Pesona Kebun CPO, Astra Agro (AALI) Tak Lagi Menarik

Rabu, 10 Agustus 2022 | 04:40 WIB
Pesona Kebun CPO, Astra Agro (AALI) Tak Lagi Menarik
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang paruh pertama tahun ini, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berhasil membukukan kinerja solid. Di semester I-2022, emiten grup Astra ini membukukan pendapatan Rp 10,96 triliun, naik 1,21% secara year on year. Sementara itu, laba bersih AALI naik 24,63% menjadi Rp 809,31 miliar.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Desy Israhyanti menjelaskan, pendapatan AALI meningkat secara tahunan. Namun jika dihitung secara kuartalan justru terkontraksi. Menurut dia, ini lantaran ada kenaikan selisih kurs akibat penguatan kurs dollar Amerika Serikat (AS). "AALI juga terdampak kenaikan harga bahan produksi serta kerugian investasi joint venture," ujar dia, kemarin. 

Dalam jangka pendek, Desy melihat AALI masih akan dihadapkan dengan penurunan harga CPO, seiring pasokan di dalam negeri yang masih melimpah. Sementara itu, ada risiko resesi yang dapat menurunkan permintaan.

Baca Juga: Outlook Astra Agro Lestari (AALI) Menantang, Seperti Apa Rekomendasi para Analis?

Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan juga melihat harga CPO mulai turun. Akibatnya, ke depan pendapatan AALI berpotensi bergerak turun. Dia menyebut, harga CPO turun dipengaruhi kebijakan pemerintah Indonesia terkait intensifikasi ekspor.

Harga CPO bisa kembali menguat jika dibarengi peningkatan permintaan. Felix menyebut, ada potensi kenaikan permintaan dari China pasca pelonggaran lockdown. Permintaan CPO dari India juga bisa naik karena harga CPO kini relatif murah.

Selain itu, kebijakan terbaru senat AS atas insentif pajak serta program penguatan infrastruktur biofuel senilai US$ 500 juta juga dapat menunjang permintaan CPO. 

Desy menambahkan, permintaan CPO juga meningkat karena perubahan kebijakan biodiesel B35. Sementara dari sisi produksi ada potensi penurunan, karena faktor cuaca dan aktivitas replanting. 

Produksi menurun

Analis DBS Vicker Sekuritas William Simadiputra dalam riset 29 Juli menuliskan, pada semester dua tahun ini, volume penjualan AALI cenderung melemah dan bisa lebih rendah dari semester I-2022. Karena itu dia menyangsikan, AALI dapat mendongkrak kinerja di sisa tahun ini. 

Baca Juga: Pendapatan dan Laba Astra Agro (AALI) Kompak Naik pada Semester I

Alasannya, AALI lebih bergantung pada pasokan dari plasma. Konsumsi pupuk yang dibutuhkan untuk menjaga produktivitas juga meningkat. 
"Ini berpotensi membuat pendapatan AALI pada semester II-2022 akan lebih rendah dibanding semester I-2022," kata William. Di semester satu lalu, realisasi pendapatan AALI hanya memenuhi 30% proyeksi laba hitungan DBS Vicker Sekuritas tahun ini. 

William pun memangkas proyeksi laba AALI sebesar 34% menjadi Rp 1,7 triliun. Sementara pendapatan, AALI diperkirakan membukukan Rp 24,20 triliun.

Kalau menurut Desy, AALI masih menjadi market leader di industri perkebunan CPO. AALI juga memiliki dukungan induk usaha yang kuat, memiliki struktur modal yang kuat dan bisa mendukung aktivitas ekspansi melalui kas.

Felix juga menilai, kapitalisasi pasar saham AALI, yang merupakan terbesar di antara emiten CPO, membuat likuiditas saham baik. Selain itu, saham AALI cukup murah. PBV saham ini masih 0,8 kali. 

Felix memberi rekomendasi hold AALI dengan target harga Rp 13.350. Tapi karena saat ini harga AALI cenderung turun, ada potensi upside cukup besar ke target harga, "Sehingga saat ini saham AALI masih cukup menarik," terang Felix. 

Desy merekomendasikan beli dengan target Rp 12.800. Selasa (9/8), saham AALI turun 0,79% di Rp 9.425.

