Proyeksi Saham MBMA Masih Dipengaruhi Penurunan Harga Nikel

Rabu, 17 September 2025 | 03:00 WIB
Proyeksi Saham MBMA Masih Dipengaruhi Penurunan Harga Nikel
[ILUSTRASI. Pertambangan mineral Grup Merdeka (MDKA dan MBMA).]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga nikel diperkirakan sudah menyentuh titik terendahnya pada semester I-2025, penurunan ini disebabkan oleh kelebihan pasokan. Imbasnya, saat ini terjadi pengurangan produksi nikel untuk menopang harga komoditas ini rebound dalam beberapa bulan mendatang. Ini bisa menjadi peluang maupun tantangan bagi sektor pertambangan nikel.

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) misalnya yang memiliki tiga proyek smelter High Pressrure Acid Leach (HPAL) dinilai akan ikut terdampak. Bila harga nikel naik, maka prospek dan valuasi perusahaan juga akan membaik begitu pun sebaliknya. Apalagi smelter HPAL dinilai krusial karena mampu menghasilkan nikel kadar tinggi yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik.

Ryan Davis, Analis dari Citigroup Sekuritas dalam riset terbarunya tanggal 10 September 2025 menyampaikan bahwa pihaknya menurunkan proyeksi pendapatan MBMA untuk tahun 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 18% dan 14%.

Revisi ini dilakukan seiring dengan penurunan asumsi harga nikel LME menjadi US$ 15.200/ton dari sebelumnya US$ 15.500/ton untuk 2025, dan menjadi US$ 16.000/ton dari US$ 17.000/ton untuk 2026. Penurunan harga nikel ini turut memengaruhi proyeksi laba bersih perusahaan pada kedua tahun tersebut.

Selain itu, Citi juga mengasumsikan tidak akan ada pemulihan signifikan pada produksi material nikel berkadar tinggi hingga akhir tahun 2025, menyusul penghentian produksi pada kuartal kedua akibat lemahnya harga nikel. Jika produksi kembali dimulai pada tahun depan, diperkirakan perlu waktu untuk kembali mencapai tingkat produksi optimal.

Baca Juga: Obligasi dan Sukuk MBMA Senilai Rp 3,71 Triliun Resmi Tercatat di BEI

Sejalan dengan asumsi tersebut, proyeksi output Nickel Pig Iron (NPI) MBMA untuk 2025 juga direvisi turun, mengikuti panduan terbaru perusahaan yang kini berada di kisaran 70.000–80.000 ton, dari sebelumnya 80.000–87.000 ton. Hal ini mencerminkan dampak dari perbaikan tungku yang terutama memengaruhi kinerja semester pertama 2025.

Citi juga mengambil pendekatan yang lebih konservatif terhadap biaya penambangan bijih pada tahun-tahun mendatang, mengingat fase peningkatan kapasitas yang masih berlangsung. Meskipun ekspektasi laba direvisi turun, hal ini dinilai sebagai langkah realistis untuk mencerminkan kondisi harga komoditas yang masih fluktuatif dan biaya produksi yang terus meningkat.

 

Sementara, Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, Analis Indopremier menyampaikan MBMA mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 33% secara kuartalan pada kuartal II-2025, akibat berkurangnya penjualan dari smelter HGNM.

Meski demikian, keduanya memperkirakan kinerja MBMA akan membaik berkat kenaikan margin kas Nickel Pig Iron (NPI) sebesar 17% secara kuartalan, serta meningkatnya penjualan saprolite dan limonite sebesar 15% secara kuartalan. Dengan tren tersebut, EBITDA MBMA diperkirakan mencapai US$ 76 juta di semester II-2025, atau naik 8% secara tahunan.

Pada kuartal II-2025, EBITDA MBMA diperkirakan akan naik 38% menjadi US $44 juta,secara kumulatif, EBITDA semester I-2025 diperkirakan mencapai US$ 76 juta atau 34% dari proyeksi Indopremier dan 39% dari konsensus. Kenaikan ini sejalan dengan ekspektasi adanya pemulihan produksi secara bertahap pada semester II, meski sebagian pendapatan masih ditekan oleh pemeliharaan fasilitas AIM yang berlangsung di kuartal kedua.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Harga Batubara Berpeluang Naik, Target Harga AADI Terkerek
| Jumat, 13 Maret 2026 | 15:04 WIB

Harga Batubara Berpeluang Naik, Target Harga AADI Terkerek

Analis mengungkapkan bahwa ada potensi peningkatan permintaan batubara termal dalam skenario gangguan pasokan minyak.

