Penambang Tingkatkan Produksi, Impor Batubara China Melambat di Desember

Jumat, 14 Januari 2022 | 16:43 WIB
Penambang Tingkatkan Produksi, Impor Batubara China Melambat di Desember
[ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas di depan pembangkit batubara di Shanghai, China, 14 Oktober 2021. REUTERS/Aly Song]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Impor batubara China turun pada Desember, tergelincir dari level tertingginya selama 11 bulan terakhir yang tercetak pada November. Penurunan impor sejalan dengan upaya perusahaan tambang lokal mengerek produksinya ke kisaran tertinggi.

China yang merupakan negara pengguna batubara terbesar di dunia, mengimpor 30,95 juta ton batubara pada Desember, turun 11,7% dari impor di November, demikian pernyataan Administrasi Umum Bea Cukai China pada Jumat.

Sebagai pembanding, China mengimpor batubara sebanyak 35,05 juta ton pada November tahun ini, dan 39,08 juta ton pada Desember 2020 ketika Beijing melonggarkan pembatasan impor untuk beberapa pembangkit listrik untuk memenuhi lonjakan permintaan untuk bahan bakar pemanas.

 “Impor batubara melambat pada bulan Desember karena produksi dalam negeri membaik,” demikian pernyataan analis ANZ dalam catatan untuk klien. "Aktivitas industri yang lebih lambat selama Tahun Baru Imlek dapat membuat impor tetap tenang hingga Februari".

Baca Juga: Tak Penuhi Target, Realisasi DMO Batubara Tahun Lalu Capai 133 Juta Ton

Untuk tahun penuh 2021, pengapalan batubara mencapai 323,22 juta ton, tertinggi sejak 2013, dan naik dari 303,99 juta ton di tahun sebelumnya.

Trader di China mengurangi pembelian batubara dari luar negeri setelah penambang domestik menanggapi seruan Beijing untuk memastikan pasokan energi selama musim dingin dengan menaikkan output ke rekor tertinggi.

Sementara harga batu bara domestik turun lebih dari setengahnya.Persediaan batubara telah turun karena musim pemanasan musim dingin mencapai tanda setengah jalan.

 "Tren yang biasa adalah utilitas listrik untuk mengisi kembali selama bulan-bulan sebelum liburan lunar (Tahun Baru Imlek) untuk memastikan persediaan yang memadai selama musim dingin dan pada bulan Desember pengisian kembali melambat setelah membangun stok," Justin Jose, analis batubara di Rystad Energy, kepada Reuters.

Rystad memperkirakan impor batubara akan bangkit kembali pada Februari atau Maret.

Stok batubara di perusahaan listrik melebihi 162 juta ton pada 21 Januari, memadai untuk penggunaan selama 21 hari. Angka itu sekitar 40 juta ton lebih tinggi daripada posisi per periode yang sama tahun lalu, perencana negara bagian National Development and Reform Commission mengatakan di akun WeChat-nya.

Pasokan batu bara dijamin, kata perencana negara, bahkan ketika persediaan batu bara "sedikit berfluktuasi" dari rekor tertinggi 168 juta ton yang dicapai pada 22 Desember, tambahnya. Mereka tetap di atas 160 juta ton, melebihi tingkat di tahun sebelumnya.

Tidak seperti dua tahun sebelumnya, China tidak memberlakukan batas impor tidak resmi pada tahun 2021 di tengah upaya untuk memastikan pasokan batu bara yang stabil untuk mengurangi kekurangan listrik nasional dan untuk menjinakkan harga batu bara yang melambung.

Baca Juga: Untuk Penuhi Kebutuhannya, India Akan Mengerek Produksi Batubara hingga 2024  

Namun, larangan tidak resmi atas impor batu bara dari Australia tetap diberlakukan.

Impor batubara China diperkirakan akan turun pada Januari setelah Indonesia, pemasok batubara terbesarnya, menghentikan ekspor pada 1 Januari setelah perusahaan listrik negara melaporkan tingkat stok bahan bakar yang sangat rendah di pembangkit listrik domestiknya.

Namun, pedagang China memperkirakan dampaknya akan terbatas karena utilitas memiliki persediaan yang besar dan permintaan listrik akan melemah menjelang liburan Tahun Baru Imlek, yang dimulai pada 31 Januari.

Bagikan

Berita Terbaru

Rajin Akuisisi Tambang Emas-Tembaga Australia, Simak Prediksi Pergerakan Saham BUMI
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:37 WIB

Rajin Akuisisi Tambang Emas-Tembaga Australia, Simak Prediksi Pergerakan Saham BUMI

Alrich menjelaskan bahwa akuisisi dapat menjadi katalis positif jangka panjang bagi BUMI karena memperluas sumber pertumbuhan di luar batubara.

 Tekanan Margin Membayangi Kinerja Bank
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:25 WIB

Tekanan Margin Membayangi Kinerja Bank

Biaya dana yang meningkat menekan margin bank besar, membayangi pertumbuhan laba di tengah ekspansi kredit.

Rupiah Loyo, Inflasi Medis Ancam Bisnis Asuransi Kesehatan
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:25 WIB

Rupiah Loyo, Inflasi Medis Ancam Bisnis Asuransi Kesehatan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio klaim asuransi kesehatan berada di kisaran 62,11% per Agustus 2026

Kredit Menganggur di Bank Masih Menggunung
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:25 WIB

Kredit Menganggur di Bank Masih Menggunung

Kredit menganggur di perbankan menembus Rp 2.562 triliun per September 2026, naik 7,9% secara tahunan, membuka ruang ekspansi kredit lebih besar

Trimitra Trans (BLOG) Siap Optimalkan Momentum Nataru
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:20 WIB

Trimitra Trans (BLOG) Siap Optimalkan Momentum Nataru

Untuk mendukung aktivitas operasional, BLOG mengandalkan manajemen SDM, perluasan jaringan distribusi, serta penggunaan teknologi yang adaptif

Modal Bank Besar Mulai Tergerus
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Modal Bank Besar Mulai Tergerus

OJK mencatat CAR industri perbankan mencapai 24,10% pada Agustus 2026, naik dari 23,84% pada Juli 2026. 

Penurunan Konsumsi Mengancam Transaksi E-Wallet
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55 WIB

Penurunan Konsumsi Mengancam Transaksi E-Wallet

Ketika belanja mulai ditekan, transaksi pembayaran digital yang berkaitan dengan konsumsi berpotensi ikut terkoreksi

IHSG Anjlok 1,99% ke 5.266, Ini Prediksi dan Rekomendasi Saham untuk Rabu (28/10)
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:50 WIB

IHSG Anjlok 1,99% ke 5.266, Ini Prediksi dan Rekomendasi Saham untuk Rabu (28/10)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 106,96 poin atau 1,99% menjadi 5.266,13 pada perdagangan Selasa (27/10).

Target Wijaya Karya (WIKA) Memulihkan Kinerja
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25 WIB

Target Wijaya Karya (WIKA) Memulihkan Kinerja

WIKA menggenjot perolehan kontrak baru untuk memulihkan kinerja keuangan perusahaan sepanjang tahun ini

Leasing Waspadai Dinamika Regulasi Mobil Listrik
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:15 WIB

Leasing Waspadai Dinamika Regulasi Mobil Listrik

OJK mencatat kredit kendaraan listrik multifinance naik 34,67% menjadi Rp 26,20 triliun per Agustus 2026.

INDEKS BERITA