Permintaan Listrik Lesu, Produksi Batubara China Turun dari Rekor Tertingginya

Senin, 16 Mei 2022 | 11:04 WIB
Permintaan Listrik Lesu, Produksi Batubara China Turun dari Rekor Tertingginya
[ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas di depan pembangkit listrik batubara di Shanghai, China, 14 October 2021. REUTERS/Aly Song]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Produksi batubara harian China pada April melonjak 11% dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan sejalan dengan instruksi Beijing ke industri pertambangan di negeri itu untuk mengerek pasokan demi memastikan keamanan pasokan energi negara itu. 

Kendati ada peningkatan dalam basis tahunan, volume turun dari realisasi di bulan Maret, yang merupakan rekor produksi tertinggi. Prospek permintaan dalam waktu dekat juga tidak kuat.

China, produsen batubara terbesar dunia, menambang 362,8 juta ton bahan bakar bulan lalu, data dari Biro Statistik Nasional menunjukkan pada hari Senin. Volume itu setara dengan 12,09 juta ton per hari.

Sedangkan volume produksi pada Maret mencapai 12,77 juta ton per hari. Dan realisasi produksi untuk April tahun sebelumnya sebesar 10,74 juta ton per hari.

Baca Juga: Pertahankan Kebijakan Jangka Menengah, POBC Diharap Lakukan Pelonggaran Tambahan

Produksi selama periode Januari-April adalah 1,45 miliar ton, juga 11% lebih tinggi dari pada periode yang sama tahun sebelumnya, data biro menunjukkan.

China bertujuan untuk meningkatkan produksi batubara harian di atas 12,6 juta ton dan membangun inventaris nasional sebesar 620 juta ton untuk memastikan pasokan yang cukup.

Pemerintah juga mendesak daerah-daerah yang sebagian besar bergantung pada batubara impor untuk menandatangani lebih banyak kontrak berdurasi setidaknya satu tahun dengan produsen batubara dalam negeri, untuk mengamankan pasokan.Baca cerita lengkapnya

Bank sentral China mengatakan bahwa, untuk mendukung lebih banyak produksi, mereka telah mengalokasikan pinjaman tambahan sebesar 100 miliar yuan ($14,7 miliar) yang didedikasikan untuk produksi, penyimpanan, dan pembelian batu bara oleh pembangkit listrik.

Baca Juga: Krisis Ukraina dan Pelemahan Yen Angkat Indeks Harga Grosir Jepang

Beijing juga telah menetapkan batas harga untuk batubara termal di bawah perdagangan spot dan kontrak berjangka untuk mengurangi tekanan inflasi dan menyeimbangkan keuntungan antara penambang batubara dan utilitas.

Namun, permintaan yang rendah dari sektor hilir, menyusul berbagai penutupan pabrik industri karena wabah Covid-19, dapat membebani pertumbuhan lebih lanjut dari produksi batubara.

Produksi listrik China selama jatuh ke tingkat yang terakhir terlihat pada Mei 2020. Output daya termal turun 12% dari tahun sebelumnya.

Persediaan batubara di pembangkit listrik yang tersebar di delapan wilayah pesisir China mencapai 29,66 juta ton pada 7 Mei. Angka itu 25% lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu, menurut data yang dilacak oleh China Coal Transportation and Distribution.

Bagikan

Berita Terbaru

Rumor Akhirnya Terjawab, Bakrie Capital Indonesia Resmi Akuisisi 6% Saham BIPI
| Rabu, 25 Februari 2026 | 19:11 WIB

Rumor Akhirnya Terjawab, Bakrie Capital Indonesia Resmi Akuisisi 6% Saham BIPI

Grup Bakrie merogoh kocek sekitar Rp 948 miliar untuk menebus 6% saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI).

Berburu Cuan Dividen Bank Besar, Intip Potensi Yield Dividen BBCA, BMRI, BBRI, & BBNI
| Rabu, 25 Februari 2026 | 08:31 WIB

Berburu Cuan Dividen Bank Besar, Intip Potensi Yield Dividen BBCA, BMRI, BBRI, & BBNI

Imbal hasil dividen terutama dari bank Himbara diproyeksi lebih menarik, bisa menyentuh menyentuh 8%-9%.

Saham SIDO Terjerembap di Musim Hujan Awal Tahun, tapi Diborong Tiga Institusi Asing
| Rabu, 25 Februari 2026 | 08:10 WIB

Saham SIDO Terjerembap di Musim Hujan Awal Tahun, tapi Diborong Tiga Institusi Asing

Investor asing institusi seperti Vanguard dan Blackrock masih mencatatkan unrealized loss di  saham SIDO.

OJK Usut 32 Kasus Dugaan Manipulasi Saham, Tak Semuanya Melibatkan Influencer
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:35 WIB

OJK Usut 32 Kasus Dugaan Manipulasi Saham, Tak Semuanya Melibatkan Influencer

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah memfinalisasi POJK yang ditargetkan bakal dirilis pada semester I-2026.

Bangkit dari Level Gocap, Didorong Sentimen Right Issue Harga Saham WMUU Melesat
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:10 WIB

Bangkit dari Level Gocap, Didorong Sentimen Right Issue Harga Saham WMUU Melesat

Konversi hak tagih akan membawa dampak positif, salah satunya memangkas rasio pinjaman terhadap ekuitas WMUU. 

Perjanjian Dagang RI-AS Menekan Bisnis Logistik
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:05 WIB

Perjanjian Dagang RI-AS Menekan Bisnis Logistik

Perjanjian ini berpotensi membuat perlindungan data primer bangsa menggunakan platform digital dan server pihak asing.

Pasar Saham Masih Lesu, Hari Ini, Rabu (25/2) IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:53 WIB

Pasar Saham Masih Lesu, Hari Ini, Rabu (25/2) IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi

Keuangan menjadi satu-satunya sektor yang menguat. Pelemahan IHSG juga diiringi tekanan pada rupiah yang melemah ke Rp 16.829 per dolar AS.

Strategi SGRO Bayar Utang Rp 205 Miliar dan Target Produksi CPO 2026
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:41 WIB

Strategi SGRO Bayar Utang Rp 205 Miliar dan Target Produksi CPO 2026

SGRO menargetkan produksi minyak kelapa sawit (CPO) dan tandan buah segar (TBS) bisa tumbuh hingga 3%-5% di tahun 2026.

Suntik Anak Usaha, JSMR Menerbitkan Obligasi Hingga Rp 2,06 Triliun
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:33 WIB

Suntik Anak Usaha, JSMR Menerbitkan Obligasi Hingga Rp 2,06 Triliun

Saat ini, progres pembangunan keseluruhan ruas Jakarta-Cikampek Selatan diklaim telah mencapai 75,78%

Terkoreksi Pasca Melesat, Berkat Kontrak Baru dari Adaro Saham DOID Tetap Memikat
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:30 WIB

Terkoreksi Pasca Melesat, Berkat Kontrak Baru dari Adaro Saham DOID Tetap Memikat

Valuasi harga saham PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) acap kali terdiskon tajam gara-gara profil utangnya yang menggunung.

INDEKS BERITA