluruhnya berasal dari bisnis data center secara langsung," urainya.
Baca Juga: Telkom Indonesia (TLKM) genjot Bisnis Data Center
Model bisnis tersebut membuat katalis data center bagi INET lebih bersifat jangka menengah, dibandingkan DCII yang dapat menangkap pertumbuhan permintaan secara langsung.
Pergerakan Saham DCII dan INET
Perbedaan lain yang ditangkap pun terlihat pada pergerakan saham keduanya. Wafi menilai divergensi kinerja secara year to date (YtD) antara DCII dan INET cukup mencolok. DCII masih mampu mencatatkan kinerja positif, sedangkan INET mengalami koreksi lebih dari 50%.
Menurut dia, perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa pergerakan kedua saham bukan sekadar dipengaruhi noise pasar, tetapi juga mencerminkan perbedaan fundamental dan ekspektasi investor terhadap masing-masing perusahaan.
DCII dinilai relatif stabil dan menunjukkan pasar telah memperhitungkan prospek positif dari pertumbuhan permintaan data center dan AI.
Sebaliknya, koreksi tajam INET menunjukkan adanya persoalan atau faktor spesifik perusahaan yang lebih dominan dibandingkan sentimen positif dari pertumbuhan sektor digital secara keseluruhan.
“DCII konsisten hijau menunjukkan market price in trajectory positif terkait data center demand, sementara INET terkoreksi 51,50% adalah koreksi sangat dalam, mengindikasikan company-specific issue daripada broad market correction,” urai Wafi.
Meski demikian, pergerakan bulanan INET yang sudah kembali positif perlu dicermati. Dalam sebulan, INET telah menguat 15,46%. Namun, kenaikan tersebut belum mampu menghapus koreksi ytd yang mencapai 51,93%.
Atas geliat saham INET inilah, Wafi menegaskan untuk perlu berhati-hati dalam membaca rebound tersebut.
Kenaikan bulanan dapat menjadi indikasi awal terjadinya turnaround. Namun, tanpa konfirmasi fundamental yang solid, penguatan tersebut juga dapat sekadar merupakan technical rebound setelah saham berada dalam kondisi oversold.
Karakter tersebut berbeda dengan DCII yang memiliki trajectory lebih stabil. Menurut Wafi, profil risiko DCII saat ini lebih mudah diprediksi dibandingkan INET yang memiliki volatilitas jauh lebih ekstrem.
Baca Juga: Kawasan Industri dan Godaan Menambah Lembaga
Prospek di Tahun Depan
Memasuki 2027, DCII dinilai memiliki posisi yang lebih siap untuk menikmati pertumbuhan industri data center. Kapasitas 119 MW yang telah dimiliki, ditambah ekspansi di Bintan dan Surabaya, memberikan basis pertumbuhan yang lebih jelas.
Pertumbuhan kebutuhan AI juga menjadi katalis struktural karena peningkatan penggunaan AI membutuhkan kapasitas komputasi dan data center yang lebih besar.
"Pertumbuhan DCII tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada tren struktural digitalisasi dan AI," ujar Wafi.
Perusahaan berpotensi mendapatkan manfaat dari dua sisi, yakni pertumbuhan konektivitas serta pengembangan bisnis data center.
Sementara bagi INET, karena bisnis data center masih dalam tahap awal, kontribusinya terhadap kinerja keuangan kemungkinan membutuhkan waktu.
Di sisi lain, tahun 2027 pun masih berpotensi menjadi periode yang lebih penting bagi INET untuk membuktikan apakah ekspansi ke data center dan penguatan konektivitas mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba.
"Pengembangan kabel laut Jakarta-Batam-Singapura juga menjadi salah satu proyek penting yang dapat memperkuat posisi INET di ekosistem konektivitas digital," tandasnya.
