Berita Bisnis

PTBA Jual Produk DME US$ 378 Per Ton ke Pertamina, Bisa Gantikan LPG?

Selasa, 25 Januari 2022 | 05:49 WIB
PTBA Jual Produk DME US$ 378 Per Ton ke Pertamina, Bisa Gantikan LPG?

ILUSTRASI. Presiden Joko Widodo memberikan arahan saat groundbreaking proyek hilirisasi batubara menjadi Dimetil Eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim.

Reporter: Arfyana Citra Rahayu, Azis Husaini, Filemon Agung | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bersama Air Products  dan PT Pertamina memulai proyek hilirisasi batubara dengan mengembangkan dimetil eter (DME) sebagai substitusi liquefied petroleum gas (LPG). PTBA dan Air Products  mengembangkan DME dan menjualnya ke Pertamina senilai US$ 378 per ton. Harga ini dinilai ekonomis karena harga rata-rata LPG sebesar US$ 470 per ton. 

Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menjelaskan, harga DME senilai US$ 378 per ton sudah disepakati Menteri ESDM, Menteri BUMN dan Menteri Investasi. "Harga DME dari pabrik penjual US$ 378 per ton, porsinya menjadi kesepakatan antara PTBA dan Air Products," kata dia dalam paparannya, pekan lalu.
 
Kelak, harga DME bersifat fixed price, tidak ada eskalasi harga batubara dan PSF (Process Service Fee). 
 
Presiden Joko Widodo kemarin melakukan peresmian groundbreaking pengembangan DME di Kawasan Industri Tanjung Enim atau Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE). 
Presiden Jokowi meminta agar proyek gasifikasi batubara ini dilakukan sejak enam tahun lalu. Kendati demikian, rencana tersebut baru dapat terwujud kemarin.
 
Meski demikian, kehadiran proyek ini diharapkan mampu mengurangi beban impor LPG yang cukup besar. "Kalau sudah produksi bisa kurangi subsidi dari APBN Rp 7 triliun kurang lebih," ungkap Jokowi saat meresmikan proyek ini, kemarin.
 
Jokowi menambahkan, bahkan jika seluruh LPG disetop dan digantikan produk DME, maka penghematan subsidi LPG dari APBN bisa mencapai Rp 60 triliun hingga Rp 70 triliun. Dia meminta agar proyek yang menelan investasi hingga Rp 33 triliun ini dapat tuntas tepat waktu dan tidak melebihi waktu yang direncanakan.
 
Ke depannya, Jokowi merencanakan agar proyek serupa dilakukan di daerah lain. Pasalnya proyek yang ada saat ini disebut hanya akan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat wilayah Sumatra Selatan dan sekitarnya. "Saya mengharapkan nanti setelah di sini selesai, dimulai lagi ditempat lain karena ini hanya bisa suplai Sumatra Selatan dan sekitarnya kurang lebih 6 jutaan kepala keluarga," terang Jokowi.
 
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkapkan, kehadiran proyek ini dinilai bakal turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. "Ini menghasilkan lapangan pekerjaan 12.000-13.000 dari konstruksi, kemudian sekitar 11.000 sampai 12.000 dilakukan di hilir oleh Pertamina," ungkap dia.
 
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia menilai, investasi untuk proyek gasifikasi berbeda di satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Banyak faktor penting yang berpengaruh, seperti antara lain cadangan, kondisi tambang, kemampuan finansial, logistik dan lainnya. "Juga ketersediaan offtaker yang dapat menyerap produk itu dan banyak lagi," ungkap dia, Senin (24/1).
 
Menurut Hendra, faktor serapan industri dalam negeri terhadap produk DME juga menjadi pertimbangan penting. Sehingga untuk keekonomian dari proyek tersebut bisa berbeda di satu perusahaan dan perusahaan lainnya
 
Dia bilang, proyek gasifikasi yang diinisiasi PTBA tentu akan menjadi referensi yang baik bagi rencana pengembangan investasi hilirisasi batubara di wilayah lainnya.
Pada prinsipnya APBI mendukung kebijakan pemerintah dalam mendorong program hilirisasi batubara.     


Baca juga