Penjualan Arwana Citramulia (ARNA) Melesat Pasca Kapasitas Produksi Bertambah

Selasa, 30 Juli 2019 | 06:28 WIB
Penjualan Arwana Citramulia (ARNA) Melesat Pasca Kapasitas Produksi Bertambah
[]
Reporter: Kenia Intan | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang semester pertama tahun ini, PT Arwana Citramulia Tbk mencetak kinerja positif. Produsen keramik ini mencatatkan peningkatan penjualan bersih 13% year-on-year (yoy) menjadi Rp 1,05 triliun. Adapun laba bersihnya naik signifikan 46,9% (yoy) menjadi Rp 103,01 miliar.

Memasuki semester II-2019, emiten dengan kode saham ARNA di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu optimistis bakal melanjutkan kinerja positif. Sebab, Arwana baru saja merampungkan penambahan kapasitas produksi sebesar 4 juta meter persegi (m²) per tahun. Alhasil, total kapasitas produksi ARNA saat ini menjadi 61 juta m per tahun.

Saat ini, tambahan kapasitas produksi tersebut sudah berjalan dengan utilitas penuh pada plant 4B Ogan Ilir. Dengan beroperasinya plant 4B Ogan Ilir, manajemen ARNA berharap dapat memenuhi target permintaan lantai keramik merek UNO berukuran 50 cm x 50 cm di wilayah Sumatra.

Sebelumnya, pasokan ke wilayah itu berasal dari pabrik di Gresik, Jawa Timur. "Dengan demikian, kami berharap secara service level akan meningkat untuk konsumen ARNA di Sumatra, yaitu dari kecepatan supply, kontinuitas produk dan harga yang lebih terjangkau," ungkap Chief Operating Officer PT Arwana Citramulia Tbk, Edy Suyanto kepada KONTAN, Senin (29/7).

Di semester kedua, ARNA juga mulai memperluas jaringan pemasaran dengan menunjuk subdistributor baru di Ambon dan Kupang. Dus, jumlah outlet di daerah tersebut ikut meningkat.

Berdasarkan catatan KONTAN, sepanjang semester I-2019, ARNA telah menambah jumlah outlet sekitar 4% dari 9.730 menjadi 10.150 outlet. Memang, penambahan outlet menjadi salah satu pendorong kinerja ARNA selama enam bulan pertama tahun ini.

Pendapatan di semester pertama juga ditopang penjualan segmen keramik menengah- ke bawah. Segmen ini banyak didorong adanya program sejuta rumah, khususnya rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan rumah susun.

Manajemen ARNA pernah menyampaikan kinerja di semester kedua juga tidak terlepas dari proyek infrastruktur pemerintah yang mulai bergulir. Pemilu yang berjalan sukses diharapkan bisa menggairahkan pasar properti.

Optimisme ARNA juga sejalan dengan proyeksi pertumbuhan industri keramik nasional. "Perkiraan utilitas kapasitas nasional sudah di atas 75%," sebut Edy.

Ancaman impor keramik

Meski optimistis menjalani bisnis di sisa tahun ini, pelaku industri keramik, termasuk ARNA, masih mewaspadai ancaman banjir impor keramik. Edy Suyanto yang juga Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengamati adanya peningkatan volume impor keramik yang siginifikan sejak November tahun lalu, terutama dari India.

"Asaki sedang mengajukan ke Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) untuk memasukkan produk keramik impor dari India ke dalam daftar negara safeguard," kata Direktur Utama ARNA ini. Adapun keramik impor dari China yang selama ini dikenai safeguard masih tetap beredar di pasar di Indonesia.

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Tembaga Koreksi, Ini Dampaknya ke MDKA, ANTM dan BRMS
| Rabu, 16 September 2026 | 15:00 WIB

Harga Tembaga Koreksi, Ini Dampaknya ke MDKA, ANTM dan BRMS

Katalis yang perlu diperhatikan ke depan mencakup kebijakan tarif AS, perkembangan persediaan LME dan COMEX, kebijakan The Fed dan arah dolar AS.​

Gejolak Harga Minyak Mengerek Biaya Angkut
| Rabu, 16 September 2026 | 14:19 WIB

Gejolak Harga Minyak Mengerek Biaya Angkut

Konflik geopolitik turut memicu lonjakan tarif angkut dan mengancam margin perusahaan. Tapi, tekanan bukan hanya dari harga energi.

Meski Sentimen Akuisisi Saham DSSA Masih Volatile, Ini Sebabnya
| Rabu, 16 September 2026 | 14:15 WIB

Meski Sentimen Akuisisi Saham DSSA Masih Volatile, Ini Sebabnya

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bergerak volatile setelah melonjak signifikan menyusul narasi akuisisi PT Bali Media Telekomunikasi.

Saham BYAN Anjlok 41% Sebulan, Dihantam Isu Akuisisi hingga Force Majeure
| Rabu, 16 September 2026 | 12:50 WIB

Saham BYAN Anjlok 41% Sebulan, Dihantam Isu Akuisisi hingga Force Majeure

BYAN tidak mengetahui adanya rencana akuisisi sekitar 62,2% saham BYAN oleh Haji Isam, atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam

Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?
| Rabu, 16 September 2026 | 12:45 WIB

Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?

Analis menyebut secara keseluruhan, AMMN dan BRMS masih berpeluang menguat dalam jangka pendek, terutama didorong oleh kenaikan bobot dalam indeks

Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?
| Rabu, 16 September 2026 | 12:30 WIB

Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?

Emiten konstruksi terpantau mulai membidik bisnis pembangunan data center di tengah terbatasnya anggaran konstruksi pemerintah.

Rencana Danantara Pegang 40% Saham BEI Picu Kekhawatiran Konflik Kepentingan
| Rabu, 16 September 2026 | 11:59 WIB

Rencana Danantara Pegang 40% Saham BEI Picu Kekhawatiran Konflik Kepentingan

Tujuan demutualisasi BEI seharusnya mengurangi konsentrasi dan konflik kepentingan, bukan sekadar memindahkan konsentrasi kepemilikan.

Ganti Pengendali, Prospek Saham DPUM Terkerek Rencana Transformasi dan Ekspansi
| Rabu, 16 September 2026 | 11:47 WIB

Ganti Pengendali, Prospek Saham DPUM Terkerek Rencana Transformasi dan Ekspansi

Sentimen masuknya pengendali baru DPUM cukup positif karena latar belakang PT Rama Indonesia yang mempunyai jaringan distribusi yang luas

Suntik Rp 325 Miliar ke Anak usaha untuk Ekspansi, Simak Rekomendasi Saham CMRY
| Rabu, 16 September 2026 | 11:11 WIB

Suntik Rp 325 Miliar ke Anak usaha untuk Ekspansi, Simak Rekomendasi Saham CMRY

Ekspansi distribusi cukup penting bagi CMRY karena pertumbuhan penjualan tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi.

Porsi Danantara di BEI Menjadi Sorotan
| Rabu, 16 September 2026 | 09:10 WIB

Porsi Danantara di BEI Menjadi Sorotan

Danantara masih menunggu regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjadi landasan hukum demutualisasi

INDEKS BERITA

Terpopuler