Sedangkan William memberi rating hold dengan target Rp 9.500 per saham. Menurut William, target harga tersebut mencerminkan profitabilitas jangka panjang yang berpotensi menyusut, mengingat tren penurunan produksi CPO inti karena pohon menua. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham STAA, SGRO, AALI, dan GZCO untuk Perdagangan Kamis (28/7)

"Untuk memaksimalkan utilisasi pabrik AALI sangat bergantung pada pembelian TBS eksternal yang membuat profitabilitas jauh lebih rendah," kata dia.

Bagikan

Berita Terbaru

UNVR Fokus Bisnis Inti, Aset Hasil Akuisisi Lama Satu per Satu Dilepas
| Kamis, 08 Januari 2026 | 19:59 WIB

UNVR Fokus Bisnis Inti, Aset Hasil Akuisisi Lama Satu per Satu Dilepas

Unilever global mendorong anak usahanya, termasuk di Indonesia, untuk lebih fokus pada core business dengan profitabilitas yang lebih stabil.

Rating Overweight Warnai Sektor Konsumer, Apa Artinya Untuk MYOR, INDF, Hingga UNVR?
| Kamis, 08 Januari 2026 | 18:02 WIB

Rating Overweight Warnai Sektor Konsumer, Apa Artinya Untuk MYOR, INDF, Hingga UNVR?

BRI Danareksa meyakini bahwa penyesuaian ke atas terhadap upah minimum akan memberikan dukungan tambahan terhadap daya beli rumah tangga.

Relaksasi Fiskal untuk Daerah Terdampak Banjir
| Kamis, 08 Januari 2026 | 13:32 WIB

Relaksasi Fiskal untuk Daerah Terdampak Banjir

Beleid baru memberi fleksibilitas TKD dan restrukturisasi pinjaman PEN daerah                       

Modal Belum Cukup Rp 250 Miliar, Saham VINS, AHAP, dan YOII Malah Berlari Kencang
| Kamis, 08 Januari 2026 | 09:30 WIB

Modal Belum Cukup Rp 250 Miliar, Saham VINS, AHAP, dan YOII Malah Berlari Kencang

Untuk mengejar target permodalan, emiten asuransi bisa menggelar private placement atau rights issue.

Menakar Arah Saham EMTK di Tengah Aksi Beli Saham SUPA dan Wacana IPO Vidio
| Kamis, 08 Januari 2026 | 08:44 WIB

Menakar Arah Saham EMTK di Tengah Aksi Beli Saham SUPA dan Wacana IPO Vidio

Penguatan narasi ekosistem digital dan potensi monetisasi aset dinilai menjaga minat investor terhadap pergerakan saham EMTK.

Harga Nikel Melesat Sinyal Positif Bagi Saham Lapis Kedua, Beli DKFT, NICL atau NICE?
| Kamis, 08 Januari 2026 | 08:10 WIB

Harga Nikel Melesat Sinyal Positif Bagi Saham Lapis Kedua, Beli DKFT, NICL atau NICE?

Harga nikel global terbang 24,33 persen sebulan terakhir. Simak analisis valuasi DKFT, NICL, dan NICE serta rekomendasi analis di sini.

AirAsia Indonesia (CMPP) Bersiap Buka Rute Baru ke Vietnam
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:15 WIB

AirAsia Indonesia (CMPP) Bersiap Buka Rute Baru ke Vietnam

Pembukaan rute Bali–Da Nang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas jaringan internasional yang berfokus pada destinasi leisure.

Terulang Lagi, IHSG Cetak Rekor, Rupiah Nyungsep, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:03 WIB

Terulang Lagi, IHSG Cetak Rekor, Rupiah Nyungsep, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini

Meski IHSG menguat, rupiah berlanjut terdepresiasi pada level Rp16,780 per dolar Amerika Serikat (AS). ​

Insentif Properti Mendorong Sektor Manufaktur
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:00 WIB

Insentif Properti Mendorong Sektor Manufaktur

Kebijakan memperpanjang insentif properti menjadi upaya mendorong daya beli masyarakat, serta memperkuat sektor ekonomi yang memiliki keterkaitan

Subsidi Biodiesel 2026 Diproyeksikan Tetap
| Kamis, 08 Januari 2026 | 06:45 WIB

Subsidi Biodiesel 2026 Diproyeksikan Tetap

Kesamaan nilai insentif tersebut seiring dengan alokasi volume biodiesel 2026 yang ditetapkan sebesar 15,65 juta kiloliter (kl).

INDEKS BERITA

Terpopuler