Pilih Membengkak

Selasa, 17 Maret 2026 | 03:15 WIB
Pilih Membengkak
[ILUSTRASI. TAJUK - SS kurniawan (KONTAN/Steve GA)]
S.S. Kurniawan | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik di Timur Tengah belum ada tanda-tanda usai. Harga minyak mentah dunia pun masih tinggi, di atas US$ 100 per barel, menyusul langkah Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis bagi 20% pasokan minyak dunia.

Harga minyak mentah dunia yang terbakar, langsung menyulut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di banyak negara. Di Indonesia, pemerintah masih menahan harga BBM subsidi. Harga BBM nonsubsidi pun belum naik.

Bukan cuma lonjakan harga bahan bakar, perang Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel yang sudah berlangsung sejak 28 Februari 2026 lalu juga memicu kekhawatiran soal stok BBM. Sebab, itu tadi, Iran memblokade jalur strategis bagi 20% pasokan minyak global saat ini.

Hingga Jumat (16/3) lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, cadangan BBM jenis Pertalite mencapai 24,39 hari, melampaui batas minimal yang pemerintah tetapkan. Kemudian, cadangan Pertamax mencapai 28 hari dan Pertamax Turbo mencapai 31 hari. Sementara untuk Solar Subsidi, cadangannya hanya 16,41 hari dan Solar Non-Subsidi 46 hari. Sedang cadangan avtur atau bahan bakar pesawat 38 hari.

Tapi, cadangan tersebut bakal cepat menyusut, khususnya Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo. Sebab, PT Pertamina Patra Niaga memprediksikan, konsumsi BBM jenis bensin akan melonjak hingga 12% pada momen Idulfitri 2026. Peningkatan ini terjadi seiring mobilitas masyarakat yang tinggi pada arus mudik dan balik Lebaran. 

Hanya, kenaikan harga minyak, jelas menambah tekanan bagi keuangan negara lantaran pemerintah belum mengerek harga BBM. Soalnya, anggaran subsidi BBM sudah pasti membengkak. Begitu juga kompensasi yang harus pemerintah bayar ke Pertamina lantaran BUMN ini menjual Pertamax series di bawah harga keekonomian. 

Padahal, ada kesempatan pemerintah memangkas anggaran subsidi dan kompensasi sejak awal tahun. Yakni, dengan memberikan izin impor BBM kepada pengelola SPBU swasta sesuai spesifikasi yang mereka inginkan. Tapi, sampai saat ini, langkah itu tidak pemerintah lakukan. Alhasil, banyak SPBU swasta yang tidak beroperasi, terutama Shell, karena stok kosong.

Walhasil, pelanggan SPBU swasta pun kembali lagi ke Pertamina yang membuat konsumsi Pertalite dan Pertamax series melonjak. 

Tapi, tampaknya, pemerintah memilih anggaran subsidi dan kompensasi BBM membengkak.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Kredit Konstruksi Melaju, Namun Kredit Macet Masih Membayangi
| Selasa, 21 April 2026 | 23:33 WIB

Kredit Konstruksi Melaju, Namun Kredit Macet Masih Membayangi

​Kredit konstruksi melesat di awal 2026, tetapi lonjakan NPL, terutama dari proyek perumahan lama, masih menjadi tantangan utama perbankan.

Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Saham Migas yang Layak Dicermati
| Selasa, 21 April 2026 | 15:50 WIB

Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Saham Migas yang Layak Dicermati

Berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran pada 22 April 2026 berpotensi menjadi game changer arah sektoral di pasar saham.

Asing Kabur Terus dari Pasar Saham, Mampukah Likuiditas Domestik Menyelamatkan IHSG?
| Selasa, 21 April 2026 | 09:35 WIB

Asing Kabur Terus dari Pasar Saham, Mampukah Likuiditas Domestik Menyelamatkan IHSG?

IHSG Belum berpijak pada fondasi yang kokoh, melainkan masih rentan karena sekadar bergantung pada perputaran likuiditas yang tersisa.

Menyelisik Jejak Pengendali Baru BIKE, Dimiliki Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat
| Selasa, 21 April 2026 | 08:31 WIB

Menyelisik Jejak Pengendali Baru BIKE, Dimiliki Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat

Pemegang saham mayoritas PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) punya track record buruk di saham MENN.

Pendapatan Turun dan Rugi Bengkak Rp 5,4 T, Anak Usaha ADHI Kini Hadapi Gugatan PKPU!
| Selasa, 21 April 2026 | 08:05 WIB

Pendapatan Turun dan Rugi Bengkak Rp 5,4 T, Anak Usaha ADHI Kini Hadapi Gugatan PKPU!

Jerat PKPU yang membelit anak usaha ADHI merupakan manifestasi dari tekanan likuiditas sistemik yang menghantui BUMN Karya.

Indointernet (EDGE) Go Private, Pengendali Tawarkan Tender Sukarela
| Selasa, 21 April 2026 | 07:43 WIB

Indointernet (EDGE) Go Private, Pengendali Tawarkan Tender Sukarela

Harga penawaran tender sukarela Rp 11.500 per saham. Nilai ini mencerminkan premi 141,2%, di atas rata-rata harga tertinggi selama 90 hari.

Kantongi Restu RUPS, Wahana Interfood (COCO) Bakal Menggelar Rights Issue
| Selasa, 21 April 2026 | 07:38 WIB

Kantongi Restu RUPS, Wahana Interfood (COCO) Bakal Menggelar Rights Issue

Aksi rights issue akan digelar COCO usai mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Jumat, (17/4).​

Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit
| Selasa, 21 April 2026 | 07:32 WIB

Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mulai mengeksekusi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 4.

Tahun 2025, Kinerja Emiten Jasa Konstruksi Bervariasi
| Selasa, 21 April 2026 | 07:26 WIB

Tahun 2025, Kinerja Emiten Jasa Konstruksi Bervariasi

Jika ditelisik, kinerja emiten konstruksi swasta, baik dari sisi top line maupun bottom line lebih unggul dibandingkan emiten BUMN karya.

Ketika BEI Butuh Penyedia Likuiditas Agar Bursa Berkualitas
| Selasa, 21 April 2026 | 07:06 WIB

Ketika BEI Butuh Penyedia Likuiditas Agar Bursa Berkualitas

BEI mengklaim, liquidity provider dapat meningkatkan kualitas perdagangan melalui penyempitan bid-ask spread.

INDEKS BERITA

Terpopuler