Pertaruhan Independensi BI

Jumat, 31 Juli 2026 | 06:10 WIB
Pertaruhan Independensi BI
[ILUSTRASI. TAJUK - Khomarul Hidayat (KONTAN/Indra Surya)]
Khomarul Hidayat | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Independensi Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral kembali diuji. Setelah secara mengejutkan, Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada awal pekan ini setelah tujuh tahun menjabat. 

Meski disebut-sebut alasan pengunduran diri Perry adalah sukarela dan keinginan pribadi, tetap saja memantik spekulasi. Apalagi, beberapa bulan sebelumnya, salah satu Deputi Gubernur BI yakni Juda Agung juga mengundurkan diri untuk bertukar posisi dengan Thomas Djiwandono yang notabene keponakan Presiden Prabowo Subianto. Juda menjadi Wakil Menteri Keuangan. Sedangkan Thomas jadi Deputi Gubernur BI. 

Maka itu, rasanya terlalu sederhana kalau seorang Gubernur BI mendadak mengundurkan diri sukarela dengan alasan pribadi. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang penuh tekanan seperti saat ini. Jadi, wajar kalau mundurnya Gubernur BI tersebut memicu spekulasi di publik dan lebih-lebih kekhawatiran soal independensi bank sentral sebagai pengampu kebijakan moneter.

Kekhawatiran soal independensi BI sebetulnya sudah mulai muncul saat revisi UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), beberapa waktu lalu. Ada peran baru BI yang disisipkan dalam UU P2SK hasil revisi. Selama ini, BI memiliki tiga mandat; menjaga stabilitas rupiah, stabilitas sistem keuangan, dan stabilitas sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Nah, dalam UU P2SK baru hasil revisi, bank sentral dibekali mandat tambahan. Yakni, mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan. Peran baru BI tersebut dinilai lebih dekat ke fungsi fiskal ketimbang moneter. Itu mungkin sebabnya mengapa ada kekhawatiran perluasan peran BI ini bisa "mengganggu" independensi bank sentral sebagai pemegang otoritas kebijakan moneter.

Dengan mandat baru, ada risiko instrumen moneter BI seperti suku bunga, likuiditas, hingga kebijakan makroprudensial, lebih diarahkan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi jangka pendek atau kepentingan fiskal, alih-alih menjaga stabilitas harga atau inflasi dan nilai tukar.

Apalagi, di tengah ruang fiskal yang terbatas dan beban belanja yang kian berat seperti saat ini. Maka, menarik kita tunggu seperti apa sosok pengganti Gubernur BI baru yang nanti dicalonkan presiden. Harapannya tentu figur yang independen lagi kompeten, bebas dari afiliasi politik dan tidak disetir kepentingan politik.

Tanpa independensi, kebijakan moneter mudah tergelincir menjadi alat politik, terutama menjelang pemilu atau saat pemerintah menghadapi tekanan fiskal.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Jayamas Medica (OMED) Menjaga Kinerja Tetap Sehat
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 04:20 WIB

Jayamas Medica (OMED) Menjaga Kinerja Tetap Sehat

Manajemen OMED optimistis kinerja pada semester II-2026 dapat melanjutkan tren pertumbuhan yang telah dibukukan pada paruh pertama tahun ini.

Nakhoda Baru di Tengah Dilema Moneter
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 04:07 WIB

Nakhoda Baru di Tengah Dilema Moneter

Tantangan muncul ketika agenda menjaga stabilitas nilai tukar rupiah berbenturan dengan kebutuhan mendorong pertumbuhan.

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:57 WIB

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi

Laba bersih PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tumbuh 100,44% yoy menjadi US$ 22,75 juta pada akhir semester pertama lalu.

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:13 WIB

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti

Ukuran keberhasilan gubernur BI bukan popularitas atau ketenangan pasar selama satu-dua hari, melainkan kepercayaan.

Transparansi ETF Emas
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:55 WIB

Transparansi ETF Emas

Ingat, tanpa transparansi emas fisik dan jaminan likuiditas, maka ETF emas berisiko merugikan investor. 

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa

Dari 13 BUMN dan anak usaha BUMN non-bank yang IPO sejak 2010, hanya PGEO yang sahamnya mampu bertahan di atas harga perdana.

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:16 WIB

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun

Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diperkirakan berada di level 224,4, turun 0,7% per bulan      

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target

Realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 baru mencapai 51% dari target                     

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:07 WIB

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T

Skandal ini menjadi sorotan tajam setelah hasil audit BPKP mengungkap angka fantastis kerugian negara yang mencapai Rp 7,3 triliun.​

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:38 WIB

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian

Efek kontrak Sebuku Sejaka Coal (SSC) ke EBITDA PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diproyeksikan sekitar 4% pada 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler