Pilih Membengkak
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik di Timur Tengah belum ada tanda-tanda usai. Harga minyak mentah dunia pun masih tinggi, di atas US$ 100 per barel, menyusul langkah Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis bagi 20% pasokan minyak dunia.
Harga minyak mentah dunia yang terbakar, langsung menyulut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di banyak negara. Di Indonesia, pemerintah masih menahan harga BBM subsidi. Harga BBM nonsubsidi pun belum naik.
Bukan cuma lonjakan harga bahan bakar, perang Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel yang sudah berlangsung sejak 28 Februari 2026 lalu juga memicu kekhawatiran soal stok BBM. Sebab, itu tadi, Iran memblokade jalur strategis bagi 20% pasokan minyak global saat ini.
Hingga Jumat (16/3) lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, cadangan BBM jenis Pertalite mencapai 24,39 hari, melampaui batas minimal yang pemerintah tetapkan. Kemudian, cadangan Pertamax mencapai 28 hari dan Pertamax Turbo mencapai 31 hari. Sementara untuk Solar Subsidi, cadangannya hanya 16,41 hari dan Solar Non-Subsidi 46 hari. Sedang cadangan avtur atau bahan bakar pesawat 38 hari.
Tapi, cadangan tersebut bakal cepat menyusut, khususnya Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo. Sebab, PT Pertamina Patra Niaga memprediksikan, konsumsi BBM jenis bensin akan melonjak hingga 12% pada momen Idulfitri 2026. Peningkatan ini terjadi seiring mobilitas masyarakat yang tinggi pada arus mudik dan balik Lebaran.
Hanya, kenaikan harga minyak, jelas menambah tekanan bagi keuangan negara lantaran pemerintah belum mengerek harga BBM. Soalnya, anggaran subsidi BBM sudah pasti membengkak. Begitu juga kompensasi yang harus pemerintah bayar ke Pertamina lantaran BUMN ini menjual Pertamax series di bawah harga keekonomian.
Padahal, ada kesempatan pemerintah memangkas anggaran subsidi dan kompensasi sejak awal tahun. Yakni, dengan memberikan izin impor BBM kepada pengelola SPBU swasta sesuai spesifikasi yang mereka inginkan. Tapi, sampai saat ini, langkah itu tidak pemerintah lakukan. Alhasil, banyak SPBU swasta yang tidak beroperasi, terutama Shell, karena stok kosong.
Walhasil, pelanggan SPBU swasta pun kembali lagi ke Pertamina yang membuat konsumsi Pertalite dan Pertamax series melonjak.
Tapi, tampaknya, pemerintah memilih anggaran subsidi dan kompensasi BBM membengkak.
