Potensi Pasar Menggiurkan, Robinhood Akuisisi Buana Capital dan Pedagang Aset Kripto

Selasa, 09 Desember 2025 | 09:03 WIB
Potensi Pasar Menggiurkan, Robinhood Akuisisi Buana Capital dan Pedagang Aset Kripto
[ILUSTRASI. ILUSTRASI. Tumpukan uang koin sebagai ilustrasi merger dan akuisisi. IMAGO/Steinach]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peta persaingan industri pasar modal Tanah Air makin sengit. Raksasa layanan keuangan asal Amerika Serikat (AS), Robinhood Market, Inc., sepakat mengakuisisi PT Buana Capital dan PT Pedagang Aset Kripto.

Manuver ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar finansial Indonesia masih seksi di mata investor global. Sekaligus membuat persaingan di industri jasa keuangan bakal semakin sengit.

Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal menilai, langkah Robinhood masuk ke pasar Indonesia bukanlah keputusan impulsif. Ini adalah strategi matang berbasis data yang membidik momentum pertumbuhan pasar ritel domestik.

Menurutnya, Robinhood mencium potensi pangsa pasar yang klop dengan target mereka: populasi muda yang melek investasi, adopsi digital tinggi, serta regulasi yang makin adaptif.

"Itu membuat Indonesia menarik sebagai target ekspansi baik di saham maupun kripto," ujarnya kepada KONTAN, Senin (8/12).

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengonfirmasi tren positif tersebut. Per Oktober 2025, jumlah investor pasar modal menembus angka 19.197.263 investor. Angka ini melonjak dengan penambahan 4.325.624 investor baru dibandingkan posisi akhir Desember 2024.

Di jalur aset digital, antusiasme tak kalah tinggi. Nilai transaksi aset kripto tercatat menyentuh Rp 409,56 triliun per akhir Oktober 2025. Khusus pada Oktober 2025 saja, transaksi kripto mencapai Rp 49,28 triliun, melesat 27,6% secara bulanan atau Month on Month (MoM).

Baca Juga: Beda Nasib Hingga Prospek Anggota MIND ID di 2026: INCO dan PTBA (Bag 2 Selesai)

Bukan Barang Baru

Sebenarnya, masuknya pemain asing ke gelanggang sekuritas Indonesia bukan fenomena anyar. Keran investasi asing sudah terbuka lebar sejak era deregulasi pasar modal akhir 1980-an. Sederet nama besar internasional tercatat pernah—atau masih—memiliki porsi saham di sekuritas domestik, baik lewat skema joint venture maupun akuisisi langsung.

 

 

Reydi menambahkan, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berulang kali menembus rekor tertinggi sepanjang masa alias all time high (ATH) turut menjadi magnet.

Prospek pasar saham dan kripto diprediksi tetap kinclong, dengan catatan kondisi makroekonomi stabil, arus modal asing (foreign inflow) terjaga, dan adopsi aset digital terus meningkat.

Dalam 2–3 tahun ke depan, jumlah investor ritel diproyeksikan bakal terus menggelembung secara signifikan. Hal ini didorong oleh akses investasi yang kian mudah serta biaya transaksi yang makin efisien.

Selain bonus demografi, valuasi pasar modal Indonesia dinilai masih "murah" sebagai emerging market, namun dengan likuiditas yang terus membaik meski belum merata.

Baca Juga: Mengintip Strategi Bisnis RAAM, Tambah 3-5 Bioskop per Tahun & Genjot Pendapatan F&B

Efek Robinhood: Likuiditas dan Perang Fitur

Kehadiran Robinhood diyakini bakal menyuntikkan gairah baru. Reydi memprediksi dinamika pasar akan meningkat dan likuiditas perdagangan makin luas.

"Masuknya Robinhood mampu meramaikan likuiditas di IHSG, terutama dari investor muda," imbuhnya.

Kedatangan pemain sekelas Robinhood juga diperkirakan memicu perang inovasi. Kompetisi layanan digital akan semakin ketat, memaksa pemain lokal untuk memoles teknologi, fitur, hingga strategi biaya. Apalagi, Robinhood tersohor dengan skema bebas biaya transaksinya.

Namun, Reydi mengingatkan bahwa "kue" pendapatan sekuritas bukan cuma dari fee transaksi. "Melainkan juga margin financing, biaya bulanan atau tahunan, dan pemanfaatan dana idle nasabah melalui instrumen seperti reksadana pasar uang," terangnya.

