Berita Bisnis

Persaingan Sengit, Restoran Siap Saji Beradu Strategi

Rabu, 06 Maret 2019 | 09:29 WIB

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Agar tetap bertumbuh, para pengelola restoran makanan siap saji terus meramu bisnis pada tahun ini. Ada pemain yang berani mengerek harga jual produk, ada pula yang menahan harga jual dan memilih mengeluarkan menu yang relevan dengan kebutuhan pelanggan. Aneka strategi tersebut ditempuh lantaran persaingan di bisnis makanan siap saji begitu ketat.

PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), misalnya, masih memberlakukan harga jual seperti tahun lalu. Pemilik gerai Kentucky Fried Chicken (KFC) ini lebih memilih merilis menu-menu yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan daripada menaikkan harga jual produknya.

"Kami belum berencana menaikkan harga pada tahun ini. Sebab, hal itu mempertimbangkan harga bahan baku, (kenaikan harga) tergantung kondisi cost of raw material," ujar Shivashish Pandey, Direktur PT Fast Food Indonesia Tbk kepada KONTAN, Senin (4/3) lalu.

Langkah serupa dilakukan manajemen PT Rekso Nasional Food. Pemilik gerai McDonald's Indonesia ini belum mengerek harga jual. Manajemen McD mengaku belum menyesuaikan harga jual produknya hingga saat ini.

Sutji Lantyka, Associate Director of Communications McDonald's Indonesia menjelaskan, mereka belum menaikkan harga jual sejak 2017 lalu. Namun bila kelak harga bahan baku mengalami kenaikan, tentu saja McD akan mengerek harga jual, meski tidak signifikan.

"Nanti akan dilihat dulu komposisinya seperti apa. Tahun lalu tidak ada peningkatan harga. Tahun ini kalau pun naik, kami akan menjaga agar tidak terlalu tinggi karena kami mengerti konsumen kami," ujar dia.

Sedangkan PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), pemilik jaringan gerai Pizza Hut, sudah lebih dulu mengerek harga jual. Perusahaan yang mengklaim menguasai 97% market share pasar pizza domestik itu sudah lebih dulu menaikkan harga jual untuk menyesuaikan bahan baku.

Kendati pabrik pasta milik PZZA sudah bisa memenuhi seluruh kebutuhan produksi, pabrik sausage miliknya baru memenuhi 60% kebutuhan setiap gerai sehingga masih mengandalkan bahan baku dari pemasok.

Frederick Estrada Cadlaon, Direktur PZZA menjelaskan, tahun ini mereka menargetkan pertumbuhan pendapatan dobel digit dan same-store sales growth (SSSG) mencapai 4% hingga 5%. "Kami sudah menaikkan harga jual pada Januari sekitar 2%-an, sudah adjust di Januari untuk Pizza Hut Restaurant dan Pizza Hut Delivery," ujar dia.

Kendati sudah mengerek harga jual sebesar 2%, Sarimelati terus memberikan pilihan menu dengan harga hemat. Selain demand yang bagus, menu hemat mampu mendatangkan minat kunjungan pelanggan ke gerai mereka.

Jeo Sasanto, Direktur PZZA menjelaskan, tahun ini tetap mengandalkan menu Sensasi Delight dengan harga Rp 40 ribuan dan menu My Box untuk PHD. Selain itu, setiap tahun ada 5-8 menu promosi dengan harga terjangkau.

KFC juga menggeber menu hemat di awal tahun. Crazy Deal dan Snack Bucket menjadi andalan untuk menarik minat pelanggan untuk datang ke gerai miliknya. "Jika value program dijalankan, penjualan biasanya berdampak kira-kira 20% di hari itu juga," ungkap Shivashish.

Adapun McD pekan lalu merilis menu permanen Rice Bowl yakni Rica-rica Chicken Rice, Rica-rica Fish Rice dan Blackpepper Chicken. Ketiga menu tersebut dijual masing-masing sebesar Rp 16.500 sudah termasuk PPN.

Selain perang menu hemat dan menahan harga jual, pada tahun ini pengelola restoran siap saji menggelar ekspansi dengan membuka gerai baru.

Sarimelati Kencana, misalnya, tahun ini ingin membuka 52 hingga 65 gerai baru. Pemilik Pizza Hut Restaurant dan Pizza Hut Delivery tersebut mengalokasikan anggaran sekitar Rp 450 miliar untuk ekspansi gerai.

Tidak mau kalah, Fast Food juga bakal membuka 60 gerai baru di sepanjang tahun ini. Jika rencana terwujud, pemilik gerai KFC Indonesia ini akan memiliki total 740 gerai hingga akhir tahun nanti.

Sedangkan Rekso Nasional Food menargetkan tahun ini menambah 15 hingga 20 gerai baru. Tak hanya menambah gerai McDonald's Indonesia, perusahaan ini pun bakal membuka beberapa gerai McCafe.

Ekspansi gerai pengelola restoran siap saji tidak lagi terjadi di kota besar, tapi sudah merambah ke kota dan kabupaten. Hal itu lantaran ketiganya siap memperkuat penetrasi dan ekspansi di kota-kota baru.

Reporter: Andy Dwijayanto
Editor:


Baca juga