Pemilu Telah Usai, Industri Petrokimia Masih Wait and See

Selasa, 11 Juni 2019 | 07:20 WIB
Pemilu Telah Usai, Industri Petrokimia Masih Wait and See
[]
Reporter: Agung Hidayat, Anastasia Lilin Y, Kenia Intan | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri petrokimia masih wait and see sepanjang semester I-2019. Gejolak ekonomi global yang belum juga surut serta situasi ekonomi dan politik nasional usai pemilihan umum (pemilu) menjadi biang keroknya.

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) memprediksi, paling banter industri petrokimia tumbuh 5% year on year (yoy) sepanjang paruh pertama tahun ini. Hingga 2019 berakhir, asosiasi tersebut memang hanya mematok target pertumbuhan 5,1%.

Gejolak global masih berkutat pada perang dagang dua raksasa ekonomi yakni China dan Amerika Serikat (AS). Pada satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang ekspor ke AS. Hanya saja, risiko banjir produk dari China ke Indonesia lebih besar.

Sementara kisruh politik di dalam negeri yang berlarut-larut lantaran pemilu, menjadi kekhawatiran lain pelaku usaha. Tensi politik yang tinggi berpotensi menyebabkan masa transisi pemerintahan menjadi lebih lama.

Akibatnya, pelaku industri petrokimia lebih memilih bermain aman. Mereka hanya memproduksi barang sesuai dengan permintaan yang masuk. "Tidak seperti dulu, saat pabrikan mengejar produksi," ungkap Fajar Budiono, Sekjen Inaplas kepada KONTAN, Senin (10/6).

Salah satu pelaku usaha, PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI), mengaku kesulitan memprediksi pasar petrokimia tahun ini. Sementara sejak awal tahun ini, selisih harga jual dengan biaya bahan baku utama semakin dekat. Agar dapur tetap mengepul, strategi mereka adalah mengutamakan produk yang mendatangkan margin lebih tinggi.

Informasi saja, Lotte Chemical memproduksi linear low density polyethylene (LLDPE) dan high density polyethylene (HDPE). Calvin Wiryapranata, Direktur Keuangan PT Lotte Chemical Titan Tbk mengatakan, selisih margin LLDPE tahun lalu tidak terlalu baik. Makanya, target komposisi penjualan tahun ini terdiri dari 40% LLDPE dan 60% HDPE.

Informasi saja, total volume penjualan Lotte Chemical tahun lalu mencapai 306.000 ton. Tahun ini, perusahaan tersebut belum berencana mengerek kemampuan produksi. Mereka masih mengandalkan fasilitas produksi yang ada.

Pembebasan pajak

Pendapat berbeda keluar dari PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), anak usaha PT Barito Pasific Tbk (BRPT). Mereka merasa, pasar petrokimia semester I 2019 cenderung stabil. "Saya kira juga akan stabil di semester II nanti karena tidak ada isu yang mempengaruhi pasar secara signifikan," kata Suhat Miyarso, Sekretaris Perusahaan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk kepada KONTAN, Senin (10/6).

Chandra Asri menandai, sejauh ini industri petrokimia masih kondusif. Manajemen emiten tersebut memperkirakan, permintaan pasar sejalan dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Sejalan dengan optimisme tersebut, ekspansi pabrik Chandra Asri jalan terus. Apalagi, mereka baru saja mendapatkan pembebasan pajak atas investasi alias tax holiday dari pemerintah.

Menurut informasi dalam keterbukaan informasi BEI pada 10 Juni 2019, pabrik polietilena baru milik Chandra Asri mendapatkan tax holiday. Fasilitas pembebasan pajak terdiri, pertama, dari pengurangan pajak penghasilan sebesar 100% untuk 10 tahun operasional awal secara komersial.

Kedua, pengurangan pajak penghasilan sebesar 50% untuk dua tahun pasca 10 tahun beroperasi secara komersial. Lalu terakhir, ketiga, pembebasan pemungutan pajak yang dilakukan pihak ketiga untuk periode 10 tahun.

Pabrik polietilena baru Chandra Asri akan memproduksi HDPE, LLDPE dan metallocene LLDPE. Kehadiran pabrik tersebut akan mengerek kapasitas produksi polietilena dari semula 336.000 ton per tahun menjadi 736.000 ton per tahun.

Dalam catatan Chandra Asri, pembangunan pabrik polietilena baru sampai tahap 97% per April 2019. Biaya investasi pabrik mencapai US$ 380 juta. Mereka yakin, pabrik tersebut bakal beroperasi sesuai jadwal yakni mulai kuartal IV 2019.

Erwin Ciputra, Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk berharap, pabrik polietilena baru mampu mendukung substitusi produk impor. Pasalnya, dari total kebutuhan polietilena dalam negeri sebanyak 1,4 juta ton per tahun saat ini, 45% di antaranya masih dipenuhi oleh produk impor.

Sementara itu, menurut informasi dalam materi paparan publik Chandra Asri pada 14 Desember 2018 lalu, total kapasitas produsen petrokimia dalam negeri per Maret 2017 mencapai 9,61 juta ton per tahun. Kapasitas produksi Chandra Asri 3,46 juta atau mengambil porsi sekitar 36%.