Suplai Pupuk Seret Akibat Konflik Geopolitik, Bakal Terjadi Krisis Pangan di RI?
| Jumat, 13 Maret 2026 | 14:21 WIB

Suplai Pupuk Seret Akibat Konflik Geopolitik, Bakal Terjadi Krisis Pangan di RI?

Dalam jangka pendek saja, banyak perusahaan petrokimia mengumumkan force majeur karena keterbatasan pasokan.

Diselidiki Regulator Bursa AS, TLKM Restatement Laporan Keuangan 2023–2024
| Jumat, 13 Maret 2026 | 14:16 WIB

Diselidiki Regulator Bursa AS, TLKM Restatement Laporan Keuangan 2023–2024

Dalam dokumen yang disampaikan kepada SEC, TLKM menyatakan bahwa laporan keuangan periode tahun 2023 dan 2024 tidak lagi dapat dijadikan acuan.

Pengeluaran Pemerintah Melonjak: BI Terjepit, Pasar Obligasi Bergejolak
| Jumat, 13 Maret 2026 | 10:34 WIB

Pengeluaran Pemerintah Melonjak: BI Terjepit, Pasar Obligasi Bergejolak

Yield SBN 10 tahun kini 6,7%, naik dari 6,2% akhir tahun lalu. Apa pemicu lonjakan ini dan dampaknya pada investasi Anda?

Pebisnis AMDK Meneguk Cuan di Bulan Ramadan
| Jumat, 13 Maret 2026 | 10:18 WIB

Pebisnis AMDK Meneguk Cuan di Bulan Ramadan

Secara umum, permintaan AMDK pada periode Ramadan tahun ini diproyeksikan meningkat sekitar 15%-20%,

Jalan Berliku Menuju Target Produksi Gula 3 Juta Ton
| Jumat, 13 Maret 2026 | 09:51 WIB

Jalan Berliku Menuju Target Produksi Gula 3 Juta Ton

Dari sisi kapasitas pabrik gula, proyeksi ini masih sangat memungkinkan untuk mencapai target ini tapi ada faktor lain yang mempengaruhinya.

Panorama Sentrawisata (PANR) Siap Gaet Lebih Banyak Turis
| Jumat, 13 Maret 2026 | 09:45 WIB

Panorama Sentrawisata (PANR) Siap Gaet Lebih Banyak Turis

Pada pilar inbound, PANR memperkuat posisi sebagai regional player dengan beroperasi di sejumlah negara, tak hanya di Indonesia,

JP Morgan dan Dimensional Fund Ambil Untung dari Saham BRMS, Prospek Masih Menarik
| Jumat, 13 Maret 2026 | 08:55 WIB

JP Morgan dan Dimensional Fund Ambil Untung dari Saham BRMS, Prospek Masih Menarik

Saham BRMS sudah tergolong premium, namun tetap di harga wajar jika memperhitungkan ekspektasi kenaikan produksi dari pabrik barunya di Palu.

Nasib Saham EMAS: Setelah Rugi Besar, Akankah Bangkit di 2026?
| Jumat, 13 Maret 2026 | 07:09 WIB

Nasib Saham EMAS: Setelah Rugi Besar, Akankah Bangkit di 2026?

Pendapatan EMAS anjlok 92% di 2025, rugi bersih melonjak 116%. Namun, Tambang Pani beroperasi 2026. Analis melihat potensi membaiknya kinerja

Permintaan Tumbuh, Prospek Emiten Susu Masih Manis
| Jumat, 13 Maret 2026 | 07:07 WIB

Permintaan Tumbuh, Prospek Emiten Susu Masih Manis

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mengantongi kinerja positif sepanjang tahun 2025

INDEKS BERITA

Terpopuler