Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terjebak di 5%

Kamis, 25 Juli 2019 | 07:04 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terjebak di 5%
[]
Reporter: Grace Olivia, Lidya Yuniartha | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah kesulitan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih cepat. Dalam dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia terjebak di kisaran 5%

Ke depan, dalam Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, pemerintah masih tetap hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%–6%.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyebutkan, periode 1980–1996, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang ideal.

Faktor pendorong pertumbuhan pun berkualitas, yakni industri manufaktur padat karya seperti tekstil dan garmen, elektronika, alas kaki dan sebagainya. Tapi, kini Indonesia kembali mengandalkan komoditas sebagai motor utama perekonomian.

Walhasil, tercatat rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2000–2018 hanya 5,3%. Berdasarkan diagnosis pertumbuhan ekonomi oleh Bappenas, asumsi makro pertumbuhan ekonomi periode 2020–2024 berkisar 5,4%–6%.

"Kami hanya mentok pertumbuhan 5,3%, artinya ada hambatan yang sangat serius," kata Bambang, dalam acara Konsultasi Pusat Penyusunan Rancangan Awal RPJMN 2020–2024, Rabu (24/7).

Menurut Bambang, penghambat terbesar (the most binding constraint) pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah regulasi dan institusi. Regulasi yang berlaku selama ini cenderung membatasi, ketimbang mendukung penciptaan dan pengembangan bisnis. Regulasi tenaga kerja, investasi, hingga regulasi perdagangan berbiaya mahal dan memakan waktu lama.

Berdasarkan Services Trade Restrictiveness Index 2018 yang dikutip Bappenas, Indonesia menjadi negara dengan regulasi investasi sektor jasa yang sangat restriktif di kalangan negara G20. Sebanyak 21 dari 22 sektor jasa Indonesia lebih restriktif ketimbang rata-rata negara G20.

Institusi pemerintah juga masih memiliki kualitas yang rendah akibat korupsi, birokrasi yang tidak efisien, serta lemahnya koordinasi antarinstansi pemerintah. Kondisi fiskal dan infrastruktur juga tidak mendukung.

"Kapasitas anggaran belum bisa memberi stimulus pada pertumbuhan ekonomi karena rasio pajak di 11%–12% masih terlalu rendah," tambah Bambang.

Begitu juga dengan infrastruktur. Meski sudah mengalami kemajuan cukup pesat dalam lima tahun terakhir, namun masih belum terkoneksi secara efektif baik di darat, laut, dan udara.

Daya saing

Bambang juga menyebut, permasalahan sumber daya manusia juga menjadi salah satu penghambat. Meski bukan penghambat terkuat, minimnya kualitas dan produktivitas SDM di Indonesia bisa menjadi masalah untuk jangka menengah dan panjang.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani berpendapat, target pertumbuhan ekonomi di RPJMN 2020–2024 sudah tepat, sesuai dengan realitas. "Tanpa kebijakan ekstra, akan sulit mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 6%," ujar Hariyadi.

Meski demikian, Apindo menilai RPJMN 2020–2024 sudah bagus. Upaya pemerintah meningkatkan daya saing melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan langkah tepat.

Indonesia menempati urutan 32 dari 63 negara dalam IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) 2019, lebih baik dari tahun sebelumnya 43. Namun, daya saing Indonesia di bawah Singapura (peringkat 1), Malaysia (22), dan Thailand (25).

Bagikan

Berita Terbaru

Bisnis AMDK Siap Menjalankan Ketentuan SNI
| Selasa, 08 September 2026 | 06:15 WIB

Bisnis AMDK Siap Menjalankan Ketentuan SNI

Industri AMDK berkomitmen penuh memenuhi ketentuan SNI wajib sesuai Permenperin Nomor 62 Tahun 2024 yang berlaku pada 18 Oktober 2026.

Pergerakan Rupiah Ditopang Data Cadangan Devisa
| Selasa, 08 September 2026 | 06:15 WIB

Pergerakan Rupiah Ditopang Data Cadangan Devisa

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) membatasi penguatan rupiah

Risiko Sentralisasi
| Selasa, 08 September 2026 | 06:10 WIB

Risiko Sentralisasi

BPD sendiri juga wajib memperbaiki tata kelola, teknologi, dan diversifikasi bisnis agar tak bergantung ASN.

Bencana Alam Ganggu Pertumbuhan Ekonomi
| Selasa, 08 September 2026 | 06:09 WIB

Bencana Alam Ganggu Pertumbuhan Ekonomi

Purbaya menyebut, bencana yang terjadi baru-baru ini akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III dan IV tahun ini

Cadangan Devisa Masih Rawan Tergerus
| Selasa, 08 September 2026 | 06:00 WIB

Cadangan Devisa Masih Rawan Tergerus

Posisi cadangan devisa akhir Agustus 2026 sebesar US$ 146,5 miliar, naik  dibanding akhir Juli 2026 yang sebesar US$ 145,3 miliar.

Kinerja Erajaya Swasembada (ERAA) Terangkat Bisnis Lifestyle & Otomotif
| Selasa, 08 September 2026 | 06:00 WIB

Kinerja Erajaya Swasembada (ERAA) Terangkat Bisnis Lifestyle & Otomotif

Momentum belanja di kuartal III dan IV akan menopang kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) di paruh kedua tahun ini

Target Penerimaan Perpajakan 2027 Naik
| Selasa, 08 September 2026 | 05:52 WIB

Target Penerimaan Perpajakan 2027 Naik

Target pendapatan negara dalam RAPBN 2027 naik jadi Rp 3.435,1 triliun                              

Pamor Unitlink Bangkit Meski Pasar Volatil
| Selasa, 08 September 2026 | 05:50 WIB

Pamor Unitlink Bangkit Meski Pasar Volatil

Perolehan premi unitlink menyentuh Rp 35,73 triliun hingga semester I-2026, meningkat 10,3% dibanding periode yang sama di tahun lalu.

Volume Energi Bersubsidi Tahun Depan Dikurangi
| Selasa, 08 September 2026 | 05:40 WIB

Volume Energi Bersubsidi Tahun Depan Dikurangi

Pemerintah dan Banggar DPR menyepakati penyesuaian anggaran sekaligus volume BBM dan elpiji tabung 3 kilogram yang mendapat subsidi

Akuisisi Loyal Metals, Simak Efeknya Terhadap Kinerja Fundamental Bumi Resources
| Selasa, 08 September 2026 | 05:30 WIB

Akuisisi Loyal Metals, Simak Efeknya Terhadap Kinerja Fundamental Bumi Resources

Akuisisi oleh BUMI dalam jangka pendek akan memberatkan kas perusahaan, namun bisa diatasi dengan right issue maupun private placement.

INDEKS BERITA

Terpopuler