Meski membawa nama besar, faktor keamanan tetap harga mati. Reydi mewanti-wanti regulator dan pelaku industri agar tidak terlena. Reputasi global tidak serta-merta menjadi jaminan keamanan dana nasabah yang anti-bobol, mengingat celah oknum internal selalu ada.

Baca Juga: Tantangan Penerapan Biodiesel B50 di 2026

Di sisi lain, ekspansi Robinhood menghadirkan tantangan baru bagi regulator. Isu perlindungan konsumen, integritas pasar, dan mitigasi risiko menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.

Apakah momentum ini akan dimanfaatkan untuk mendongkrak pertumbuhan, atau justru memicu volatilitas baru akibat gelombang investor pemula yang minim pemahaman risiko?

Satu hal yang pasti, masuknya Robinhood adalah validasi bahwa pasar finansial Indonesia sedang naik kelas dalam lanskap investasi internasional.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Marketing Sales Capai Rp 7,59 Triliun, Daya Beli Jadi Sentimen Penentu Kinerja CTRA
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Marketing Sales Capai Rp 7,59 Triliun, Daya Beli Jadi Sentimen Penentu Kinerja CTRA

Risiko utama CTRA berasal dari tingginya suku bunga KPR, pelemahan daya beli, dan ketatnya likuiditas perbankan.

Pasar Saham Ditekan Langkah MSCI, Kripto bisa Jadi Opsi Diversifikasi Portofolio
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 09:30 WIB

Pasar Saham Ditekan Langkah MSCI, Kripto bisa Jadi Opsi Diversifikasi Portofolio

Tingginya frekuensi perdagangan kripto tidak serta-merta merepresentasikan keyakinan investasi jangka panjang.

GOTO Rebound 8,33% ke Rp 26, Simak Prediksi Teknikalnya
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 09:00 WIB

GOTO Rebound 8,33% ke Rp 26, Simak Prediksi Teknikalnya

GOTO menyentuh level terendah sepanjang masa pada Jumat (16/10) usai pengumuman wacana MSCI menurunkan pasar saham Indonesia ke standalone market.

Bukan ICBP atau MYOR, Saham Konsumer Ini yang Paling Diincar Asing saat Pasar Tekanan
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 08:30 WIB

Bukan ICBP atau MYOR, Saham Konsumer Ini yang Paling Diincar Asing saat Pasar Tekanan

BRI Danareksa memperkirakan pendapatan ICBP tumbuh 7,5% secara tahunan pada kuartal III 2026, dan margin kotor diproyeksikan turun menjadi 33%.

Wajah Baru IHSG Tanpa Saham HSC
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 08:16 WIB

Wajah Baru IHSG Tanpa Saham HSC

Tanpa saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholder concentration (HSC), volatilitas IHSG justru berpotensi lebih tinggi

Usai Rebound, IHSG Rabu (21/10) Rawan Koreksi
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 08:08 WIB

Usai Rebound, IHSG Rabu (21/10) Rawan Koreksi

Penguatan IHSG terjadi setelah pelaku pasar merespons positif sejumlah langkah otoritas bursa untuk memenuhi standar MSCI.

IHSG Memantul Sementara, Waspadai Volatilitas yang Masih Tinggi
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 07:36 WIB

IHSG Memantul Sementara, Waspadai Volatilitas yang Masih Tinggi

Kenaikan IHSG pada perdagangan Selasa (20/10 kemarin belum cukup untuk menandai pasar saham Indonesia telah pulih. 

Pertumbuhan Belum Ungkit Daya Beli
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 07:23 WIB

Pertumbuhan Belum Ungkit Daya Beli

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyoroti kinerja ekonomi dari sisi daya beli masyarakat dan perkembangan dunia usaha.

Tuntut Karhutla Jadi Bencana Nasional
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 07:18 WIB

Tuntut Karhutla Jadi Bencana Nasional

Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengungkapkan adanya keterlibatan pihak asing dalam 98 kasus karhutla yang melibatkan korporasi

Investasi Belum Optimal Buka Lapangan Kerja
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 07:10 WIB

Investasi Belum Optimal Buka Lapangan Kerja

PHK masih menunjukkan tren peningkatan dan porsi pekerja informal terus bertambah. Sepanjang Januari-September 2026, angka PHK  63.789 kasus,

INDEKS BERITA

Terpopuler