Prospek Bisnis Amonia Masih Potensial, Saham ESSA Layak Dikoleksi?

Minggu, 19 Juli 2026 | 10:00 WIB
Prospek Bisnis Amonia Masih Potensial, Saham ESSA Layak Dikoleksi?
[ILUSTRASI. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) (Dok/ESSA)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jalan emiten PT ESSA Industries Indonesia TBk (ESSA) yang menantang di sektor amonia dan liquefied petroleum gas (LPG), semakin menemui dinamika seiring tantangan dari tekanan geopolitik di Timur Tengah.

Pergerakan saham emiten ini sempat menguat di pekan ini dengan perolehan net foreign buy yang cukup tinggi, mencapai sekitar Rp 59,26 miliar. Sentimen positif juga lahir seiring dengan aksi pembagian dividen tunai sebesar Rp 895,8 miliar atau sekitar Rp 52 per saham yang terjadi di pekan ini.

Alhasil, dalam sepekan belakangan saham ESSA menguat 3,48% per Jumat (17/7). Pada penutupan perdagangan Jumat, ESSA juga parkir di zona hijau, di level Rp 595 per saham.

Melihat pergerakan kinerja ESSA, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai kekuatan utama ESSA saat ini tetap berasal dari bisnis amonia yang memiliki karakteristik unik dibandingkan produsen komoditas lainnya.

ESSA dinilai memiliki natural hedge karena bahan baku gas diperoleh dari pasar domestik dengan biaya yang relatif terkendali, sementara produk amonia dijual menggunakan acuan harga global dalam denominasi dolar Amerika Serikat.

Baca Juga: Pabrik Kembali Menyala, Kinerja ESSA Lebih Cerah

Kondisi tersebut membuat pelemahan nilai tukar rupiah justru memberikan keuntungan bagi perusahaan.

“Bisnis amonia ESSA punya natural hedge yang menarik. Gas domestik sebagai feedstock relatif terkendali, sementara amonia dijual menggunakan referensi harga global dalam dolar AS. Rupiah yang melemah justru menguntungkan,” ujar Wafi kepada KONTAN, belum lama ini.

Tetapi memang, meningkatnya tensi geopolitik global juga menjadi pedang bermata dua bagi ESSA. Gangguan pasokan dari Timur Tengah berpotensi mengerek harga amonia dan LPG sehingga memberikan keuntungan bagi produsen seperti ESSA.

Atas hal itu, Wafi mengingatkan bahwa narasi mengenai pengembangan clean amonia maupun hidrogen hijau masih merupakan cerita jangka panjang sehingga belum layak dijadikan katalis utama pada 2026.

Di sudut yang agak berbeda, Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyatakan bahwa prospek bisnis ESSA masih cukup positif karena ditopang oleh diversifikasi usahanya.

Model bisnis ESSA saat ini tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan, sehingga mampu memberikan ketahanan yang lebih baik ketika terjadi fluktuasi di salah satu segmen usaha.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Profil Emiten JEXC: Siap Ekspansi Memperluas Jaringan Usai IPO
| Minggu, 19 Juli 2026 | 14:28 WIB

Profil Emiten JEXC: Siap Ekspansi Memperluas Jaringan Usai IPO

Mencermati rencana bisnis dan profil emiten PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) usai melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Direktur Doo Financial Futures Rudi Anto: Dapat Cuan dari Investasi Valas
| Minggu, 19 Juli 2026 | 14:22 WIB

Direktur Doo Financial Futures Rudi Anto: Dapat Cuan dari Investasi Valas

Pengalaman panjang di industri pialang berjangka membuat Rudi Anto tetap memilih valas dan komoditas sebagai instrumen investasi utama 

Menyikapi Koreksi Dana Kelolaan Reksadana
| Minggu, 19 Juli 2026 | 14:17 WIB

Menyikapi Koreksi Dana Kelolaan Reksadana

Strategi terbaik kembali ke profil risiko masing-masing. Investor konservatif tidak perlu meninggalkan reksadana pasar uang.

Euforia Piala Dunia, Investasi Jersey Sepak Bola Kian Menggoda
| Minggu, 19 Juli 2026 | 14:16 WIB

Euforia Piala Dunia, Investasi Jersey Sepak Bola Kian Menggoda

Jersey sepak bola, khususnya yang memiliki nilai sejarah tinggi, semakin diminati kolektor dunia dan punya daya tarik investasi

Levi's Resmi Masuk Portofolio Sinar Eka Selaras, Prospek Saham ERAL Dinilai Menarik
| Minggu, 19 Juli 2026 | 12:30 WIB

Levi's Resmi Masuk Portofolio Sinar Eka Selaras, Prospek Saham ERAL Dinilai Menarik

Sepanjang 2025, pertumbuhan kategori lifestyle yang menaungi merek-merek fesyen dan gaya hidup melonjak 173%.

Biaya Spektrum 5G Lebih Ringan, Namun Beban Investasi Operator Belum Berakhir
| Minggu, 19 Juli 2026 | 12:00 WIB

Biaya Spektrum 5G Lebih Ringan, Namun Beban Investasi Operator Belum Berakhir

Arus kas bebas (FCF) TLKM tahun ini mencapai Rp 32,2 triliun, jauh melampaui biaya lelang yang harus ditanggung.

Anomali Saham ANTM; Rebound Saat Emas Koreksi, Analis Ingatkan Risiko Value Trap
| Minggu, 19 Juli 2026 | 11:30 WIB

Anomali Saham ANTM; Rebound Saat Emas Koreksi, Analis Ingatkan Risiko Value Trap

Price to earning ratio (PER) 2026 ANTM di kisaran 10,1 kali, di bawah rata-rata historis lima tahun sebesar 12,9 kali.

Saham SSMS Terus Menanjak Sejak Akhir Juni, Akuisisi SML dan Refinery II Jadi Katalis
| Minggu, 19 Juli 2026 | 10:30 WIB

Saham SSMS Terus Menanjak Sejak Akhir Juni, Akuisisi SML dan Refinery II Jadi Katalis

Sejak 30 Juni 2026 hingga 17 Juli 2026, harga saham SSMS telah naik secara akumulatif sebesar 31,47%.

Prospek Bisnis Amonia Masih Potensial, Saham ESSA Layak Dikoleksi?
| Minggu, 19 Juli 2026 | 10:00 WIB

Prospek Bisnis Amonia Masih Potensial, Saham ESSA Layak Dikoleksi?

Kenaikan harga saham ESSA dalam seminggu terakhir ini, memang mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi sejumlah sentimen positif.

Pengusaha Dalam Negeri Lebih Irit Berinvestasi
| Minggu, 19 Juli 2026 | 06:50 WIB

Pengusaha Dalam Negeri Lebih Irit Berinvestasi

Realisasi PMDN pada periode April-Juni 2026 tercatat sebesar Rp 254,1 triliun, turun 7,8% jika dibandingkan realisasi di kuartal II-2025

INDEKS BERITA

Terpopuler