Penjualan Lahan dan Divestasi Absen, Laba Bersih Sinarmas Land Turun 66,4%

Rabu, 27 Februari 2019 | 15:50 WIB
Penjualan Lahan dan Divestasi Absen, Laba Bersih Sinarmas Land Turun 66,4%
[]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan properti milik Grup Sinarmas, Sinarmas Land Limited, membukukan penurunan kinerja sepanjang 2018.

Laba setelah pajak dan kepentingan non-pengendali alias laba bersih per kuartal IV 2018 anjlok 74,9% menjadi S$ 58,6 juta.

Alhasil, total laba bersih Sinarmas Land sepanjang tahun 2018 hanya sebesar S$ 119 juta. Dibandingkan periode 2017, laba bersih Sinarmas Land pada tahun lalu turun sebesar 66,4%.

Manajemen Sinarmas Land, dalam siaran pers perusahaan, menyebutkan, penurunan laba bersih itu terutama disebabkan oleh absennya penjualan lahan dari divisi Indonesia dan tidak adanya keuntungan luar biasa sebesar S$ 109,4 juta dari divestasi Orchard Tower oleh divisi Internasional pada 2017 lalu.

Sepanjang 2018, Sinarmas Land membukukan pendapatan sebesar S$ 864,1 juta, turun 35,9% dibandingkan periode sama tahun 2017.

Selain karena pelemahan rupiah, penurunan pendapatan pada 2018 terutama disumbang oleh absennya penjualan satu lahan di BSD City yang pada 2017 mencapai S$ 471,2 juta.

Jika tidak memperhitungkan penjualan lahan di BSD City pada 2017, pendapatan pada 2018 hanya turun sebesar 1,4%, terlepas dari pelemahan rupiah yang lebih tinggi terhadap dollar Singapura.

Penurunan tersebut diimbangi oleh pendapatan yang lebih tinggi yang dihasilkan dari penjualan ruko komersial di Indonesia dan basis pendapatan berulang yang lebih luas dari properti investasi.

Sepanjang 2018, pendapatan berulang Sinarmas Land meningkat 3,2% menjadi S$ 161,7 juta. Kenaikan pendapatan berulang ini ditopang oleh kontribusi sewa yang lebih tinggi dari divisi Inggris setelah akuisisi 33 Horseferry Road pada Juni 2017 dan pendapatan sewa dari properti investasi yang baru saja diakuisisi di Jakarta, Indonesia.

Bersamaan dengan penurunan pendapatan, laba kotor Sinarmas Land sepanjang 2018 turun 39,3% menjadi S$ 598,1 juta. Margin laba kotor untuk setahun penuh merosot dari 73,1% pada 2017 menjadi 69,2% pada 2018.

Meski biaya operasioal lebih rendah dan pendapatan keuangan lebih tinggi, EBITDA  terseret oleh pendapatan yang lebih rendah. Alhasil, EBITDA sepanjang 2018 turun 42,8% menjadi S$ 460,1 juta. Margin EBITDA turun menjadi 53,3%.

Meski begitu, neraca perusahaan masih tetap baik dengan total aset meningkat menjadi S$ 6.560,5 juta per 31 Desember 2018. Likuiditas perusahaan masih tetap kuat dengan kas dan setara kas sebesar S$ 984,1 juta. Sementara rasio utang terhadap modal bersih sebesar 22,9%.

Mempertimbangkan kinerja sepanjang 2018, manajemen Sinarmas Land mengusulkan dividen pertama dan final sebesar  0,2 sen Singapura per saham. Namun, besaran dividen ini bergantung pada persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Rencananya, dividen akan dibayarkan pada 27 Juni 2019.

Mengutip siaran pers perusahaan, Executive Director Sinarmas Land dan Vice-Chairman Sinarmas Land Indonesia Margaretha Widjaja mengatakan, 2018 adalah tahun yang sulit bagi Indonesia.

Indonesia menghadapi banyak tantangan yang ditandai oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), perang dagang antara AS dan China, kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 175 basis point, penurunan harga komoditas, dan beberapa bencana alam. Meski begitu, ekonomi Indonesia masih tetap tangguh dan mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17%.

Meski ekonomi mencoba melawan turbulensi eksternal, Margaretha menambahkan, sektor properti dan real estat terus menghadapi tantangan dari depresiasi rupiah, kenaikan suku bunga, pengurangan konsumsi rumah tangga, serta pemilihan umum 2019 mendatang yang biasanya membuat konsumen menunda pembelian dan lebih memilih wait and see.

Anak perusahaan Divisi Indonesia Sinarmas Land, yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), menargetkan prapenjualan alias marketing sales masing-masing sebesar RP 6,2 triliun dan Rp 1,25 triliun. Dibandingkan tahun 2018, target tersebut hampir datar untuk Bumi Serpong Damai. Sementara target Puradelta naik 40% meskipun realisasinya akan bergantung pada selera investor pasca pemilihan presiden nanti.

"Meski begitu, Grup  akan terus mempelajari pasar, meningkatkan inisiatif pemasaran, dan mengadopsi pendekatan penawaran yang fleksibel untuk lebih memenuhi kebutuhan klien kami," ujar Margaretha.

Margeretha menambahkan, ketegangan geopolitik yang tengah berlangsung, termasuk perang dagang AS-China dan Brexit, telah memaksa Sinarmas Land untuk mengadopsi pendekatan yang hati-hati saat melakukan ekspansi geografis dan strategi diversifikasi pendapatan.

Pada 2018, Sinarmas Land telah kembali memasuki pasar China dengan berinvestasi bersama pada proyek pengembangan perumahan serba guna di Chengdu, China.

Ke depan, Margaretha bilang, Sinarmas Land akan tetap waspada dalam mencari peluang akuisisi yang sesuai dengan strategi investasi di tengah peningkatan ketidakpastian eksternal saat ini.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam
| Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam

Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh eskalasi risiko geopolitik global, dari Venezuela kini bergeser ke Iran.

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30 WIB

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​

Ruang konsumsi barang non-esensial diprediksi kian terbatas dan pola belanja masyarakat cenderung menjadi lebih selektif.

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:04 WIB

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan

Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan  

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:01 WIB

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun

Kebutuhan belanja pemerintah di kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp 700 triliun, namun penerimaan belum akan optimal

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:30 WIB

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan

Dalam jangka panjang, kasus korupsi pajak bakal menyeret rasio perpajakan Indonesia                 

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:16 WIB

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Dengan kecenderungan uptrend yang mulai terbentuk, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness saham BUVA yang dinilai masih relevan.

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:53 WIB

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri

Meski ikut terimbas flash crash IHSG, hingga 12 Januari 2026 persentase kenaikan saham Bakrie non-minerba masih berkisar antara 15% hingga 83%.

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:39 WIB

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran

Inaplas belum percaya diri dengan prospek industri plastik keseluruhan pada 2026, lantaran barang jadi asal China membanjiri pasar lokal.

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

INDEKS BERITA