Prospek Bisnis Amonia Masih Potensial, Saham ESSA Layak Dikoleksi?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jalan emiten PT ESSA Industries Indonesia TBk (ESSA) yang menantang di sektor amonia dan liquefied petroleum gas (LPG), semakin menemui dinamika seiring tantangan dari tekanan geopolitik di Timur Tengah.
Pergerakan saham emiten ini sempat menguat di pekan ini dengan perolehan net foreign buy yang cukup tinggi, mencapai sekitar Rp 59,26 miliar. Sentimen positif juga lahir seiring dengan aksi pembagian dividen tunai sebesar Rp 895,8 miliar atau sekitar Rp 52 per saham yang terjadi di pekan ini.
Alhasil, dalam sepekan belakangan saham ESSA menguat 3,48% per Jumat (17/7). Pada penutupan perdagangan Jumat, ESSA juga parkir di zona hijau, di level Rp 595 per saham.
Melihat pergerakan kinerja ESSA, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai kekuatan utama ESSA saat ini tetap berasal dari bisnis amonia yang memiliki karakteristik unik dibandingkan produsen komoditas lainnya.
ESSA dinilai memiliki natural hedge karena bahan baku gas diperoleh dari pasar domestik dengan biaya yang relatif terkendali, sementara produk amonia dijual menggunakan acuan harga global dalam denominasi dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: Pabrik Kembali Menyala, Kinerja ESSA Lebih Cerah
Kondisi tersebut membuat pelemahan nilai tukar rupiah justru memberikan keuntungan bagi perusahaan.
“Bisnis amonia ESSA punya natural hedge yang menarik. Gas domestik sebagai feedstock relatif terkendali, sementara amonia dijual menggunakan referensi harga global dalam dolar AS. Rupiah yang melemah justru menguntungkan,” ujar Wafi kepada KONTAN, belum lama ini.
Tetapi memang, meningkatnya tensi geopolitik global juga menjadi pedang bermata dua bagi ESSA. Gangguan pasokan dari Timur Tengah berpotensi mengerek harga amonia dan LPG sehingga memberikan keuntungan bagi produsen seperti ESSA.
Atas hal itu, Wafi mengingatkan bahwa narasi mengenai pengembangan clean amonia maupun hidrogen hijau masih merupakan cerita jangka panjang sehingga belum layak dijadikan katalis utama pada 2026.
Di sudut yang agak berbeda, Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyatakan bahwa prospek bisnis ESSA masih cukup positif karena ditopang oleh diversifikasi usahanya.
Model bisnis ESSA saat ini tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan, sehingga mampu memberikan ketahanan yang lebih baik ketika terjadi fluktuasi di salah satu segmen usaha.
