Penerapan Cukai Plastik Diprediksi Perlambat Laju Industri Plastik dan Kimia

Sabtu, 26 Januari 2019 | 07:41 WIB
Penerapan Cukai Plastik Diprediksi Perlambat Laju Industri Plastik dan Kimia
[]
Reporter: Agung Hidayat | Editor: Dian Pertiwi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana penerapan cukai plastik yang bergulir belakangan ini turut mempengaruhi pertumbuhan industri plastik dan kimia. Apabila cukai plastik jadi diterapkan, produsen mengkhawatirkan produksi plastik dan kimia akan melambat.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Suhat Miyarso mengatakan, apabila kebijakan cukai tetap diberlakukan, dampak pertama akan dirasakan oleh produsen di hilir. Misalnya, pabrik produsen kantung plastik.

Suhat juga mengkhawatirkan kinerja industri akan sedikit melambat. Pasalnya, permintaan akan bahan baku plastik menjadi berkurang, sementara stok produksi tidak naik. "Mereka menjadi khawatir dan akhirnya hanya memproduksi sesuai dengan kebutuhan," ujar dia kepada KONTAN, Jumat (25/1).

Dengan begitu, kata Suhat, akibat isu cukai plastik ini, rencana pengembangan industri hilir baru bakal dalam posisi wait and see.

Sementara industri di sektor hulu, kata Suhat, masih dapat bertahan dengan tetap memasok ragam kebutuhan, tidak hanya plastik. Inaplas memproyeksikan, tahun ini, sekitar 50%-60% dari permintaan plastik berasal dari kemasan sektor makanan dan minuman.

Jika sektor makanan dan minuman tumbuh 9%, industri plastik optimistis juga dapat bertumbuh sekitar 5% tahun ini. Karena itu, Inaplas tetap menolak dan tidak ingin ada penerapan cukai plastik pada tahun ini.

Bagaimana pun juga, kata Suhat, pihak industri plastik akan berupaya mencegah implementasi cukai terhadap kantung belanja plastik. Tetapi, industri tidak menutup pintu negosiasi dengan pemerintah soal penerapan cukai terhadap plastik itu.

Meski begitu, industri melihat penerapan cukai plastik memang akan membebani para pelaku industri dan berujung dengan pembebanan biaya pada konsumen akhir. "Inaplas optimistis akan ada titik temu dalam perundingan antara industri dan pemerintah," tandas Suhat.

Asal tahu saja, sampai saat ini, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai masih merumuskan rancangan peraturan pemerintah (RPP) mengenai cukai plastik. Sebelumnya, RPP ini ditargetkan bisa terbit pada akhir tahun lalu, untuk diimplementasikan tahun ini. Sebab, secara target, cukai plastik sudah ditetapkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2019.

Pengenaan cukai pada produk plastik didasari pada pasal-pasal yang terdapat di Undang-Undang Cukai. Salah satunya, barang yang konsumsinya harus dikendalikan atau distribusi peredarannya harus diawasi. Selain itu, barang yang mendatangkan eksternalitas negatif perlu ada pungutan atas dasar azas keadilan dan keseimbangan.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Emas dan Nikel Turun, Prospek Saham Antam (ANTM) Masih Positif?
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:53 WIB

Harga Emas dan Nikel Turun, Prospek Saham Antam (ANTM) Masih Positif?

Emas menjadi mesin utama pendapatan Antam (ANTM), sementara nikel berperan sebagai mesin pertumbuhan laba.

Esa Medika Mandiri (EMMI) Berencana IPO, Cermati Peluang dan Risikonya
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:37 WIB

Esa Medika Mandiri (EMMI) Berencana IPO, Cermati Peluang dan Risikonya

Risiko terbesar EMMI berasal dari konsentrasi pelanggan karena sebagian besar penjualan saat ini masih ditujukan kepada instansi pemerintah.

Masih Dibayangi Sentimen MSCI, Cek Support Resistance IHSG Senin (22/6)
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:31 WIB

Masih Dibayangi Sentimen MSCI, Cek Support Resistance IHSG Senin (22/6)

Pengumuman MSCI dan sentimen global pengaruhi IHSG hari ini. Ketahui saham yang direkomendasikan analis untuk dibeli.

Bank Syariah Perkuat Investasi pada Kanal Digital
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:30 WIB

Bank Syariah Perkuat Investasi pada Kanal Digital

Industri perbankan syariah terus mempercepat transformasi digital guna mendorong pertumbuhan bisnis dan memperkuat daya saing.​

Rupiah Masih Rentan Koreksi di Awal Pekan Ini
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:30 WIB

Rupiah Masih Rentan Koreksi di Awal Pekan Ini

Nilai tukar rupiah kembali melemah ke Rp 17.804 per dolar AS. Sinyal hawkish The Fed dan geopolitik jadi pemicu. 

Bank Tak Cemas Pembelian Valas Tanpa Underlying Dibatasi
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:30 WIB

Bank Tak Cemas Pembelian Valas Tanpa Underlying Dibatasi

BI kian membatasi transaksi pembelian valas tanpa underlying. Mulai 1 Juli 2026, pembelian dibatasi menjadi US$ 10.000 per orang setiap bulan​

BI dan Pemerintah Ibarat Menginjak Pedal Rem dan Gas Bersamaan
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:25 WIB

BI dan Pemerintah Ibarat Menginjak Pedal Rem dan Gas Bersamaan

Kenaikan BI rate 1% dalam sebulan terakhir menjadi 5,75% demi menarik arus modal asing menyimpan konsekuensi lain, menekan pertumbuhan  kredit.​

Penjualan Kuartal Pertama Tertekan, Laba GEMS Melorot
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:16 WIB

Penjualan Kuartal Pertama Tertekan, Laba GEMS Melorot

Laba bersih GEMS menyusut 29,45% di Q1-2026. Realisasi RKAB jadi penentu pemulihan kinerja perusahaan.

Daya Beli Melemah, Risiko Laba Ritel Terancam di Tengah Diskon Besar?
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:15 WIB

Daya Beli Melemah, Risiko Laba Ritel Terancam di Tengah Diskon Besar?

Emiten ritel gencar diskon besar pasca-Lebaran. Apakah strategi ini mampu dongkrak keuntungan investor di Q2 2026? Cek analisis lengkapnya

Sejuta Alasan Byar-pet
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:10 WIB

Sejuta Alasan Byar-pet

Pemadaman listrik bergilir bukan sekadar masalah teknis tapi cermin kegagalan struktural & lemahnya akuntabilitas pengelolaan kelistrikan nasional

INDEKS BERITA

Terpopuler