Biarpun terkesan adem ayem, Chandra Asri tak mau lengah. Perusahaan tersebut tetap mewaspadai risiko volatilitas harga minyak dunia dan ketidakpastian perang dagang China dan AS. Keduanya, bisa mempengaruhi harga bahan baku dan harga jual produk. "Bisa terkena dampak tetapi tidak secara langsung," tutur Allan Alcazar, Investor Relations PT Barito Pacific Tbk saat dihubungi KONTAN, Senin (10/6).

Setali tiga uang dengan Chandra Asri, PT Trinseo Materials Indonesia juga masih cukup percaya diri. Informasi saja, perusahaan tersebut bergelut dalam industri turunan petrokimia berupa produksi bijih plastik.

Secara umum, Trinseo Materials melihat perjalanan bisnis dalam lima bulan pertama tahun ini relatif stabil. Pasalnya harga bahan baku monomer dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS cukup terkendali. Tambahan lagi, momentum Ramadan dan Lebaran kemarin melecut geliat pasar kemasan.

Namun, Trinseo Materials belum bisa memberikan gambaran mengenai proyeksi pasar pasca Lebaran. "Kalau outlook setelah libur Lebaran masih wait and see menunggu dinamika pasar," sebut Donny Wahyudi, Sales Manager PT Trinseo Materials Indonesia kepada KONTAN, Senin (10/6).

Namun secara historis, biasanya permintaan kemasan cenderung melemah di kuartal III. Asal tahu, Trinseo Materials mempunyai dua pabrik. Satu pabrik memproduksi polistirena berkapasitas produksi 85.000 ton per tahun. Sementara pabrik lain memproduksi lateks.

Bagikan

Berita Terbaru

BEST Incar Segmen Data Center
| Rabu, 04 Februari 2026 | 05:10 WIB

BEST Incar Segmen Data Center

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) menangkap potensi permintaan lahan industri dari segmen bisnis pangkalan data.

Transaksi Judol Merosot  di Tengah Euforia Global
| Rabu, 04 Februari 2026 | 05:05 WIB

Transaksi Judol Merosot di Tengah Euforia Global

PPATK mencatat nilai transaksi judi online sepanjang tahun 2025 sebesar Rp 286 triliun dan bisa tembus Rp 1.100 triliun jika tak ada pengawasan.

Meski Pajak Moncer, Fiskal Berisiko Tertekan
| Rabu, 04 Februari 2026 | 05:00 WIB

Meski Pajak Moncer, Fiskal Berisiko Tertekan

Meski penerimaan pajak diklaim tumbuh 30%, namun capaian itu tidak sampai 5% dari target            

Pergerakan IHSG Rabu (4/2): Prediksi Indeks dan Rekomendasi Saham Pilihan
| Rabu, 04 Februari 2026 | 04:55 WIB

Pergerakan IHSG Rabu (4/2): Prediksi Indeks dan Rekomendasi Saham Pilihan

IHSG diprediksi menguat terbatas pada Rabu (4/2). Analis beberkan level support-resistance dan daftar saham yang wajib Anda pantau.

Saham TINS Terdepak dari IDX BUMN 20 Mulai 4 Februari, Ini Penggantinya!
| Rabu, 04 Februari 2026 | 04:45 WIB

Saham TINS Terdepak dari IDX BUMN 20 Mulai 4 Februari, Ini Penggantinya!

SMBR resmi gantikan TINS di IDX BUMN 20 mulai 4 Februari 2026. Jangan sampai salah langkah, lihat daftar saham terbaru!

Permodalan Kuat, Risiko Mengintai
| Rabu, 04 Februari 2026 | 04:40 WIB

Permodalan Kuat, Risiko Mengintai

CAR perbankan 26,05% per Nov 2025. Namun, modal tebal belum tentu untung. Tantangan baru menanti, jangan lewatkan strateginya!

Asuransi Umum Atur Ulang Strategi Saat Pasar Otomotif Masih Lunglai
| Rabu, 04 Februari 2026 | 04:40 WIB

Asuransi Umum Atur Ulang Strategi Saat Pasar Otomotif Masih Lunglai

Membuat perusahaan asuransi umum melakukan penyesuaian strategi dalam menjalankan bisnis asuransi kendaraan di tahun ini.

Pemburu Dividen, Intip Daftar Saham IDX High Dividend 20 Berlaku 4 Februari 2026
| Rabu, 04 Februari 2026 | 04:35 WIB

Pemburu Dividen, Intip Daftar Saham IDX High Dividend 20 Berlaku 4 Februari 2026

Tiga saham keluar dari indeks IDX High Dividend 20 yang berlaku mulai hari ini, 4 Februari 2026 hingga setahun ke depan pada 2 Februari 2027.

Biaya Dana Tekan Pendapatan Laba BNI
| Rabu, 04 Februari 2026 | 04:30 WIB

Biaya Dana Tekan Pendapatan Laba BNI

Membukukan kredit dua digit, laba bersih BNI justru turun 6,6% pada 2025. Biaya dana dan pencadangan menekan profitabilitas bank.

Berharap Ekonomi Bisa Lari di Tengah Stimulus Mini
| Rabu, 04 Februari 2026 | 04:25 WIB

Berharap Ekonomi Bisa Lari di Tengah Stimulus Mini

Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 12,83 triliun untuk paket stimulu periode kuartal pertama 2026

INDEKS BERITA

Terpopuler