Prioritas

Jumat, 09 Juli 2021 | 08:45 WIB
Prioritas
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Syamsul Azhar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Dunia awal bulan ini menggeser posisi Indonesia ke kelompok lower-middle income country, dari upper middle income country. 

Penurunan kelas Indonesia sejalan dengan penurunan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita pada tahun 2020. 

Dalam hitungan Bank Dunia, GNI Indonesia di tahun lalu sebesar US$ 3.870. Nilai itu lebih rendah dibandingkan dengan GNI yang dibukukan pada 2019, yaitu US$ 4.050. 

Angka GNI Indonesia di tahun itu, sedikit di atas nilai minimal terendah untuk kriteria upper middle income country yang ditetapkan Bank Dunia, yaitu US$ 4.046. Tahun ini, batas tersebut dikerek naik hingga US$ 4.096.

Tak sulit mencari penyebab penurunan GNI Indonesia di tahun lalu. Seperti hampir semua negara di dunia, Indonesia mengalami kontraksi produk domestik bruto (PDB), yang besarnya mencapai 2,1%. 

Kontraksi ekonomi itu merupakan akibat dari pandemi Covid-19 yang mengurung dunia sejak Maret tahun silam. 

Masih banyak indikator lain yang mengilustrasikan buruknya dampak pandemi terhadap ekonomi kita. Kredit perbankan yang tersendat, misalnya, merupakan cerminan ekonomi yang berjalan perlahan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menggeser lagi target pertumbuhan nilai kredit di akhir tahun. Dari semula 7% plus minus 1%, menjadi 6% plus minus 1%. Pergeseran target ini membuntuti Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang ditetapkan pemerintah sejak 3 Juli hingga 20 Juli mendatang.

Kisaran target yang dipasang OJK itu sejatinya masih terbilang optimistis. Seperti yang diakui OJK, pasar kredit menjadi inelastis di masa pandemi. Penurunan bunga kredit tak serta merta memicu kenaikan permintaan kredit.

Situasi ini terutama terjadi di sektor-sektor yang sangat terpukul oleh aturan pembatasan. Berbagai lini bisnis hospitality dan transportasi bisa disebut sebagai contoh.

Hilangnya selera pebisnis menampung kredit baru tidak terlepas dari pasar yang menyempit. Hotel yang tidak beralih fungsi menjadi layanan isolasi, jelas akan kesulitan mendapat tamu di masa kini.

Selain hitung-hitungan cuan, kelesuan bisnis juga tak lepas dari kemanusiaan. Situasi semacam ini sangat mudah kita rasakan belakangan ini. Banyak di antara kita yang merasakan duka karena kehilangan teman, kerabat, bahkan saudara. 

Jadi? prioritaskan dulu urusan penanggulangan  pandemi. Baru, kita bicara ekonomi. 

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek KEEN Masih Solid Ditopang Masifnya Pengembangan Proyek Energi Hijau
| Senin, 20 April 2026 | 12:00 WIB

Prospek KEEN Masih Solid Ditopang Masifnya Pengembangan Proyek Energi Hijau

Beroperasinya PLTS Tobelo ini akan memperkuat portofolio EBT PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) dan menciptakan recurring income.

Ilusi Pertumbuhan, Growth Tanpa Value
| Senin, 20 April 2026 | 09:54 WIB

Ilusi Pertumbuhan, Growth Tanpa Value

Paradoks China paling tajam  Negara berkembang, mentransformasi diri.  Tapi transformasi ekonomi saja tidak cukup memenangkan kepercayaan pasar.

ESG Indosat (ISAT): Mengandalkan AI dan ESG Sebagai Kunci Transformasi
| Senin, 20 April 2026 | 09:31 WIB

ESG Indosat (ISAT): Mengandalkan AI dan ESG Sebagai Kunci Transformasi

PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) bertransformasi agar hasilnya berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

Kinerja Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) Melonjak Signifikan di Kuartal I-2026
| Senin, 20 April 2026 | 08:37 WIB

Kinerja Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) Melonjak Signifikan di Kuartal I-2026

Hingga kuartal I-2026, perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar Rp 173,1 miliar, meningkat sekitar 36% secara tahunan dibandingkan tahun lalu.

Operator Seluler Lirik Prospek Jaringan 5G
| Senin, 20 April 2026 | 08:27 WIB

Operator Seluler Lirik Prospek Jaringan 5G

Saat ini industri masih fokus pada penyelesaian integrasi jaringan dan penggelaran jaringan dalam upaya peralihan jaringan ke 5G.

Dolar AS Melemah: Yen, Yuan, Franc Swiss Beri Peluang Keuntungan?
| Senin, 20 April 2026 | 08:22 WIB

Dolar AS Melemah: Yen, Yuan, Franc Swiss Beri Peluang Keuntungan?

Pelemahan Dolar AS membuka potensi penguatan mata uang safe haven. Cari tahu mana yang paling menarik dan strategi terbaik untuk investor.

Geopolitik dan RKAB Bayangi Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Sahamnya
| Senin, 20 April 2026 | 08:19 WIB

Geopolitik dan RKAB Bayangi Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Sahamnya

Kinerja emiten batubara kuartal II 2026 bisa membaik ditopang harga tinggi. Cari tahu tantangan global dan domestik yang membatasi pertumbuhan

Guyuran Buyback Rp 5 Triliun & Tuah Divestasi Kestrel, Saham AADI Masih Layak Diburu?
| Senin, 20 April 2026 | 07:59 WIB

Guyuran Buyback Rp 5 Triliun & Tuah Divestasi Kestrel, Saham AADI Masih Layak Diburu?

Divestasi Kestrel Coal Group Pty. Ltd., diproyeksi bakal menyuntikkan dana segar dalam jumlah signifikan.

Racik Ulang Insentif Pajak di Era Global Minimum Tax
| Senin, 20 April 2026 | 07:25 WIB

Racik Ulang Insentif Pajak di Era Global Minimum Tax

Evaluasi tersebut tercantum dalam naskah urgensi perubahan PMK Nomor 130/PMK.010/2020 tentang Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) Badan

Awal Pekan Bermodal Net Sell Rp 2,31 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 20 April 2026 | 07:17 WIB

Awal Pekan Bermodal Net Sell Rp 2,31 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Sepanjang pekan lalu, total jenderal investor asing mencatatkan aksi jual alias net sell sekitar Rp 2,31 triliun.

INDEKS BERITA