Produksi Masih Rendah, Harga Batubara Bakal Merangkak Naik

Rabu, 20 Maret 2019 | 07:37 WIB
Produksi Masih Rendah, Harga Batubara Bakal Merangkak Naik
[]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga batubara berkalori rendah bakal merangkak naik. Salah satu pemicunya lantaran sejumlah produsen batubara belum menggenjot produksi di awal tahun ini.

Mengacu data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), per 15 Maret 2019, produksi batubara nasional baru mencapai 37,67 juta ton. Jumlah itu setara 7,70% dari target produksi nasional berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2019 yang mencapai 489,13 juta ton.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM, Muhammad Hendrasto mengatakan, jumlah itu belum menghitung produksi dari pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) daerah. Meski demikian, realisasi produksi saat ini masih dinilai wajar. Sebab produsen baru akan menggenjot produksi ketika mulai masuk masa semester kedua.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai hal yang sama. Memang, pada dua bulan di setiap permulaan tahun, produsen belum mengerek produksi. Alasannya, faktor cuaca dan terkait optimalisasi alat berat. "Dua bulan pertama di awal tahun biasanya masih slow. Nanti di semester kedua geliat produksi cenderung meningkat," kata dia.

Menurut Ketua Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandy Arif, jumlah produksi akan naik signifikan dalam enam bulan ke depan. Namun, dia menilai, realisasi produksi yang baru mencapai 7,70% dari total target nasional memberikan dampak positif terhadap psikologis pasar.

Pasalnya, produksi batubara yang belum menanjak pada awal tahun ini bisa mengerem pasokan di pasar, sehingga tidak terjadi oversupply. Alhasil, harga batubara, khususnya yang berkalori rendah 4.000–4.200 kcal/kg bisa terdorong setelah dalam enam bulan terakhir menurun cukup signifikan.

Apalagi, pemerintah memperketat kuota produksi batubara dan mematok target produksi lebih rendah ketimbang realisasi tahun lalu yang mencapai 557 juta ton. "Selama pengurangan cukup signifikan terhadap produksi keseluruhan, khususnya di Asia, akan berdampak secara psikologis untuk harga batubara," terang dia.

Hendra pun mengamini hal tersebut. Ia memaparkan, harga batubara kalori rendah saat ini sudah menyentuh US$ 40 per ton. Harga ini masih lebih baik dibandingkan enam bulan terakhir yang terdesak di kisaran US$ 35 per ton. "Bahkan pada Oktober-November 2018, harga sempat di bawah US$ 30 per ton," sebut dia.

Selain faktor pasokan yang terjaga lantaran produksi belum menanjak, naiknya harga batubara kalori rendah dipengaruhi faktor eksternal. Salah satunya dipicu permintaan pasar Tiongkok yang mulai meningkat sejak pertengahan Februari 2109.

Hendra optimistis, penguatan harga batubara kalori rendah sejak akhir Februari hingga Maret akan mendorong peningkatan harga batubara acuan (HBA) pada April. Maklumlah, HBA Maret dipatok US$ 90,57 per ton atau terendah enam bulan terakhir.

Dus, HBA dalam tiga bulan di awal tahun 2019 juga masih jauh dari rata-rata HBA sepanjang tahun 2018 yang mencapai US$ 98,96 per ton. "Saya kira akan membaik, dan tercermin pada HBA April," ungkap Hendra.

Bagikan

Berita Terbaru

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia
| Rabu, 13 Mei 2026 | 11:00 WIB

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia

Valuasi MAPI masih menarik, saat ini diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) sekitar 9,88 kali dan price to book value (PBV) 1,69 kali.

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:19 WIB

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten

Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per April 2026 belum menjadi katalis positif emiten konsumer.

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:11 WIB

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

PT Rama Indonesia telah menyelesaikan transaksi pengambilalihan saham mayoritas PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). 

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:07 WIB

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar

Besaran nilai dividen tersebut mencerminkan peningkatan rasio pembayaran dividen menjadi 45% dari laba bersih emiten farmasi itu di tahun 2025.

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:01 WIB

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi

Saat ini, TLKM sedang melakukan streamlining alias perampingan sebagai strategi penataan portofolio non-core. ​

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 09:00 WIB

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya

MIKA dinilai memiliki kemampuan cost pass-through yang cukup baik, khususnya pada segmen non-BPJS dan layanan premium.

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:31 WIB

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka

Bank Indonesia diuji berat! Pelemahan rupiah 4,5% dan minyak US$100+ picu spekulasi kenaikan suku bunga hingga 50 bps.

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:30 WIB

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya

Akuisisi tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan dan EBITDA RATU secara bertahap mulai tahun ini.

Emiten Kawasan Industri Mulai Bangkit, Cek Rekomendasi Saham Analis
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:01 WIB

Emiten Kawasan Industri Mulai Bangkit, Cek Rekomendasi Saham Analis

Sektor properti industri mulai pulih, didorong data center. Namun, ada emiten yang kinerjanya justru turun. Cek detailnya!

Melihat Rebound Saham-Saham Komoditas Energi Pekan Ini
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:00 WIB

Melihat Rebound Saham-Saham Komoditas Energi Pekan Ini

Strategi terbaik dan aman yang bisa dilakoni pekan ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap dibandingkan averaging down secara agresif.

INDEKS BERITA