Pengusaha SPBU terbebani bisnis hulu

Senin, 18 Mei 2020 | 12:31 WIB
Pengusaha SPBU terbebani bisnis hulu
[ILUSTRASI. Petugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah saat melayani pengendara di SPBU 31-164-01, Margonda, Depok, Jawa Barat, Jumat (8/5/2020). Penggunaan alat pelindung wajah (Face Shield) tersebut sebagai salah satu upaya untuk melindungi diri saat berhubungan]
Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

KONTAN.CO.ID -  Pertamina dan operator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) belakangan ramai menjadi perbincangan publik di media sosial. Peritel bahan bakar minyak (BBM) ini dianggap lebih cepat menaikkan harga ketimbang menurunkan harga saat harga minyak dunia bergejolak.
Dahlan Iskan, Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam blog disway.id bilang, dengan kondisi harga ICP (Indonesian Crude  Price) sebesar US$ 20 per barel, maka harga BBM di Indonesia seharusnya bisa Rp 5000 per liter. Namun, harga tersebut tak tercermin dalam harga jual BBM yang di setiap SPBU di Indonesia.
Padahal jika merujuk data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, harga ICP bulan April dibanderol US$ 20,66 per barel, turun ketimbang ICP Maret sebesar US$34,23 per barel. Namun Pertamina memiliki pandangan lain, kenapa harga tersebut tidak bisa turun. “Dampak penurunan harga minyak ini berdampak juga ke bisnis hulu Pertamina, dan kebijakan harga saat ini dilakukan untuk memastikan bisnis hulu tetap berjalan,” kata Fahriyah Usman, VP of Corporate Communication PT Pertamina, Selasa (5/5). 
Fajriyah bilang, ketika harga minyak turun, bisnis hulu Pertamina ikut terpukul. Sementara bisnis hulu Pertamina berupa kilang minyak itu butuh modal untuk tetap beroperasi. Maka itu, kebijakan perubahan harga BBM menghitung tanggungan Pertamina ke bisnis hulu. “Kilang di hulu masih mengalir, Pertamina bertanggungjawab untuk menyerapnya,” kata Fajriyah.
Memang bisa saja kilang tersebut ditutup dan Pertamina impor minyak yang lagi murah. Namun kebijakan itu berisiko terhadap kemandirian energi. Sebab, untuk mengoperasikan kilang yang sudah ditutup bukanlah persoalan mudah.   Maka itulah, Pertamina tidak menurunkan harga, dan kebijakan tersebut diikuti oleh operator SPBU lainnya. “Kami ikut aturan harga yang telah ditetapkan pemerintah,” kata Magda Naibaho, Marketing Manager PT Total Oil Indonesia.
 Untuk diketahui, harga pertamax di SPBU Pertamina saat ini dibanderol Rp 9.000 per liter, kemudian Shell regular Rp 9.075 per liter, Total performance Rp 9.075 per liter dan harga BBM di Indomobil Rp 9150 per liter.  Merujuk data dari Globalpetrolprice.com, harga BBM di Indonesia saat ini setara dengan US$ 0,6 per liter, lebih mahal ketimbang harga BBM di Malaysia US$ 0,29 dolar. Namun harga BBM di Indonesia lebih murah ketimbang Filipina seharga US$ 0,74 per liter dan Thailand seharga US$ 0,77 per liter.                                                          u

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Rupiah Menguat pada Kamis (26/2), Bagaimana Pergerakan di Jumat (27/2)?
| Jumat, 27 Februari 2026 | 05:00 WIB

Rupiah Menguat pada Kamis (26/2), Bagaimana Pergerakan di Jumat (27/2)?

Nilai tukar rupiah melesat 0,24% hari ini! Simak faktor tak terduga yang mendorong penguatan, dari Iran hingga pajak. Cek prediksi besok!

Mendulang Pajak di Ramadan dan Idulfitri
| Jumat, 27 Februari 2026 | 05:00 WIB

Mendulang Pajak di Ramadan dan Idulfitri

Ramadan dan Idulfitri menjadi momentum untuk mendorong penerimaan PPN dan PPh 21                    

S&P Soroti Bengkaknya Bunga Utang RI
| Jumat, 27 Februari 2026 | 04:41 WIB

S&P Soroti Bengkaknya Bunga Utang RI

Tahun 2026, alokasi pembayaran bunga utang mencapai 19% dari total pendapatan negara                

Harga Minyak Dunia Naik, Saham Emiten Migas Ciamik
| Jumat, 27 Februari 2026 | 04:21 WIB

Harga Minyak Dunia Naik, Saham Emiten Migas Ciamik

Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) terpantau paling menikmati efek bullish harga minyak dunia. 

Masih Ada Peluang Cuan di Saham Emiten Properti Aguan
| Jumat, 27 Februari 2026 | 04:14 WIB

Masih Ada Peluang Cuan di Saham Emiten Properti Aguan

PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) membukukan kinerja marketing sales positif di sepanjang tahun 2025. 

Puradelta Lestari (DMAS) Incar Prapenjualan Rp 2,08 Triliun Pada 2026
| Jumat, 27 Februari 2026 | 04:05 WIB

Puradelta Lestari (DMAS) Incar Prapenjualan Rp 2,08 Triliun Pada 2026

Selain dari sektor industri, target pre-sales PT Puradelta Lestari Tbk juga bakal ditopang penjualan produk komersial dan hunian di Kota Deltamas.

Masa Depan ADRO: Analis Ungkap Potensi Cuan & Risiko RKAB Batubara
| Jumat, 27 Februari 2026 | 04:00 WIB

Masa Depan ADRO: Analis Ungkap Potensi Cuan & Risiko RKAB Batubara

ADRO umumkan dividen interim US$250 juta, tawarkan yield 8%. Namun, potensi pemangkasan kuota RKAB 2026 bisa memukul laba bersih

RMK Energy (RMKE) Resmi Merilis Obligasi Senilai Rp 600 Miliar
| Jumat, 27 Februari 2026 | 03:59 WIB

RMK Energy (RMKE) Resmi Merilis Obligasi Senilai Rp 600 Miliar

Masa penawaran umum Obligasi Berkelanjutan I RMK Energy Tahap II Tahun 2026 berlangsung sejak Kamis (26/2).

Peternak Meminta Pemerintah Lobi Arab Saudi
| Jumat, 27 Februari 2026 | 03:35 WIB

Peternak Meminta Pemerintah Lobi Arab Saudi

Kementerian Pertanian tengah memproses akses pasar unggas ke Arab Saudi yang masih tahap negosiasi persyaratan teknis.

Dolar AS Tertekan! Ini Mata Uang Asia yang Siap Menguat
| Jumat, 27 Februari 2026 | 03:30 WIB

Dolar AS Tertekan! Ini Mata Uang Asia yang Siap Menguat

Indeks dolar AS terus tertekan di bawah 98. Simak mata uang Asia mana yang berpeluang besar menguat 

INDEKS BERITA

Terpopuler